PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
27. menolak Deddy nya


__ADS_3

Arumi yang masih belum mengetahui apapun mengenai Arza, Iya terus fokus membersihkan dan menata ulang kamarnya itu biar terlihat agak luas.


saat Akbar dan keluarga Maulana itu memutuskan untuk mempekerjakan atau menerima Arumi sebagai pengasuh sesuai dengan permintaan Arza, mereka memang belum mengatakan di mana Arumi akan tinggal atau kamar Arumi. jadi bibi Retno hanya berinisiatif untuk memberikan sebuah ruangan privasi untuk Arumi, karena hanya tinggal ruangan itu yang kosong, alhasil bibi Retno membersihkan ruangan itu dan menjadikan tempat tinggal untuk Arumi.


saat Arumi sedang asyik membersihkan dan menata ruangannya itu. tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara Arza yang memanggil-manggil namanya yang tentu saja masih berada dalam gendongan bibi Retno.


"mommy... Mommy..." ujar arzanka memanggil Arumi. Iya baru ulang kali memanggil nama itu karena Arumi belum menyadari keberadaan Arza dan bibi Retno.


"mommy..." ujar Arza sekali lagi sambil menarik baju gamis yang dikenakan oleh Arumi. sontak saja Arumi terkejut melihat keberadaan Arza di sana.


"loh !! sayang, bukannya kamu sedang beristirahat. kenapa malah ke sini nak.." tanya Arumi dengan lembut sambil mengecup pipi tembem Arza itu. Arumi sejenak memperhatikan wajah Arza yang sembab, dapat ia tebak, kalau Arsan kah sebentar ini menangis mungkin karena mencari keberadaan dirinya.


"Maaf non Arumi, itu si tuan muda tadi cari-cari non sambil menangis, makanya bibi datang ke sini untuk membawanya." ucap bibi Retno kepada Arumi. Arumi pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah bibi Retno sambil tersenyum.


"tidak apa bi, Maaf sudah merepotkan bibi." ucap Arumi dengan suara yang khas, karena suara itulah yang membuat Arza begitu sangat mencintai perempuan ini sebagai ibunya.


"kalau begitu bibi pamit dulu ya, bibi masih banyak pekerjaan."ujar bi Retno lagi sambil memberitahunya kepada Arumi.


"Oh iya bi, Apakah ada yang bisa Arumi bantu bi.." tanya Arumi kepada bibi Retno. barangkali ada sesuatu yang bisa ia bantu. tentu saja karena posisi Arumi bukanlah seorang majikan di rumah ini, melainkan posisi mereka sama hanya saja yang membedakan adalah, Arumi ditugaskan untuk mengasuh arzanka saja. namun apa salahnya jika membantu pekerjaan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Oh Untuk sekarang mungkin belum ada nona, Nona fokus aja dulu kepada tuan muda. kalau begitu bibi pamit ya.." ujar bi Retno lagi. Arumi pun langsung menganggukkan kepalanya, setelah itu bibi Retno baru langsung meninggalkan Arza kepada Arumi. sepeninggalan bibi Retno, Arumi pun kembali melihat ke arah anak asuhnya itu. Iya langsung Bang posisikan duduk sang anak ke dalam pangkuannya, kemudian memeluk tubuh kecil itu.


"Kenapa anak mami menangis hm..??" tanya Arumi kepada Arza lagi. arzanka pun membiarkan Arumi memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang, Karena itulah yang ia inginkan.


"Maaf mommy, Arza menangis karena Arza pikir mommy sudah pergi meninggalkan Arza lagi. mommy janji ya, jangan tinggalkan Arza lagi." ucap arzanka langsung memutar tubuhnya dan memeluk tubuh Arumi. Arumi pun tersenyum kembali, Ia berpikir, mungkin suatu saat nanti akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari jeratan anak ini. tapi ya sudahlah, pikir Arumi.


"tentu sayang, bukankah Mommy sudah jadi pengasuh Arza sesuai dengan permintaan Arza sama Deddy Arza. jadi Arga nggak perlu takut ya..."; ujar Arumi lagi menenangkan anak itu.


"Baiklah mommy. terima kasih banyak. tapi kenapa mommy berada di kamar yang jauh dari kamar Arza.?" tanya arzanka kepada Arumi. Arumi tersenyum dan membelai lembut kepala anak itu.


