Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 31 - Galau di tengah hutan


__ADS_3

Setelah semua urusan di dunia siluman selesai, Yuri kembali seorang diri dengan membawa beberapa botol obat tersebut. Rang mengorbankan diri untuk kelangsungan hidup orang banyak, Yuri tahu dia orang baik. Bagaimanapun masa lalu pria itu, Yuri tetap mempercayainya. Rang menatap lurus ke arah Yuri, dia mulai membuka portal ke dunia manusia. Sekali lagi Yuri menoleh ke belakang rasanya berat sekali meninggalkan Rang.


Tapi tidak ada pilihan lain selain berpisah dengannya, dua dunia yang memang seharusnya berjalan masing-masing. Akhirnya mereka mengerti bahwa takdir mereka memang tidak bisa bersama, walaupun mereka memaksakan kehendak tentunya akan banyak menelan korban. Rang menunduk, dia tidak sanggup melihat kepergian Yuri, begitupun dengan wanita itu yang enggan menoleh lagi ke belakang. Dengan menghela napas panjang, Yuri melangkahkan kakinya masuk ke dunia manusia.


Dia berada di hutan bambu, dua batang bambu yang berdiri berseberangan sejajar seolah menggambarkan gerbang untuk ke dunia siluman. Yuri mencongkong dibawah, dia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Wanita itu tersedu menangisi perpisahannya dengan Rang. "Bagaimana aku bisa hidup dengan ingatan ini Rang?"


Sebelum kepergiannya, Yuri meminta Rang untuk tidak menghapus kenangan dan ingatan mereka. Walau sakit, Yuri ingin menyimpannya sebagai kisah cinta paling indah yang pernah dia miliki. Yuri masih menangisi perpisahan mereka, awan gelap yang sudah ada di atas kepalanya. Hujan mengguyur secara perlahan. Kenapa hujan turun di situasi yang sangat tepat? Sehingga Yuri bisa menghapus air matanya dengan hujan.


"Biarlah hujan menghapus jejakmu, Rang." gumam Yuri. Tidak lama dia berjalan keluar dari hutan yang tidak jauh dari jalan raya. Dia langsung menelepon Sean untuk menjemputnya. Karena kemungkinan besar bus akan sulit ditemukan di daerah itu. Hanya menunggunya beberapa menit, Sean datang dengan mobil Rover miliknya. Dia melihat Yuri yang basah kuyup sehingga membuka jaket miliknya dan memasangkannya pada Yuri.


"Dimana pria itu?"


"Kau mengingatnya?" Yuri mengerutkan alis, dia merasa bingung karena seharusnya Sean tidak mengingat soal Rang. Hujan itu kemungkinan besar bersumber dari dunia siluman. Untuk meluluh lantahkan ingatan orang mengenai Rang.


"Jika begini, apa artinya hubungan kita sebelumnya tidak pernah ada Rang?" Yuri membatin, dia menoleh ke arah luar jendela saat Sean memerhatikannya agak lama.


"Yuri, apa kau lapar? Kau ingin makan?"


Yuri menggeleng, dia hanya ingin segera pulang dan memberikan obat pada Byul. Sesampainya dirumah, bu Kimi dan Nara menyambutnya. "Kau berhasil mencarinya dihutan?"


Yuri mengangguk "Ya, ini obatnya. Satu botol ini juga untuk orang tuamu!"


Yuri segera menuju kamar Byul, dia segera memberi ekstrak bunga kaleana itu pada adiknya.

__ADS_1


"Bu Yuri, terimakasih atas obatnya. Aku akan pulang dulu, terimakasih atas bantuanmu. Aku akan menunggumu di kantor besok." kata Nara sembari memberi salam pada Yuri.


Yuri mengernyitkan dahi. Sepertinya Rang membuatnya menjadi pemilik perusahaan pria itu juga harta kekayaannya yang tercatat secara hukum. Yuri mendengus pelan, "bagaimana bisa aku menanggung beban ini sendirian Rang?"


