
"Syarat? Apa syaratnya?"
"Yuri!" ujar Rang sembari menatap wanita itu sendu. Dia menggeleng untuk mengisyaratkan tidak.
"Syaratnya, kau harus melepaskan Rang. Aku dan pengawalku akan membantu mencari bunga kaleana." jawab Raja siluman.
"Itu syarat yang sulit bagiku, maka dari itu aku ingin bunga kaleana yang banyak sehingga kita akan impas. Aku ingin menolong beberapa manusia lain yang terkena penyakit aneh ini." Yuri menatap mata Raja siluman dan memberinya permintaan lain, melepaskan Rang tidak akan begitu mudah baginya jadi imbalannya harus sesuai.
"Kau pintar dalam bernegosiasi, tentu saja. Yon akan memimpin pencarian bunga kaleana. Apa yang bisa membuatku percaya bahwa kau akan menepati janjimu Yuri? Seperti yang sudah-sudah, si pangeran rubah itu membohongi ayahnya sendiri sekalipun dia sudah berjanji."
"Cih, kau berlebihan! Bedakan antara menunda dan mengingkari. Aku memang akan menepati janjiku setelah urusanku di dunia manusia selesai." Rang memutar bola matanya kesal.
"Yuri? Kau yakin akan melepaskan pria tampan, kaya, baik hati sepertiku?" tatapan Rang membulat ke arah Yuri.
"Apapun akan kulakukan demi adikku."
"Yang Mulia, dengan ini aku melepaskan Rang dan berarti urusannya di dunia telah selesai. Dia akan tinggal di istana ini selagi aku mencari bunga kaleana. Dengan begitu janjinya padamu telah di tepati." Yuri menyeringai.
"Kau sangat pintar, aku menyukaimu tapi sayang sekali kau tidak bisa menjadi pendamping putraku. Jadi kuharap pencarian bunga ini akan segera selesai." Yang Mulia Raja tersenyum ke arah Yuri.
Sedangkan Rang menatap wanita itu dengan penuh kekesalan, dia mendengus kesal kemudian meninggalkan Yuri disana bersama yang lain. Rang berjalan pergi ke kamarnya.
"Yuri, Yon dan pengawal yang lain akan membantumu mencari bunga kaleana. Tapi kurasa kau tidak perlu ikut, diamlah di istana dan nikmati pemandangan disini."
"Terimakasih, aku tidak menyangka kau sebijak ini Yang Mulia." Yuri memberi hormat dengan menekukan lutut dan menunduk.
"Aku memang seperti ini, aku sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dikasihi." kata Raja siluman sembari membanggakan diri.
Yuri hanya menyeringai, dia tidak banyak bicara lagi. Sedangkan Yon dan pengawalnya segera mencari bunga kaleana. Setelah perbincangannya dengan raja selesai, Yuri berjalan menyusuri istana megah yang dia datangi, banyak pengawal di setiap sudut. Namun tatapan mereka pada Yuri sangat sinis dan tajam. Ini kemungkinan besar karena Yuri adalah seorang manusia. Seketika pintu terbuka di hadapannya, pergelangan tangan Yuri tertarik dengan keras dan pintu pun menutup dengan cepat.
__ADS_1
"Teganya kau melepaskan kekasihmu yang tiada banding ini?" Rang menyudutkan Yuri ke dinding. Dia menatap Yuri dengan tajam, rambut dengan potongan modern itu terlihat sangat cocok padanya.
"Ish, bukannya ini rencanamu?" Yuri mendorong Rang dan melepaskan diri dari jeratannya.
Rang menyeringai. "Kau benar, ternyata kau aktris yang hebat. Aktingmu bagus sekali."
"Sebenarnya jika kau tidak punya rencana secerdik ini, aku tetap akan melakukannya hehe." Yuri menyeringai dengan mata yang agak mengecil, sedangkan mata pria di hadapannya membulat.
"Yuri!" geram Rang kemudian di sambut tawa dari Yuri.
"Aku tidak menyangka ayahmu akan mudah tertipu dengan rencana kita."
"Hm, bagaimanapun dia pernah berhubungan dengan seorang manusia. Aku rasa dia jadi terbiasa menggunakan sedikit perasaannya." Rang menatap mata Yuri.
"Selagi kita disini, bagaimana kalau.."