"tentu saja sayang, selama Mommy berada di sini. Mommy akan menginap di sini, di kamar ini." ujar Arumi kepada Arza.


"Kenapa harus tidur di sini mommy, Kenapa tidak tidur di kamar Arza saja. arzakan bisa melihat mommy setiap hari, tanpa takut Mommy akan meninggalkan Arza." ujar Arza lagi.


arzanka yang belum mengerti tentang ruang privasi itu, hanya mampu menganggukkan kepalanya saja dan tak banyak bertanya lagi.


"Ya sudah kalau begitu sayang, Arza tunggu Mommy sebentar ya. mommy mau membersihkan ini sedikit lagi. Setelah itu kita kembali ke kamar Arza dan mandi... oke..." ujar Arumi dan dibalas oleh anggukan kepala dari arzanka. setelah itu, Arumi pun langsung bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


***

__ADS_1


malam hari pun menjelang. kini keluarga Maulana berkumpul di ruang tamu setelah selesai melaksanakan salat isya berjamaah di ruangan itu. tuan timotian dan nyonya Larissa menatap heran kepada Akbar. mereka terus bertanya-tanya, Apa yang membuat Akbar memutuskan untuk pulang cepat dan meninggalkan pekerjaannya.


Akbar pun yang ditatap seperti itu dan dapat menebak apa yang ada di pikiran kedua orang tuanya itu, memilih untuk tidak peduli dan bersikap acuh. Iya juga tidak tahu, kenapa Ia yang seorang penggila kerja memutuskan untuk pulang cepat.


"bar, tumben kamu cepat pulang..? begini lebih baik, setidaknya anakmu dapat melihat kamu berada di rumah." ujar Nyonya Larissa mengeluarkan satu pertanyaan yang terlintas di kepalanya.


"Iya mah, pekerjaan Akbar di kantor tidak terlalu banyak. makanya Akbar memutuskan untuk pulang cepat. lagi pula, Iqbal sudah menghandle semuanya."; ujar Akbar dengan santai.


saat itu juga terdengar suara teriakan dari tangga. ternyata pelakunya adalah Arza, Iya berteriak memanggil Oma dan opanya dengan suara khas bayinya, saat ini juga ia masih berada dalam gendongan Arumi.


"opah Oma..!!!" teriak Akbar tanpa menyertakan kata Deddy di dalamnya. Akbar yang melihat anaknya turun dan memanggil opa Omanya tanpa memanggil dirinya, ia tidak merasa sedih dan berputus asa. Ia pun memilih berdiri dan menghampiri sang anak yang masih berada dalam gendongan Arumi.


"sini main sama Deddy aja ya..." ucap Akbar sambil mengambil alih Arza yang berada di dalam gendongan Arumi. Arza pun langsung menyingkirkan tangan ayahnya yang mengulur untuk mengambilnya dari gendongan Arumi.


"tidak mau Deddy.. Arza mau ditemani Mommy seharian. saat malam dan juga sampai pagi lagi dan malamnya lagi." ujar Arza sambil memanyunkan bibirnya. Arumi terkekeh mendengar ucapan arzanka.


"jadi kamu akan menempel Mommy seharian, juga di malam hari, Kamu tidak akan memberi Deddy kesempatan untuk bermain denganmu. ayolah sayang, Deddy jarang-jarang ada waktu bermain seperti ini denganmu nak. yuk..." ucap Akbar berusaha membujuk anaknya.


melihat Arza yang hanya diam saja tanpa menimpali ucapannya itu. Akbar tidak ada cara lain selain meminta tolong kepada Arumi. Akbar pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah gadis itu, tatapan matanya menyiratkan permohonan untuk membujuk Arza mau bermain dengannya, sambil untuk mendekatkan diri kepadanya. Arumi yang mengerti pun langsung membantu.

__ADS_1


"sayangnya Mommy... jangan seperti itu ya nak, lagi pula Mommy kan tidak akan kemana-mana. berhari-hari akan menemani Arza di sini, jadi selagi Deddy ada di rumah, yuk main sama Deddy yuk..!!" ucap Arumi mengajak arzanka.


***bersambung***


__ADS_2