
Rang memarkirkan mobilnya dengan cepat, kemudian masuk ke dalam gedung perusahaannya. Dia menyapa beberapa orang disana, kemudian segera berjalan mengarah ke ruang kerja. Disana terlihat Nara yang sudah siap menyambut Rang dengan hangat. Namun, tatapan Rang yang sekarang terasa dingin dimata Nara.
"Ada yang harus aku bicarakan!" Rang melenggang melewati Nara dan wanita itupun mengikutinya dari belakang.
"Kenapa sayang?"
"Sayang?" Rang mengerutkan dahi. "Apa maksudmu soal pertunangan kita yang tersebar di media itu?"
Nara membuka mulutnya sedikit. "Bukankah kemarin kau setuju dengan pertunangan kita? Kau tidak ingat, kemarin sore kau memintaku menjadi kekasihmu dan malamnya kau menginginkan pertunangan kita di umumkan di media."
Mata Rang membulat, tangannya ikut mengepal seraya membatin. "Aish sial, ini pasti ulah Yon."
Tidak ada yang bisa Rang lakukan sekarang selain mengiyakan Nara. Jika tidak, wanita itu akan curiga. "Maaf, aku lupa. Kau benar, maafkan aku."
Nara menunduk, bibirnya mengerucut. "Tidak apa-apa."
Tidak lama, ponsel Rang berdering. Itu adalah panggilan dari bu Kimi.
"Halo.. Rang ini aku Yuri, Byul sakit."
"Sakit? Aku akan segera kesana!" jawab Rang dengan cepat.
Setelah menutup panggilan, Rang menatap Nara yang melihatnya dengan kebingungan. "Aku pergi dulu, kau urus semua pekerjaan kantor."
"Kau mau kemana?" Nara menatap Rang agak lama.
"Aku harus pergi kesuatu tempat," Jawab Rang.
Nara segera menahan Rang untuk pergi, dia menggengam tangan Rang.
__ADS_1
"Kemana? Aku harus tahu!"
"Nara, lepaskan aku!" Rang menghela napas panjang, dia tidak bisa kasar pada Nara. Tapi dia juga harus pergi segera.
"Aku tunanganmu, jika kau bersikap seperti ini aku merasa sangat menyedihkan. Bagaimana jika orang-orang tahu bahwa kau mencampakanku?" Nara terlihat sedih.
"Nara aku tidak bermaksud mencampakanmu," Rang merasa frustasi karena banyaknya masalah yang kini ia hadapi.
"Tapi keadaannya darurat, aku harus segera pergi." Rang mendengus pelan.
Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar ruangan. "Masuk!" kata Rang.
"Permisi, Bu Nara dan Pak Rang. Banyak pegawai kita yang sakit secara tiba-tiba. Kulit mereka berbintik merah dan perutnya membesar seperti kembung. Sekarang keadaan sudah sangat ricuh di lantai satu pak. Saya sudah menelepon dokter, tapi rasanya penyakit ini cukup cepat menyebar. Sekarang saya merasakan gejala yang sama di seluruh tubuh."
Mendengar hal itu, Rang segera menghalangi Nara dari wanita yang merasakan gejala penyakit itu. Dia tidak ingin Nara ikut tertular. "Aku akan melihatnya, kau sebaiknya keluar dan segera menemui dokter!" pinta Rang pada pegawainya.
"Nara, tunggu disini. Jangan kemana-mana. Kau bisa tertular jika bersentuhan langsung dengan mereka. Kau tunggu sampai aku kembali membawamu keluar dengan aman!" Rang menyentuh kedua pundak Nara, wanita itu mengangguk mengerti.
"Aku tidak akan tertular!" jawab Rang kemudian segera keluar dari ruangan.
Dia segera memeriksa para pegawainya yang kesakitan, setiap dokter sudah menangani mereka. Ada yang langsung dilarikan ke rumah sakit, ada juga yang dirawat di rumah. Rang menyerahkan itu semua pada pihak rumah sakit untuk mengurus para pegawainya. Sedangkan dia segera mengendarai mobilnya dan bergegas ke rumah Yuri. Disana dia melihat mobil bu Kimi terparkir.
Sesampainya disana, Rang segera masuk ke dalam rumah dan melihat Yuri menangis. Saat melihat Rang masuk, Yuri langsung memeluknya dan Rang pun membalas pelukan itu dengan erat. "Bu Kimi bilang aku tidak boleh menyentuh Byul dengan tangan kosong."
