
Dan di sinilah keluarga Maulana sekarang, tepatnya di sebuah ruangan yang dijadikan sebuah mushola kecil di rumah itu.
tak hanya satu keluarga yang melaksanakan salat magrib di sana, Namun semua pelayan yang bekerja di di kediaman Maulana itu ikut mengambil posisi di sana. tak ada batasan bagi para pelayan maupun majikan dalam melaksanakan perintah dari Tuhannya. namun, tentu saja, dengan banyaknya pelayan yang bekerja di rumah itu, tentu Masih belum cukup untuk menampung mereka semua.
"Allahu Akbar..." ucap sang imam yang tak lain adalah tuan timotian sendiri.
"assalamualaikum warahmatullah... assalamualaikum warahmatullah..." ujar imam lagi sambil melihat kanan dan kiri di akhir salatnya. Setelah itu mereka Langsung memanjatkan doa kepada yang maha kuasa agar selalu menjadi tempat sandaran dan meminta pertolongan serta menghindarkan mereka dari perbuatan maksiat maupun syirik lainnya.
dan tak terasa, waktu salat magrib itu pun berakhir dengan cepat. arzanka duduk manis di pangkuan Arumi. seolah arzanKa enggan untuk beranjak dari sana.
"loh cucu Oma... ayo bangun sayang, mommy tidak bisa berdiri.." ujar Nyonya Larissa dengan lembut kepada sang cucu.
arzanka yang mendengar ucapan lembut dari neneknya itu, bukannya beranjak dari pangkuan Arumi, Iya malah menyandarkan kepalanya di dada sang gadis yang dianggap sebagai Mommy nya. tak lupa kedua tangannya langsung memeluk pinggang Arumi dengan erat.
"tidak mau Oma..." ujar arzanka sambil menelungkupkan wajahnya di dada Arumi. Arumi terkekeh melihat betapa manjanya arzanka kepadanya.
"tidak apa-apa ma.." ujar Arumi lagi. tanpa mereka ketahui sadari tadi, bahwa sepasang mata menatap Arumi dan arzanka dengan lekat. pikirannya berkecamuk melihat kedekatan anaknya dengan seorang gadis yang asing menurutnya.
"Ya sudah kalau begitu. sebelum kalian pulang kita makan malam di sini sama-sama ya.." ajak Nyonya Larissa kepada kedua gadis itu.
arzanka yang mendengarkan ajakan sang omah kepada Mommy nya, dengan secepat kilat ia menegakkan kepalanya melihat sang mommy. Arumi yang mengerti tatapan arzanka langsung tersenyum. kemudian menenggelamkan satu kecupan di kening arzanka.
"Bagaimana nes...??" tanya Arumi kepada Nesya. takutnya Nesya sedang terburu-buru sehingga mungkin nanti akan menghambat aktivitasnya.
"tidak apa-apa.. bukankah menolak rezeki itu tidak baik..." ucap Nesya sambil tersenyum ke arah Arumi.
"Iya Mommy.. sekalian Mommy nginep di sini bersama Arza..." ucap arzanka sambil memanyunkan bibirnya. Iya mau masang wajah baby face kepada Arumi yang sukses membuat Arumi tidak tahan ingin mencubit pipi arzanka.
"mommy tidak janji ya sayang....." ucap Arumi lagi, sekali lagi iya mendaratkan sebuah kecupan di dahi arzanka.
sungguh interaksi mereka tak luput dari penglihatan Akbar. Iya merasa cemburu melihat kedekatan Sang putra kepada orang lain ketimbang dirinya. namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat dirinya yang lebih dulu mencampakkan sang anak.
***
kini mereka semua telah duduk di meja makan. dengan arzanka yang tidak membolehkan Arumi memegang apapun selain memangku dirinya. bahkan Arumi tak diizinkan untuk membantu mengeluarkan dan menata makanan di atas meja.
__ADS_1
"Arza sampai kapan kamu akan terus dipangku oleh Kakak itu...??" tanya Akbar yang sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan anak yang begitu manja kepada orang lain.
arzanka yang mendengarkan teguran itu langsung memanyunkan bibirnya. Iya tidak terima mommynya dipanggil kakak oleh sang Deddy.
"bukan Kakak, tapi mommy..." teriak arzanka kepada ayahnya sendiri.
Arumi yang mendengarkan arzanka berteriak seperti itu kepada orang yang lebih tua, Iya langsung menegur dengan penuh kasih sayang kepada arzanKa. Arumi tidak tahu saja, kalau lelaki yang diteriaki oleh arzanka adalah ayahnya sendiri.
"sayang, Jangan berteriak seperti itu.. bukankah Mommy sudah bilang, tidak boleh berteriak dan berkata kasar kepada orang yang lebih tua dari kita. hm..." ujar Arumi dengan pelan dan penuh kasih sayang. Akbar sendiri dapat melihat kasih sayang dan dicurahkan oleh Arumi kepada putranya.
arzanka yang mendengarkan teguran sang mami langsung menundukkan kepalanya. Iya juga memainkan kedua jari-jarinya karena merasa bersalah.
"ayo sekarang minta maaf..." ujar Arumi lagi mengajarkan azanka. arzanka Tidak menolak, ia menegakkan kepalanya dan melihat ke arah sang Mommy, Arumi yang ditatap oleh arzanka langsung mengeluarkan senyum hangat di bibirnya. kemudian menganggukkan kepalanya tanda arzanka harus meminta maaf.
arzanka yang melihat kode seperti itu dari sang mommy, tentu saja ia tidak bisa menolak keinginan Mommy nya. dengan berat hati ia langsung menghadap ke arah Akbar.
