
Rang masih sangat terkejut karena kepergian Suho. Dengan balutan jas serba hitam pria itu tertunduk lesu menerima beberapa tamu yang datang.
Di sampingnya, ada Yuri yang ikut menemani. Banyak kolega perusahaan yang datang ke acara penghormatan terakhir Suho.
Sampai saat seorang pria melenggang masuk ke dalam ruangan itu. Rang menatap pria tadi dengan penuh kebencian.
"Aku turut berduka," katanya sembari menepuk pundak Rang.
Kemudian, pria itu menoleh ke arah Yuri.
"Kau siapa?"
Sebelum Yuri menjawab, Rang sudah menyela ucapannya.
"Pergilah dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!"
"Bukankah aku harus menghibur adikku yang sedang bersedih?" Pria itu tertawa kecil pada Rang, namun Yuri menarik lengan jas Rang agar pria itu mau lebih sopan terhadap tamu.
Rang mendelik ke arah Yuri, dia sangat membenci keadaan sekarang.
"Maaf, kau kakaknya Pak Rang?"
Pria tadi mengangguk, "dia adalah adik kesayanganku. Tapi sepertinya dia tidak menyambutku dengan baik. Kalau begitu aku pergi dulu, senang bertemu denganmu.. Yuri."
Mata Yuri membulat saat mendengar pria itu menyebutkan namanya.
"Dari mana dia tahu namaku?" Batin Yuri.
"Pak Rang, dia bilang dia kakakmu. Kenapa kau bersikap seperti itu?"
"Yuri!" Seru Rang.
"Kau sungguh menyebalkan, jadi berhenti ikut campur tentang kehidupanku jika kau tidak ingin aku usir dari rumah! Aku tidak hanya akan menggertak, aku bisa mematahkan tulang lehermu jika kau terus bersikap seperti itu!" Rang memicingkan matanya tajam.
"Maafkan aku pak," kata Yuri tertunduk.
Setelah dua jam acara selesai, keheningan mulai terlihat di rumah duka tersebut. Rang masih duduk di depan meja dengan dua botol alkohol di depannya.
Yuri memutuskan untuk mencuci tangan ke kamar mandi. Disana, dia agak mengingat sekilas memori waktu itu.
"Kenapa aku merasa pernah ada disini?" gumamnya.
"Tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali, jelas sekali bahwa aku memakai pakaian berkabung dan pergi ke kamar mandi." dia mulai merasa curiga dengan semua hal yang dia alami.
Setelah mencuci tangan, Yuri kembali menemui Rang yang masih menenggak alkohol.
"Pak Rang!" seru Yuri.
Rang mendangak menatap Yuri yang berdiri di depannya.
"Apa? Kau mau melarangku meminum ini? Cih, kau cerewet sekali." cibir Rang pada Yuri.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan seperti ini?"
"Sampai tuhan mencabut kutukan ini!" kata Rang yang membuat Yuri semakin bingung.
Dari kejauhan, seorang pria menyaksikan kedekatan mereka berdua.
"Sekuat apapun dia mencoba memisahkan mereka, mereka tetap akan berjalan pada takdirnya sendiri." kata pria itu.
Yuri masih menatap Rang dengan sendu. "aku tidak akan menghentikanmu. Tapi setidaknya mari kita pergi darisini, aku merasa tidak nyaman berada disini."
"Kenapa? Kau takut arwah jahat mengejarmu lagi?" kata Rang sembari tertawa kecil, dia terlihat sudah mabuk.
Perkataan Rang membuat Yuri sadar akan kejadian hari itu, dia yakin setelah acara berkabung ibu tirinya selesai, dia mengalami hal aneh.
Yuri menatap ke arah Rang sembari mengerutkan dahi. Tapi, dia tetap tidak ingat tentang bagaimana dia bisa sampai ke rumah Rang malam itu.
Yuri mendengus pelan kemudian membantu Rang berdiri untuk pulang ke rumah.
Acara Suho hanya dihadiri beberapa kerabat dekat dan beberapa kolega perusahaan, tidak ada tamu lain selain itu karena acaranya sangatlah tertutup walaupun Rang termasuk orang terpandang dikalangan sana.
Entah kenapa, hal itu membuat hati Yuri merasa curiga.
Sesampainya di rumah, Yuri sangat kesulitan membangunkan Rang yang sedang tertidur pulas. Wanita itu berusaha sekuat tenaga membopong Rang sampai masuk ke dalam rumah.
Saat di ambang pintu, tangan lain di belakang menyentuh tangannya.
