
Sementara di luar gerbang kediaman keluarga Maulana. mobil yang ditumpangi oleh Arza, Arumi dan Nesya memasuki rumah mewah itu. Nesya dan juga Arumi yang baru pertama kali datang ke rumah keluarga Maulana ini dibuat terkagum-kagum.
"wah Rum... Ini rumah apa istana ya...??" ucap Nesya kepada Arumi. mata mereka terpaku dengan bangunan mewah itu.
"ini bukan rumah, tapi istana .." jawab Arumi mengenai pertanyaan Nesya. Pak Jojo yang mendengarkan obrolan random itu tersenyum.
"Pak Jojo, kita nggak tersesat kan..??" tanya Arumi kepada sang supir dengan suara yang pelan. Pak Jojo tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu.
"tentu saja Nona, ini adalah kediaman keluarga Maulana. Mari nona.." Ucap pak Jojo kepada keduanya. sontak Nesya dan Arumi saling memandang, kemudian sama-sama turun dari dalam mobil sambil Arumi menggendong tubuh arzanka yang masih terlelap.
Tapi saat Arumi mengangkat tubuh arzanka, saat itu juga Arzanka langsung terbangun.
"Mommy.. Apakah sudah sampai..??" tanya arzanka dengan suara khas bangun tidur. Iya juga menyandarkan kepalanya di bahu Arumi.
"ya sayang, kita sudah sampai di rumah Arza. Jangan tidur lagi ya nak, sebentar lagi nanti salat magrib." ucap Arumi kepada arzanka. arzanka pun langsung menganggukkan kepalanya namun ia tidak menegakkan, dan tetap menyandarkan kepalanya di pundak Arumi.
"Mari nona.." ajak Pak Jojo lagi.
***
sementara, saat Akbar sedang berpikir mengenai maksud dari ucapan Sang ayah. tiba-tiba mereka mendengar suara deru mobil dari luar. atensi mereka teralihkan.
__ADS_1
"itu mungkin Arza dan Arumi." ucap Nyonya Larissa. Nyonya Larissa langsung cepat-cepat meninggalkan ruang tamu itu dan keluar menemui mereka.
Begitu juga dengan tuan timotian dan Akbar. Akbar yang penasaran apa yang terjadi, mampu membuatnya melangkahkan kaki untuk melihat secara langsung.
"eh kalian sudah kembali... wah !! kenapa dengan cucu Oma nih.." seru Nyonya Larissa tatkala melihat cucu kesayangannya itu digendong dan sedang menyandarkan kepala di bahu Arumi.
"ini Oma, Arza baru bangun tidur dan kelelahan." ucap Arumi kepada Nyonya Larissa.
"Oh lelah ya... ya sudah, Arumi Nesya ayo masuk dulu.." ajak Nyonya Larissa kepada kedua gadis itu. keduanya pun tak menolak, mereka langsung masuk ke rumah mewah itu.
"Oma, nanti sekalian Arumi dan Nesya numpang salat di sini ya Oma..." ujar Arumi kepada Nyonya Larissa. sementara mereka tidak memperhatikan keberadaan Akbar di antara mereka.
"tentu saja nak. nanti kita bisa salat secara berjamaah sama-sama." ucap Nyonya Larissa kepada kedua gadis itu.
"Oma.. Kenapa tidak salat di masjid saja. kata mommy, salat di masjid itu pahalanya banyak ketimbang salat di rumah. di masjid juga banyak teman di sana Oma..."; ucap arzanka sambil menegakkan kepalanya. semua yang ada di sana pun tersenyum mendengar penuturan dari arzanka.
"Iya sayang, tapi kan Arza lihat kalau di sekitar sini tidak ada masjid nak. jadi kita hanya bisa salat di mushola rumah saja." jelas Nyonya Larissa kepada sang cucu.
"Oh kalau begitu Oma, lebih seru tinggal di rumah Mommy saja. di sana masjid sangat dekat, di masjid juga kita bisa mendengar pak ustadz nya ceramah. kalau di rumah, kita tidak bisa mendengar ceramah penyiram rohani kita Oma." ucap ArzanKa.
Nyonya Larissa yang mendengar penuturan sang cucu sontak matanya jadi berkaca-kaca. Iya tidak menyangka bahwa penuturan yang arzanka utarakan mampu menyentuh relung hatinya. padahal anak usia 3 tahun ini belum mengerti apapun.
__ADS_1
Tuan timotian juga sangat bangga melihat perkembangan pengetahuan dari cucunya itu. walaupun ia tidak bercita-cita menjadikan cucunya sebagai seorang ustadz, namun Ia menginginkan cucunya dapat mendalami ilmu agamanya.
sementara Arumi dan Nesya yang mendengar penuturan dari arzanka, mereka berdua hanya mampu tersenyum bijaksana melihat kepintaran anak itu. berbeda halnya dengan Akbar, Iya benar-benar menyesal tidak melihat tumbuh kembang putranya hanya karena merasa kecewa kepada ibu arzanka.
"itu betul sekali sayang. nanti besok-besok kita akan usahakan untuk salat di masjid ya.." ucap Nyonya Larissa lagi.
saat mereka sedang bercakap-cakap, notifikasi di HP Arumi dan Nesya pun langsung bersahutan. suara adzan langsung berkumandang di sana. di pemukiman mewah ini memang tak ada masjid, sehingga keluarga Maulana hanya mampu mengaktifkan alarm adzan saja agar mengingat waktu salat mereka.
"wah sudah magrib... Ya udah yuk ambil wudhu dulu.." ucap Arumi kepada arzanka.
"Ya udah Mommy ayo.. biar arzanka tunjukkan tempat mengambil wudhu. " ucap Arzanka yang sudah turun dari gendongan Arumi. Iya juga langsung menggenggam tangan Arumi dan menuntun kedua gadis itu menuju tempat bersuci.
sementara keberadaan Akbar di sana sama sekali tidak dianggap oleh sang anak. bukan Tidak dianggap, hanya saja arza memang tidak mengetahui keberadaan lelaki itu.
Akbar yang melihat bahwa putranya sama sekali tak meliriknya, sontak dalam hatinya menjadi sendu. Iya berfikir Apakah anaknya benar-benar tidak memperdulikannya atau tidak mengenalinya. Akbar memandang arzanka dan kedua gadis itu meninggalkan mereka, sampai mereka tak terlihat.
seketika itu. Tuan timotian langsung menepuk pelan pundak sang anak.
"sudah sana, siap-siap sebentar lagi kita akan salat berjamaah. Jangan mau kalah dengan putramu.." ujar Tuan timotian kepada Akbar. Akbar pun langsung menghela nafas pelan.
"baiklah..." Setelah itu mereka semua langsung bersiap untuk melaksanakan salat magrib berjamaah di musholah yang telah disediakan di dalam kediaman mewah itu.
__ADS_1
***bersambung***