"Paman minta maaf.. Arza tidak sengaja berteriak kepada paman..." ucap arzanka. ucapan itu seolah-olah menggambarkan kepada arzanka bahwa ia tidak tahu arti dari kata papah atau ayah, sehingga ia hanya mengatakan ayahnya sebagai Paman saja.
Akbar dan Tuan timotian serta sang istri terkejut mendengar panggilan itu. namun mereka tidak bisa menyalahkan arzanka yang memanggil ayahnya dengan sebutan paman.
sementara Arumi dan Nesya yang tidak tahu bahwa Akbar adalah Ayah dari Arza, mereka berdua hanya diam membisu tanpa mengatakan apa-apa. namun tangan Arumi tak berhenti bergerak, Iya terus mengelus lembut kepala sang anak.
melihat Akbar yang masih shock dengan panggilan Arza, sehingga ia tidak menghiraukan ucapan sang anak. dengan cepat Tuan timotian langsung menyikut tangan anaknya itu.
"Akbar, Arza meminta maaf kepadamu. lalu kenapa kamu diam saja seperti ini.. jawab dong..." tegur Tuan timotian kepada Akbar. Akbar pun langsung mengadit-edipkan matanya karena terkejut dengan senggolan ayahnya sekaligus menormalkan keterkejutan nya.
"eh Iya Deddy memaafkanmu..." ujar Akbar dengan lancar. pengakuan itu sontak saja membuat Arumi dan Nesya membulatkan matanya. mereka tidak menyangka ternyata lelaki ini adalah Ayah sang anak.
"eh, Anda ayahnya..!! Maaf saya tidak tahu.." ujar Arumi meminta maaf karena mungkin telah lancang menasehati Putra seorang Akbar.
Arza yang mendengar Arumi meminta maaf kepada ayahnya langsung melihat sang mommy. dengan cepat Ia pun mengajukan protes.
"Kenapa Mommy meminta maaf kepadanya.. kan Mommy tidak salah..." ujar arzanka lagi tidak mengerti.
"sudah sudah jangan di debat lagi nak. sebaiknya kita segera makan, ayo Arumi, nesya makan..." ucap Nyonya Larissa menengahi protesan dari arzanka.
__ADS_1
kalau tidak di alihkan pembicaraannya. mungkin saja semua masalah di meja makan ini tidak akan selesai.
"Iya mah..." ujar kedua gadis itu dengan serentak.
arzanka yang tidak menyaut lagi dan tidak ingin mengganggu aktivitas makan Arumi, Iya langsung berpindah tempat duduk. sehingga memberikan peluang bagi Arumi untuk makan, Begitu juga dengan arzanka.
kini meja makan menjadi hening. di mana yang terdengar hanya dentingan sendok yang bertemu dengan piring.
***
akhirnya mereka selesai melakukan makan malam bersama. setelah itu Arumi dan Nesya akan berpamitan kepada tuan rumah untuk kembali ke tempat mereka.
"mah, pa. terima kasih atas makanannya dan jamuannya. kalau begitu kami pamit dulu ya.." ujar Arumi kepada kedua paruh baya itu. sementara Akbar saat ini berada di kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan.
"ya sudah, kalian hati-hati ya.." ucap Nyonya Larissa dengan penuh pengertian. tapi tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sedang berlari menuju ke arah mereka.
"Mommy tunggu...!!" teriak arzanka yang terus berlari menghampiri Arumi dan Nesya.
anak kecil itu berlari sambil menjinjing ransel di bahunya. Tuan timotian dan nyonya Larissa mengerutkan kening melihat arzanka yang membawa tas yang mungkin berisi itu. Begitu juga dengan Arumi dan Nesya.
"Mommy... arzanka menginap di rumah Mommy ya..." ujar arzanka sambil memegang tangan Arumi meminta ikut disertai memasang wajah memelas.
Arumi dan Nesya saling melirik satu sama lain begitu juga dengan tuan timotian dan nyonya Larissa.
"Mommy kok diam aja... Arza ikut mommy ya..."! ulang arzanka lagi. tampak, dari raut wajah yang Arza perlihatkan, yaitu keinginan yang tidak mau di tolak.
Nyonya Larissa bernafas pasrah melihat kelakuan Sang cucu. Jika ia menolak keinginan cucunya untuk nginap di tempat Arumi, maka dapat dipastikan arzanka akan mendiamkan mereka semua.
"Apakah tidak apa-apa Rumi... Mama tidak bisa melarang Arza lagi.. Mama cukup kapok didiamkan berhari-hari olehnya." ujar Nyonya Larissa kepada Arumi.
"Oh tentu saja tidak apa-apa ma, tapi..._" ujar Arumi terpotong dengan suara Akbar yang tiba-tiba saja menimpali pembicaraan mereka.
"tidak boleh ke mana-mana..." ujar Akbar kepada sang anak. semua orang langsung mengarahkan pandangannya kepada Akbar. begitu juga dengan Arzanka. disana ia memasang wajah cemberut kepada Akbar.
"tidak mau !! aku mau ikut Mommy saja...." ujar arzanka lagi. Akbar terus melangkahkan kakinya menghampiri mereka semua, kemudian langsung mengangkat Arza ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Arza sama Deddy saja. nanti Deddy yang akan menemanimu tidur...
***bersambung***