
"Daripada disini lebih baik kau menyelamatkan gadis berwajah kekasihmu itu, siapa tahu dia memiliki permata rubah itu bukan?" Yon menyeringai tajam ke arah Rang.
"Nara? Jangan berani menyentuhnya sedikitpun!" Mata Rang membulat dan siap untuk menghantam Yon lagi.
"Waktunya tidak lama," Yon berjalan cepat dan menyatukan pandangan matanya dan mata Rang.
Disana terlihat sekilas Nara yang sedang berjalan di atas rooftoop perusahaan Rang sendirian.
Nara terlihat terhipnotis dan tidak sadar bahwa dia berjalan hampir ke sisi gedung tinggi itu.
"Brengsek!" dengan sekelibatan Rang pergi dari tempat itu ke kantornya.
Yon hanya tertawa kecil melihat kepergian Rang dan berjalan menghampiri Yuri lagi.
Rang yang tengah panik sudah muncul secara tiba-tiba di depan Nara dan segera menahannya agar ia tidak terjatuh. Nara terkulai lemas dalam pelukan Rang, wanita itu pingsan.
Rang mempertahankan ketidaksadaran wanita itu agar dia tidak mencurigai Rang yang kini menggunakan kekuatannya, Rang membawa Nara ke ruangannya untuk beristirahat disana.
"Yuri." Gumam Rang mengingatnya, dia pun menelepon Kimi supaya memeriksa keadaan Yuri di rumahnya.
"Bu Kimi, tolong periksa keadaan seseorang di rumahku. Untuk sementara waktu tolong rawat dia."
"Baik tuan," jawab bu Kimi yang terdengar lewat ponsel Rang.
Sedangkan Rang masih menatap Nara yang masih terkulai lemas. Pria itu duduk di dekatnya menatap lekat wajah yang dulu sangat dia cintai itu.
Tidak lama, mata Nara mulai berkedip dengan perlahan. Dia menatap Rang agak lama.
"Pak Rang?" kata Nara dengan lirih.
"Ya, kau ada di ruanganku sekarang. Tadi, kau pingsan." kata Rang sembari memerhatikan Nara agak dekat.
"Aku tidak ingat kenapa aku bisa sampai kesini, tapi yang jelas jika kau terus memperlakukanku seperti ini aku mungkin akan jatuh cinta padamu." kata Nara dengan lembut.
Wanita itu tiba-tiba menarik dasi Rang agar mendekat ke arahnya. Sehingga bibir keduanya kini melekat bersama. Rang yang masih tertegun tidak melakukan apapun selain menatap Nara yang mulai memejamkan matanya.
Tangan Rang menahan kepala Nara agar mendekat ke arahnya, diapun memejamkan mata dan mencium wanita itu.
Rang terbawa suasana karena Nara benar-benar mengingatkannya pada kekasih masa lalunya.
Namun, saat ciuman itu terjadi Rang tidak merasakan apapun didalam tubuh Nara, setelah beberapa menit dia sadar bahwa Nara tidak memiliki permata rubah miliknya, pria itupun melepaskan ciumannya.
"Maafkan aku," kata Rang sangat menyesal.
Kemudian, ponsel Rang pun berdering.
__ADS_1
"Tuan Rang, gadis ini tidak sadarkan diri!" ujar Kimi lewat telepon.
Dengan panik Rang langsung bergegas pergi, "Nara istirahatlah dulu disini. Aku ada urusan lain."
Rang berlalu pergi dengan berlari meninggalkan Nara, sedangkan gadis itu mendengus kecewa.
Sesampainya di rumah, Rang langsung memeriksa keadaan Yuri yang terbaring di tempat tidur.
Tangan gadis itu terluka sehingga Kimi mengobatinya dan juga membalut luka itu dengan perban.
"Tuan Rang, lihatlah! Wajahnya sangat pucat."
Rang segera melihat keadaan Yuri.
"Jiwa Yuri tidak ada di tubuhnya." batin Rang.
Dengan geram pria itu menahan amarahnya, kini dia tahu bahwa Yon sudah menjebaknya dengan dua pilihan. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Nara mati jatuh dari gedung tadi.
Rang duduk di pinggir tempat tidur, menggenggam tangan Yuri yang sudah sangat dingin.
"Bagaimana ini Tuan Rang? Apa aku harus memanggil dokter?"
Rang menggeleng, "tidak perlu."
Rang tahu, satu-satunya cara agar jiwa Yuri kembali adalah dengan pergi ke dunia siluman. Dia yakin, bahwa Yon diperintahkan sang ayah untuk melakukan itu.
