PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
13. Hati Yang pilu


__ADS_3

ceklek


suara pintu arzanka dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Nyonya Larissa. Nyonya Larissa berjalan mendekat ke arah ranjang dan melihat arzanka tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya.


Nyonya Larissa menyebabkan selimut dengan pelan, dan duduk di pinggiran tempat tidur arzanka. seketika itu Nyonya Larissa tercengang. Iya juga langsung merasakan sesak dalam hatinya.


ternyata arzanka Tidak tidur, namun di bawah selimut itu arzanka sedang menangis dalam diamnya. melihat pemandangan yang seperti itu, Nyonya Larissa langsung meneteskan air matanya.


"sayang,.." ucap Nyonya Larissa dengan suara yang bergetar. melihat cucunya terpuruk seperti itu membuatmu nya Larisa tidak berdaya.


Nyonya Larisa langsung merangkul tubuh arzanka dan meletakkannya dalam pelukannya. di sela-sela pelukan itu, Nyonya Larissa juga meneteskan air matanya berkali-kali. sungguh ia tak kuasa melihat cucunya terpuruk seperti ini.


"sayang, jangan menangis seperti ini. Arza tidak akan kehilangan Mommy Arza, Arza harus yakin sama Mommy Arza kalau Mommy tidak akan mungkin meninggalkan Arga.." ujar Nyonya Larissa berusaha menyenangkan hati arzanka.


"omah, kenapa Deddy begitu membenciku sampai tak mengizinkan aku untuk ikut bersama mommy. Aku ingin memiliki kasih sayang dari seorang ibu seperti teman-teman Arza yang lain." ucapnya dengan lirih dan lemah. hatinya sangat pilu mengingat Akbar melarang dirinya untuk dekat dengan Arumi. tidak dapat Arza pungkiri, dengan Arumi, Iya dapat merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu tulus walaupun Arumi bukanlah ibu kandungnya. namun perkataan Akbar itu cukup menyakitkan untuk dirinya. padahal usia 3 tahun ini, seorang anak tidak akan terlalu peka dengan urusan seperti itu. namun barangkali, arzanka memang berbeda dengan anak-anak pada umumnya.


mendengar penuturan arzanka. nyonya Larissa mengeratkan pelukannya kepada Arza. Iya benar-benar tidak ingin mendengar penuturan cucunya seperti itu. namun Nyonya Larissa tidak bisa mendoktrin pikiran sang cucu. Ia hanya bisa menasehati saja.


"sayang, Deddy Tidak membenci Arza. mungkin Deddy hanya ingin yang terbaik untuk Arza." ucap Nyonya Larissa. Iya tidak ingin cucunya ini menjadi benci terhadap ayahnya.

__ADS_1


arzanka yang tidak ingin membahas tentang ayahnya lagi, Iya memilih diam dan larut dalam kesedihannya dengan berada dipelukan Nyonya Larissa. melihat hal itu, Nyonya Larisa langsung menarik nafasnya dengan gusar. kemudian kembali membaringkan arzanka di tempat tidurnya. setelah itu Nyonya Larissa pun keluar dari kamar sang cucu.


***


di lantai satu, tuan timotian dan Akbar sedang duduk di sofa ruang tamu itu. tuan timotian tidak mengeluarkan kata-kata apapun kepada Akbar, namun tatapan tuan timotian begitu tajam kepadanya.


tak tak tak


suara langkah kaki Nyonya Larissa menuruni anak tangga satu persatu ke lantai bawah. di sana Nyonya Larissa melihat tuan timotian dan Akbar sedang duduk diam tanpa mengatakan apapun. terlihat Akbar tertunduk lesu dan sesekali menarik nafasnya dengan gusar. sementara tuan timotian, Iya melayangkan tatapan tajam ke arah Akbar.


Akbar dan Tuan timotian yang menyadari kedatangannya Larissa. seketika Akbar langsung beranjak berdiri dan mendekat ke arah ibunya.


"Akbar kemarilah...!! Mama ingin berbicara kepadamu.." ucap Nyonya Larissa dengan dingin. Akbar yang mendengarkan nada dingin itu tidak bisa berbuat apa-apa, Iya berjalan dengan gontai dan duduk di hadapan tuan timotian dan Nyonya Larissa.