Tidak lama, Byul terbatuk dan mengeluarkan darah. Sebuah telur utuh besar keluar dari mulut Byul, kemungkinan hal itu yang membuat perut Byul membesar. Yuri memberikan sisa obatnya pada bu Kimi untuk di kirim ke setiap rumah sakit. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Byul, kakak sangat senang." Yuri memeluk Byul.


Setelah Byul sadar, dia tidak lupa untuk mengucapkan terimakasihnya pada bu Kimi dan juga Sean. Setelahnya, Yuri mulai berbenah membersihkan rumah Rang yang terlihat kotor. Setiap sudut rumah itu, tentunya mengingatkan Yuri pada Rang. Dia menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pikirannya pada yang lain.


Yuri berjalan masuk ke kamar Rang, ajaibnya kamar itu terlihat seperti tidak pernah terisi sama sekali. kasurnya masih rapih dengan sprei yang terpasang. Segalanya tetap sama, dunia tetap berjalan tanpa Rang. Namun Yuri, dia merasa sebagian dirinya telah hilang.


"Apa kau baik-baik saja disana?" gumam Yuri.


Krak krak


Kaki Rang menginjak beberapa ranting kayu yang mati. Dia melihat dahan pohon yang besar sehingga melompat ke atas sana untuk sekedar duduk diatasnya. Dengan pencahayaan bulan sabit, Rang menggalau di tengah hutan dengan sebotol arak. Rang ingat, bahwa dia membawa ponselnya ke dunia siluman. Dia membuka ponsel itu dan melihat beberapa foto di kameranya.


"Kenapa tidak ada foto kita bersama? Jika tahu begini, aku akan meminta foto yang banyak. Signal juga tidak ada, apa aku harus meminta ayah membangunkan tower disini?" Rang tertawa kecil menatap batu yang dipegangnya. Dia sudah mabuk berat, sehingga menganggap batu itu sebagai ponsel miliknya.


Rang menghela napas kemudian melempar batu itu sembarangan.


"Aduh!" seru seseorang.

__ADS_1


"Rang, kenapa kau sangat sembrono?" pria tadi mengelus kepalanya yang kesakitan, dia ikut melompat ke atas dahan yang Rang duduki. Pria itu kini duduk di sampingnya.


"Maaf," kata Rang dengan acuh tak acuh. Dia menanggak minumannya lagi.


"Kau mabuk? Ku dengar kau membawa kekasih manusiamu kesini. Mana dia?"


"Kenapa kau mengingatkanku padanya? Dia sudah pergi, kata orang cinta kami tidak akan berhasil. Ah persetan itu semua, yang kumau hanyalah YURI. Yuri kemarilah sayang!" Rang memeluk pria yang ada disampingnya.


"Rang! Kau sudah gila? Lepaskan aku!"


Pria itu adalah teman Rang di dunia siluman, dia seekor siluman tupai bernama Jun. Pria itu pernah beberapa kali ke dunia manusia dan bertemu dengan Rang. Jun kini menatap temannya dengan iba. "Rang, ku dengar pemimpin siluman ular sudah bereinkarnasi kembali. Mereka mencari manusia untuk menyembah mereka dan memperkuat kekuatan."


Rang langsung menoleh ke arah Jun dengan alis berkerut. "Tidak mungkin, aku membunuhnya dan membuatnya tidak bisa bereinkarnasi lagi!"


"Kau pasti tahu, dia bisa terlahir kembali saat dibutuhkan oleh manusia. Ku rasa, ada manusia yang sengaja membangkitkannya kembali. Semua siluman bisa terlahir kembali dengan pengorbanan jiwa kan?"


"Dari mana kau mendengar rumor ini?" Rang menaikan sudut alisnya.


"Aku tidak sengaja mendengar percakapan para siluman ular di lembah hitam."


"Mereka juga menyebutkan tentang reinkarnasi dewi Nirwana. Jika siluman ular bisa bersatu dengan reinkarnasi dewi itu, maka dia tidak perlu mengumpulkan pengikut untuk menguasai dua dunia. Kekuatannya sudah cukup besar untuk menghancurkan kita yang ada di dalamnya."


Rang memicing tajam. "Dimana siluman sialan itu berada?"

__ADS_1


"Tidak ada yang tahu, dimana dia berada Rang."


__ADS_2