"Yak! Kau tidak tahu situasi!" sahut Yuri sebelum Rang melanjutkan ucapannya.
"Mari jalan-jalan!"
"Tidak-tidak! Kau tahu betapa sinisnya orang-orangmu menatapku? Bukankah ini sangat membuat mereka kesal? Kau membawa manusia ke duniamu dan kini mengajaknya keliling istana?" Yuri menggeleng.
"Baiklah kalau kau lebih suka berada di dalam kamar, tapi jangan salahkan aku jika.."
"Baik, ayo kita jalan-jalan keluar. Aku penasaran ada berapa macam siluman disini." Yuri melenggang pergi lebih dulu sedangkan Rang hanya tertawa kecil kemudian mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan keluar istana, melihat halaman depan yang di penuhi bunga-bunga cantik.
"Indah sekali!"
"Tidak! Ini tidak seindah dirimu."
__ADS_1
Yuri menoleh pada pria di belakangnya, dia merasa selesai dengan setiap godaan Rang hari ini. "Apa ada kerajaan lain di dunia ini? Atau bagaimana?"
"Jika kau melihatnya dari atas, ada sedikit wilayah yang menghitam. Disana sumber sihir hitam dan siluman jahat tinggal. Obsesi mereka adalah menguasai dunia siluman dan juga dunia manusia. Sehingga tidak jarang mereka mengganggu manusia. Ayahku sendiri tidak sebaik itu, namun kerajaan kami mempunyai aturan sesuai arahan penjaga alam bawah. Ayah dan kerajaan ini memercayai bahwa jika siluman terobsesi menguasai dua dunia maka kerusakan besar akan terjadi."
Yuri tertegun. "Rang, bukankah hubungan kita terdengar mustahil? Kau tidak boleh bermimpi untuk menguasai dua dunia hanya untuk bersamaku. Jika itu menimbulkan kerusakan besar, aku tidak ingin mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah."
Sekelebat angin menghembus lagi menyerang Yuri, kali ini matanya berubah menjadi putih seperti kehilangan kesadaran. Dibalik angin besar itu, Yuri menatap Rang dengan tajam. "Obsesimu akan menghancurkan dua dunia! Lepaskan gadis ini, atau aku akan menendang jiwanya keluar dari tubuh ini!"
Rang mengerutkan dahi, dia tidak bisa mengedipkan matanya sedikitpun dari Yuri. "Siapa kau?" tanya Rang.
Dengan mata memutih begitupun dengan kulit pucat yang terlihat membeku. Rang menatap sosok Yuri yang dia yakini bukan wanita itu. Rang ingin menyerangnya namun dia tidak bisa karena orang itu berada di tubuh Yuri.
"Sama seperti dulu, aku adalah orang yang akan menghentikan cinta kalian berdua. Berhentilah mengejar cinta yang bisa mengakibatkan kehancuran dua dunia Rang!"
Angin itu mulai pergi dan Yuri kembali terkulai lemas, dengan cepat Rang menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Wanita itu sangat dingin, bahkan ada butiran es di tubuhnya. "Yuri, sadarlah! Kau baik-baik saja, Yuri?"
Rang segera membawanya ke kamar, pria itu terlihat panik. Dia meminta para pengawal menyiapkan kompor penghangat di kamarnya. Rang segera berlari ke ruang singgasana sang ayah. Dia meminta penjelasan tentang makhluk yang baru saja dia lihat.
"Ayah, makhluk apa yang merasuki Yuri?"
"Apa maksudmu?"
"Matanya berwarna putih pucat, begitupun dengan kulitnya yang sedingin es. Makhluk apa itu?" Mata Rang membulat tajam penuh kekhawatiran, napasnya berderu dan terdengar berat.
"Itu Dewi surga yang agung, dia memunculkan diri? Itu tandanya, dia bereinkarnasi kembali menjadi kekasihmu."
"Tidak! Dia mengatakan bahwa dia akan mengeluarkan jiwa Yuri jika aku tetap bersamanya." Rang mengerutkan dahi.
"Rang ketahuilah, cinta kalian tidak di restui oleh alam bawah maupun atas, ataupun ras siluman. Jika kau melewati batas itu, kemungkinan mereka akan membunuh Yuri."
__ADS_1
Rang membelalak. "Tidak! Itu tidak akan terjadi!"
"Kau tidak bisa mengubah takdir Rang!" kata sang Ayah.