"Akbar, Apakah kamu benar-benar menyayangi putramu...??" tanya Nyonya Larissa kepada Akbar. Akbar yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung mengangkat dan menegakkan kepalanya yang dahulunya tertunduk dan melihat ke bawah.


"Apa maksud Mama bertanya seperti itu kepada Akbar. tentu saja Akbar begitu sangat menyayangi arzanka." ucap Akbar sambil mengerutkan keningnya. Larissa kembali menarik nafasnya dengan kasar.


"lalu apa yang kamu lakukan tadi..!! Tak sadarkah kamu bar, kalau tindakan kamu itu telah menyakiti hati arzanka. kamu tahu sendiri dari tatapan dan tingkah lakunya saja, arzanka sangat menyayangi Arumi." ujar Nyonya Larissa lagi sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


Akbar yang mendengarkan penuturan sang Ibu Pun menarik nafasnya dengan gusar lagi. sungguh niat hati tidak ingin menyakiti hati putranya, hanya saja Akbar tidak ingin arzanka menjadi bergantung kepada Arumi. karena ujung-ujungnya, Arumi juga akan meninggalkan arzanka.


"aku tidak bermaksud menyakiti hati arzanka ma.. Aku hanya ingin Arzanka tidak bergantung dengan gadis itu. karena ujung-ujungnya, Iya juga akan meninggalkan arzanka seperti Sintia." ucap Akbar mengeluarkan ketakutan dalam hatinya. Nyonya Larissa dan Tuan timotian juga paham mengenai hal itu.


"tentu saja itu tidak akan terjadi, kalau kamu mau menikahi gadis itu nanti.." ucap tuan timotian mengeluarkan idenya. Jujur saja, Iya menyukai Arumi sebagai menantunya.


Akbar yang mendengarkan penuturan Tuan timotian langsung membulatkan matanya. tidak mungkin Akbar akan melakukan hal itu, Iya tidak ingin kejadian yang sama menimpa pernikahan nya seperti Cynthia yang pergi meninggalkannya begitu saja.


"Iya Mama juga setuju dengan usul papa kamu. Arumi tidak akan meninggalkan arza apabila kamu dan ia menikah.." ucap Nyonya Larissa lagi.


"aku tidak mungkin melakukan hal itu mah, Aku cukup trauma dengan yang namanya pernikahan. Aku hanya ingin menjalani hidupku sendiri." ucap Akbar kepada kedua orang tuanya.


"kalau begitu, kamu jangan mengajak Arzanka hidup sendiri denganmu. biarkan dia bahagia dengan menganggap Arumi sebagai ibunya. lagi pula, Mama yakin suatu saat nanti arzanka akan mengerti dengan kondisi ini. dan mama ingatkan sekali lagi, jangan menyakiti hati Arza. karena mama sudah capek-capek merawatnya dan memberikan ia kasih sayang, kamu malah membuat ia patah hati dengan semua ucapanmu." ucap Nyonya Larissa lagi.


setelah itu Nyonya Larissa langsung bergegas meninggalkan Akbar dan tuan timotian di sana, namun tak disangka tuan timotian langsung menyusul sang istri masuk ke dalam.


dan di sana tinggallah Akbar sendirian di ruang tamu. Iya masih sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Iya benar-benar tidak menyangka, kalau putranya akan mencari kasih sayang seorang ibu di luar sana tanpa sepengetahuan dirinya. tentu saja Akbar tidak akan tahu apa yang arza lakukan. karena Akbar sendiri jarang mengunjungi anaknya dan bahkan tidak pernah sama sekali.


setelah Akbar lama berpikir, Iya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar sang anak. Ia ingin melihat kondisi putranya itu. dengan pelan tapi pasti, Akbar membuka pintu kamar sang anak dan melihat arzanka telah tertidur dari jarak jauh. Akbar sama sekali tidak berani mendekat ke ranjang sang anak. setelah cukup ia melihat putranya itu, Akbar pun langsung memilih untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2