Pengantin Rubah

Pengantin Rubah
Episode 6 - Menguntit


__ADS_3

Rang nampak marah, pria itu hendak menghajar kakaknya sendiri. Kakak berbeda ibu, pria di hadapannya seratus persen rubah berekor sembilan.


Pria itu memang tidak menyukai Rang sejak ia lahir.


"Adik, lepaskan aku. Aku masih kakakmu," pria itu menyeringai kearah Rang.


"Aku tidak pernah ingin memiliki saudara sepertimu!" kata Rang dengan geram.


"Kau tidak boleh berbicara seperti itu, bukankah di dalam tubuh kita mengalir darah yang sama?"


"Aku akan membunuhmu!" Rang mendorong sang kakak hingga tersudut.


"Jika kau membunuhku, kau tidak akan pernah tahu keberadaan Auramu itu."


Mata Rang membulat, dia kembali mengeratkan kepalan ke kemeja pria itu.


"Kau tahu sesuatu? Katakan!" ujar Rang dengan penuh amarah.


Pria itu mengejek Rang dengan menggerakan jarinya kearah bibir seolah mengunci mulut dan tidak akan memberitahu Rang.


"Bukankah kau sudah sedekat itu dengannya?" Pria itu melepaskan jeratan Rang.


Dia mundur menjauh dari Rang, sedangkan Rang masih tertegun mencoba memecahkan arti perkataan sang kakak.


"Jangan putus asa." katanya mengejek kemudian pergi.


Rang mengehela napas panjang, dia mengerutkan alisnya mengerang kesal.


"Argh sialan!"


Kemudian Rang meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat dimana mobilnya terparkir. Selama dalam perjalanan, Rang memikirkan perkataan sang kakak.


"Nara?" gumamnya.


[Lepaskan aku! Aku akan membayarnya tenang saja!]


Rang menghentikan langkah saat telinganya berdengung mendengar suara asing.


[Lepaskan!]


Rang dengan jelas mendengar teriakan asing itu lagi di telinganya.


Dia pun bergegas pergi ke sumber suara yang seolah sedang memanggilnya.


***


"Heh Yuri, jika tidak di usir begini kapan kau akan membayar biaya sewanya?" tanya seorang pria bertubuh kekar dan seorang kakek tua di belakangnya.


Itu adalah pemilik rumah yang di sewa oleh Yuri.


"Tapi tolonglah, izinkan aku bertahan beberapa hari saja dan katakan pada anak buahmu ini untuk melepaskanku atau aku akan-"

__ADS_1


"Atau apa? Kau akan apa huh?" Tanya pria kekar tadi.


"Atau aku akan memanggil bosku! Kau tahu bosku adalah orang yang berkuasa, dia kaya raya bahkan jika dia mau, dia bisa membeli rumah ini bersama dengan harga dirimu!" Yuri menajamkan pandangannya ke arah pria itu sedangkan, kedua tangannya masih di pegang erat oleh anak buah mereka.


Bukannya meminta maaf dan memohon, Yuri malah mengancam pria-pria tadi.


"Aishh, dasar banyak omong seharusnya kau berlutut memohon keringanan dariku sialan! Kau pasti berbohong lagi, sudah keberapa kali kau menunggak pembayaran sewa. Kau benar-benar membuatku naik darah. Jika kau bukan perempuan sudah pasti ku-" pria tadi mendekat dan mengacungkan telapak tangannya dekat ke wajah Yuri.


Namun dengan cepat pria lain datang menahan tangan itu, sembari menyeringai dan menatap tajam tangan yang hampir mengenai wajah Yuri.


"Pak Rang," gumam Yuri.


"Jangan menyentuhnya, atau aku akan menggusur habis rumahmu." Kata Rang sembari menyeringai.


"Hei! Kau siapa brengsek? Beraninya ikut campur." Pria itu melepaskan tangannya dan mencoba memukul Rang.


Tapi gerakan cepat Rang mampu menahan kepalan tangan itu dan dengan mudah dia membalikan keadaan dengan memelintir tangannya.


"Aw aw sakit! Tolong lepaskan!"


Rang menyunggingkan senyuman, "minta maaflah padanya dan suruh anak buahmu melepaskan pegangan kotor itu darinya!"


"Baiklah, kalian lepaskan wanita itu! Yuri maafkan aku, kau boleh menempatinya lagi jika mau, ku beri gratis satu bulan." katanya sembari sesekali melihat ke arah Rang dengan takut.