"Bu Kimi benar, alangkah baiknya jika Byul di rawat di rumahku. Kau bisa menemaninya disana, aku khawatir jika kau harus merawatnya sendiri." Rang melepaskan pelukannya dari Yuri.
Bu Kimi mengangguk dan terlihat setuju, "Pak Rang benar Yuri, lebih baik kau dan Byul tinggal di sana untuk sementara waktu."
"Baiklah, aku dan Byul akan kesana. Tapi kumohon sembuhkan adikku Rang!"
__ADS_1
Rang mengangguk. "Kita akan mencari tahu penawarnya."
Mereka semua segera membawa Byul ke rumah Rang agar bisa di rawat lebih intensif disana. Rang memanggil dokter khusus untuk menangani Byul, pria itu bukan sembarang dokter. Dokter itu dulunya adalah pelayan penjaga gunung agung, yang kini tinggal berbaur dengan manusia dan hidup sebagai seorang dokter.
"Rawat anak ini sebaik yang kau bisa!"
"Tentu tuan," katanya sembari menoleh ke arah Rang, kemudian beralih menoleh ke arah Yuri. "Dia..."
Rang hanya mengangguk, dokter itu tahu bahwa Yuri adalah pengantin Rang. Rang kemudian merangkul Yuri dan mengajaknya keluar dari kamar Byul. Wajah Yuri terlihat sangat cemas. Sesaat Rang sadar, bahwa penyebab wabah ini pastilah pria yang sudah ia bunuh beberapa malam yang lalu. Rang masih belum mengerti apa tujuan orang itu menyebarkan wabah pada manusia. Dia yakin, ada orang lain dibalik semua ini..
"Kau lihat berita? Banyak orang mengalami gejala yang sama dengan Byul. Sebenarnya penyakit apa ini? Dan apa yang terjadi?" Yuri terlihat ketakutan, kemungkinan besar dia takut bahwa dirinya akan kehilangan Byul.
Rang menarik Yuri ke dalam dekapannya. "Tenangkan dirimu!" Namun sekilas Rang berpikir, jika Byul tidak ada mungkin dia bisa membawa Yuri ke dunianya. Pikirannya memang terkesan jahat dan egois. Namun keinginannya untuk bersama Yuri jauh lebih besar dari apapun sehingga ia merasa ada sedikit harapan.
"Yon bilang dia bertemu denganmu kemarin, bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Tapi kurasa akan lebih baik jika kita berbicara di kamarku."
Yuri mengangguk dan mereka masuk ke kamar Rang yang masih berantakan karena barang yang Yuri lempar pada Yon. "Kakakmu itu menyamar sebagai dirimu, aku tidak tahu berapa banyak orang yang tertipu tapi kurasa dia menemui Nara juga. Kebetulan aku datang kesini karena ingin menemuimu, kemudian kami bertemu dan dia berusaha menyentuhku dengan wujudmu."
"Apa? Dia berusaha menyentuhmu? Dasar keparat! Seharusnya kubunuh saat aku melihatnya tadi!" Rang mengerutkan dahinya, dia merasa kesal dan marah mendengar bahwa Yon mencoba untuk menyentuh kekasihnya.
"Dia membawaku ke kamar ini, kemudian aku melemparinya barang-barang sehingga kamarmu jadi berantakan. Untung saja ada pria lain yang menolongku, dia manusia biasa. Namanya Sean."
"Sean? Dimana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu dia tinggal dimana, tapi semalam dia mengantarku pulang ke rumah." Yuri mengatupkan mulutnya.
"Syukurlah, maafkan aku karena tidak ada disini untuk membantumu." Rang mengelus lembut rambut Yuri.
"Tidak apa, apa kau terluka? Yon bilang kau dihukum."
__ADS_1
"Hanya sedikit," Rang memeluk Yuri lagi. Rasanya sangat nyaman memeluk tubuh wanita yang ia cintai itu. Rang melepaskan pelukannya lalu menunduk untuk menatap Yuri yang kini mendangah ke arahnya. Rang dengan perlahan mendekatkan diri pada wanita itu dan mengecup lembut bibirnya.
Yuri melingkarkan lengannya pada leher Rang dan membalas ciuman pria itu. Rang yang melingkarkan tangannya di pinggang kemudian membawa gadis itu ke tempat tidurnya.