"Kimi, terimakasih atas bantuanmu. Ada satu hal lagi yang ingin aku minta padamu. Apa kau tahu tentang ritual pemanggilan jiwa?" tanya Rang mencoba cara selain menemui sang Ayah.
Kimi menggeleng, "ritual itu sangat berbahaya. Lagipula apa yang terjadi? Apa gadis ini kehilangan jiwanya?"
Rang mengangguk, "sepertinya jiwa Yuri sedang ada di tempat lain. Aku tidak tahu dimana, yang jelas jika terlewat dalam 24 jam dia akan terkurung disana selamanya dan dia benar-benar akan mati. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Lebih baik kau tenangkan diri dulu, kita tunggu sampai besok pagi. Jika dia masih seperti ini kurasa tidak ada cara lain selain melakukan ritual."
"Terimakasih atas bantuanmu, aku akan menjaganya." Rang membiarkan Kimi pergi darisana.
Pria itu merasa sangat menyesal karena meninggalkan gadis itu sendirian saat Yon masih di sekitarnya. Dia bertekad untuk mencari pria itu namun, waktu yang ia miliki untuk menyelamatkan Yuri tidak banyak.
Jika dia tidak segera pergi ke dunia siluman, Yuri akan mati.
"Yuri, kau dengar aku? Aku pasti akan menyelamatkanmu. Jadi, bertahanlah!" kata Rang sembari berdiri.
Dia pun membuka portal ke dunia siluman dengan kekuatannya, pria itu melangkah masuk ke dalam lemari pakaian yang kini sudah terlihat berbeda dari sebelumnya.
Portal yang dia buat bisa langsung membawanya ke dunia siluman dimana, disanalah ayahnya berkuasa.
__ADS_1
Setelah melewati portal, kini Rang berdiri di sebuah wilayah tidak kasat mata di tengah hutan. Dia berjalan menuju istana besar milik sang ayah.
"Tetap disana!" Para penjaga menghalangi Rang dengan dua tombak yang menyilang.
Rang menaikan sudut alisnya. Tanpa peringatan, pria itu langsung menghajar setiap penjaga yang menghalanginya masuk.
Terdapat 10 penjaga yang dengan mudah Rang kalahkan. Kekuatannya sebagai rubah ekor sembilan memang luar biasa.
Sehingga, sang ayah yang awal menolak Rang karena terlahir dari seorang manusia kini mencoba untuk membawa Rang ke dunia mereka.
Karena kekuatan Rang lebih dari rubah pada biasanya.
Ayahnya ingin Rang memimpin para siluman menggantikan dirinya. Sedangkan, Yon cemburu karena hal itu. Dengan segala cara ayah Rang ingin membawa putranya itu keluar dari dunia manusia.
Dan kini, Rang sudah berada di dalamnya.
Rang melewati beberapa penjaga dengan mudah, kini dia masuk dan menendang pintu menuju singgasana raja siluman.
"Yon!" Gema Rang di seluruh ruangan.
Di atas sana, terlihat Yon dan ayah Rang saling bertukar tatap dengan senyuman.
"Akhirnya, putraku datang! Kau bahkan mengalahkan para prajuritku dengan mudah Rang!"
"Dimana kalian sembunyikan jiwa Yuri?" teriak Rang pada mereka dan beberapa orang lainnya.
"Santailah adik, ayah sangat senang kau datang menemuinya." kata Yon sembari tertawa kecil.
"Kau! Aku pasti akan membunuhmu! Aku tidak akan segan membunuh kalian semua."
"Rang! Ingatlah, kutukanmu..." ujar sang Ayah.
"Kau ingat? Kau sudah membantai warga desa yang tidak bersalah karena emosimu 600 tahun lalu."
Rang sadar akan kesalahannya waktu itu.
"Sehingga gadis kesayanganmu itu diberi penyakit langka oleh sang maha kuasa yang akhirnya merenggut nyawanya. Kau ingat kan? Apa kau ingin gadis ini bernasib sama sepertinya dulu?"
"Kutukanmu adalah menderita dengan melihat orang yang kau sayangi mati di hadapanmu. Maka dari itu, aku menyelamatkannya sebelum itu terjadi." lanjut ayahnya.
"Dia tidak ada kaitannya dengan masa laluku, lagipula dia bukan gadis itu! Dia bukan kekasihku!" Rang memekik keras sembari mendelik tajam.
"Dia belum tahu?" sang Ayah menoleh ke arah Yon.
"Kurasa belum," jawab Yon singkat.
__ADS_1
"Apa yang tidak ku ketahui huh?" tanya Rang semakin emosi.