Yuri yang terkejut, mengerjap sembari menoleh ke belakang.
"Kak, tolong bantu aku. Aku tersesat di jalanan ini, dan aku merasa sangat haus. Bolehkan aku meminta minum? " ucap gadis belia sembari menyeringai.
"Aku akan membantumu membawa pria ini masuk ke dalam rumah," katanya sembari ikuti membantu.
"Tidak perlu, kau tunggu saja disini. Aku akan mengambilkanmu segelas air." jawab Yuri.
"Tapi, kau terlihat kesulitan kak, biar aku bantu." akhirnya Yuri menyetujui bantuan gadis belia dengan seragam sekolah tadi dan mereka pun masuk ke dalam rumah.
Setelah membawa Rang masuk ke kamar, Yuri menyiapkan minuman untuk gadis yang kini sedang duduk di ruang tamu.
"Oh iya, kenalkan namaku Jessi."
"Namaku Yuri, silahkan diminum!" jawab Yuri sembari menaruh minuman di meja.
"Kakak sudah berapa lama tinggal disini?"
"Baru hari ini." jawab Yuri sembari mulai mencurigai gadis itu.
"Apa menyenangkan tinggal disini? Ku dengar pemiliknya bukanlah manusia." kata gadis itu mencondongkan diri pada Yuri.
Yuri mendengus pelan, "apa maksudmu?"
"Kau akan tahu sendiri nanti," kata gadis itu sembari menyeringai.
__ADS_1
Karena merasa bahwa gadis itu mencurigakan, akhirnya Yuri memintanya untuk pergi.
"Kurasa, aku harus pergi membersihkan diri dulu. Kau lebih baik pulang, ini sudah larut malam, tidak baik anak seusiamu berkeliaran selarut ini. Silahkan dinikmati dulu minumannya." karena merasa curiga, Yuri berjalan kemudian diam-diam menaruh ponselnya diantara vas bunga dan merekam gerak-gerik gadis itu.
"Kakak memintaku pulang selarut ini?"
Yuri semakin menyesal membiarkan gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Ya, silahkan pulang!" Yuri berdiri dan mulai merasa tidak tenang.
"Kenapa kakak tega? Bukankah ini sudah larut malam untukku?"
Yuri menghela napas panjang, dia menarik lengan gadis itu dan hendak membawanya keluar.
Namun, tangan yang lain gadis itu menahan Yuri dengan kuat. Pegangannya bukan seperti anak remaja biasa sehingga Yuri langsung mendelik ke arah gadis itu.
"Siapa kau?" tanyanya.
"Kakak tidak lihat? Aku hanya gadis remaja yang butuh pertolongan, kakak tidak seharusnya memperlakukanku seperti ini." jawab gadis itu berlaga seperti seorang psikopat.
"Lepaskan aku! Dan siapa kau sebenarnya?" Yuri meninggikan nada suaranya.
Gadis itu tertawa kecil dan menunduk, seketika wujudnya berubah menjadi orang yang dia temui di rumah duka tadi.
Yuri terkejut sampai dia mengira bahwa matanya sudah salah melihat.
"Kau!"
Hanya sepersekian detik rahang Yuri di tekan keras oleh pria itu.
"Namaku Yon, ingat itu!"
"Aw, lepaskan!" seru Yuri pada Yon.
"Bukankah kau kakak dari Pak Rang? Kenapa kau melakukan ini padaku!" lanjutnya.
Yon mengangkat Yuri dengan satu tangannya, sehingga sekarang dia menggantung agak tinggi dengan rahang yang masih di pegang kuat oleh Yon.
Yuri mulai terbatuk, napasnya mulai tersendat dan dia kira malam itu adalah malam terakhirnya hidup.
"Byul.. Maafkan kakak, karena tidak bisa menjemputmu." batin Yuri.
Setelah Yuri merasa waktunya hampir sebentar lagi, tiba-tiba saja serangan kuat melempar Yon langsung keluar dari rumah itu lewat dinding kaca rumah Rang.
Namun, Yuri juga ikut terpelanting dan menabrak laci yang tersudut di dinding.
Semua pecahan dinding kaca berserakan di rumah itu.
Rang keluar melewati pecahan dinding kaca rumahnya dan menghampiri Yon dengan penuh amarah.
"Hai, adik!" kata Yon sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Brengsek!" Mata Rang berubah menjadi terang, begitupun dengan pria yang menjadi lawannya.
Yon masih mencari celah untuk kembali menyerang Yuri, tapi untunglah Rang lebih cepat darinya sehingga dia bisa menahan setiap serangan itu.