Yuri menarik kedua lengannya dengan kasar dan membersihkan diri seolah tangan pria-pria tadi memang kotor.


"Tidak mau! Aku akan mencari rumah sewaan yang lebih baik, lebih bagus dan lebih nyaman dari ini!"


Rang tertawa kecil, "kau beruntung hari ini, jika sampai bertemu denganku lagi, sapalah aku." Rang menepuk pundak pria itu dan berlalu dari sana, sedangkan Yuri memberikan tatapan mengejek pada orang-orang tadi seraya membawa tas dan barang-barangnya.


"Pak Rang tunggu!" kata Yuri sembari berlari.


"Terimakasih atas bantuanmu," lanjut Yuri.


"Kau selalu merepotkan," kata Rang tanpa menoleh ke arah Yuri.


"Terimakasih, kau baik sekali." Yuri menatap Rang dengan sumringah.


Rang menghentikan langkah kakinya.


"Bukankah kau pernah mengumpat di belakangku?"


Rang berjalan mendekat ke arah Yuri sampai gadis itu mundur beberapa langkah.


"Ah waktu itu, karena aku kesal atas sikapmu. Maafkan aku." Jawab Yuri sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Tapi, darimana kau tahu?" lanjutnya.


"Hei! Tidak penting darimana aku tahu! Yang pasti jangan melakukannya lagi jika kau tidak ingin bernasib sama seperti pria tadi." Rang memutar bola matanya lalu berjalan mendahului Yuri.


Yuri mengangguk, kemudian mengikuti Rang lagi dari belakang.

__ADS_1


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Hm, karena kau sudah menolongku."


Rang menggeleng lalu kembali berjalan, sedangkan Yuri masih terus mengikutinya.


Sesampainya di depan mobil Rang menoleh malas ke arah Yuri. "Kau akan terus mengikutiku huh?"


"Hehe, bukankah kau menawariku untuk tinggal di rumahmu tadi pagi? Apa penawarannya masih berlaku?" tanya Yuri dengan ragu.


Rang mendengus pelan, dia menggaruk alisnya.


"Sudah tidak berlaku, jadi pergi sana!" Rang masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Yuri sendirian.


Namun Rang tetap memerhatikan Yuri dari kaca spion. Dia menghidupkan mesin mobil kemudian kembali menatap wajah Yuri yang sendu.


"Aish," kata Rang dengan risih.


Dia membuka jendela mobilnya, "naiklah cepat, sebelum aku berubah pikiran lagi!"


Mendengar ucapan Rang, mata Yuri langsung membulat. Dia merasa senang sehingga dia langsung berlari dan menaruh tasnya di bagasi dan masuk ke dalam mobil.


Yuri duduk di samping Rang dan memakai sabuk pengamannya.


"Sekali lagi, terimakasih." kata Yuri sembari mengangguk ke arah Rang.


Rang mendengus tanpa menjawab sepatah katapun.


Rang yang awalnya akan pergi ke kantor, kini jadi kembali ke rumah untuk mengantarkan Yuri.


Sesampainya di rumah, Rang menemui Suho dan meminta pria itu untuk mempersiapkan kamar untuk Yuri.


"Aku pergi ke kantor dulu," kata Rang sembari berjalan pergi dari rumah.


Sedangkan Yuri sedang di arahkan oleh Suho ke kamarnya.


Di perjalanan Rang terus memikirkan kejadian aneh tadi, dimana dia bisa mendengar suara Yuri sejauh itu.


"Aneh," gumamnya.


"Dia tidak memiliki permata rubah, namun kenapa rasanya semuanya selalu terikat dengannya. Bahkan, aku tidak pernah sekalipun mendengar apapun atau bertemu dengan Nara tanpa sengaja. Tapi, kenapa dengan Yuri?"


"Argh sudahlah, aku benar-benar pusing memikirkannya. Mungkin saja karena gadis itu yatim piatu, sehingga naluriku mengatakan aku harus menolongnya. Bukankah begitu Rang? Jadi tidak perlu dipikirkan." katanya pada dirinya sendiri.


Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya Rang sampai di kantor. Dia segera berjalan menuju ruangannya.


Saat hendak masuk ke ruangan, Rang melihat Nara dengan rambut tergerai cantik sedang bekerja dengan serius di mejanya.


"Selamat pagi Pak Rang, kau baru sampai. Ingin ku buatkan kopi?" tanya Nara sembari tersenyum manis.


Rang menggeleng, "tidak perlu, fokuslah pada pekerjaanmu!" seru Rang kemudian dia masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2