
hari demi hari telah berganti. Arumi dan Arza tidak pernah bertemu lagi. Arza sering mencoba untuk menghubungi Arumi, namun Akbar selalu melarang Arza untuk melakukannya. Iya masih berusaha untuk tidak memberikan harapan palsu kepada anaknya.
ia tidak ingin, Arzanka kecewa terhadap gadis itu, karena tidak bisa memilikinya selamanya. Akbar juga mengatakan kepada kedua orang tuanya untuk tidak menghubungi Arumi dengan alasan, ia ingin mendekatkan diri kepada anaknya, agar fokus anaknya tidak terbagi. karena itu, Nyonya Larissa dan Tuan timotian memberikan kesempatan kepadanya.
sementara Arumi, kini ia sedang disibukkan dengan tugas akhirnya sehingga ia tidak terlalu fokus memikirkan arzanka. Ia hanya berpikir barangkali, keluarga itu memang sudah menemukan pengganti dirinya untuk merawat arzanka. namun, kadang-kadang, ia juga akan merasa rindu terhadap anak itu. seperti sekarang ini.
"huh... !! bagaimana ya kabar Arzanka. mudah-mudahan, ia baik-baik saja." ucap Arumi Dengan lirih. ia sedikit merenung dan mengistirahatkan jari dan otaknya.
saat ini, Arumi berada di perpustakaan untuk menyusun tugas akhir. ia juga telah berhenti bekerja, karena ingin fokus menyelesaikan tugas nya. saat Arumi sedang melamun, Nesya datang mengejutkan nya.
"hey...!!" seketika lamunan Arumi buyar dan terkejut. dadanya juga ikut berdebar. seketika itu, ia langsung menatap tajam sang sahabat. Nesya yang melihat tatapan tajam itu, langsung tertawa terbahak-bahak. bukannya merasa bersalah, ia malah merasa kalau Arumi Begitu lucu dengan ekspresi itu. Arumi sama sekali tidak cocok dengan ekspresi muka itu.
"hahaha..!! ketahuan sedang melamun kan.. lagi lamunin apa sih.." ucap Nesya sambil mengambil tempat duduk tepat dihadapan Arumi. bukan nya menjawab pertanyaan Nesya, Arumi malah mengajukan protes.
"kamu ya, hobby sekali membuat orang terkejut. bagaimana kalau aku punya riwayat sakit jantung. bisa-bisa aku meninggoi nes.." protesnya. ia mengerucutkan bibirnya kembali ke pada sahabat nya itu.
"hihihi... maaf ya, habisnya kamu itu jarang-jarang melamun seperti itu. ada apa sih, sampai kamu melamun segitunya sampai tidak menyadari kedatangan ku.?" tanya Nesya kepadanya.
"huh..!!! entahlah nes, entah kenapa tiba-tiba pikiranku melayang ke arah arzanka. bukankah sudah hampir mau sebulan lamanya Setelah kejadian itu, aku tidak mendapatkan kabar tentangnya. aku hanya khawatir terjadi apa-apa kepada anak itu." ucap Arumi mengeluarkan kekhawatirannya. Nesya yang mendengar penuturan Arumi ikut menghela nafas dengan kasar. Iya juga begitu merindukan sosok mungil seperti arzanka itu.
__ADS_1
" Oh,.. ternyata itu masalahnya ya.. kamu bener rum, sudah hampir mau sebulan kita tidak berhubungan dengan arzanka, Aku juga merasa rindu kepada anak nakal itu. tapi mungkin, barangkali mereka atau Arzanka sudah mendapatkan penggantimu, karena itu ia sudah tidak membutuhkan kamu lagi." ucap Nesya lagi kepada Arumi.
semua yang disampaikan Nesya benar adanya. barangkali anak kecil itu telah akrab dengan orang lain. Mengingat ayah dari anak itu bukanlah orang sembarangan, pastilah banyak perempuan dan pastilah Ia memiliki kekasih atau calon istri yang akan menggantikan Arumi di hati arzanka.
memikirkan hal itu, Arumi hanya mampu berpikir positif saja. kekhawatiran besarnya ialah, takut terjadi apa-apa kepada arzanka sehingga tidak mendapatkan kabar darinya.
"Iya juga sih. tapi aku tidak mengkhawatirkan masalah itu nes, aku hanya khawatir kepada arzanka saja. mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya." ucap Arumi lagi.
"ah sudahlah, lebih baik kita ke kantin dan mengisi perut. aku yakin kamu pasti belum makan kan dari pagi." ucap Nesya kepada Arumi. tanpa mendengar persetujuan dari Arumi, Nesya langsung mematikan dan menutup laptop Arumi yang masih stand by untuk menunggu sang pemilik melakukan pekerjaannya. setelah itu, mereka langsung bergegas ke kantin.
***
akhirnya, arzanka yang merasa lelah dan rapuh itu tidak lagi melakukan keributan untuk meminta bertemu dengan Arumi. ia memilih diam dan seolah tak bersemangat melakukan apapun. arzanka juga, menjadi mogok makan, bukan karena ingin menarik perhatian omah opa dan ayahnya, entah kenapa rasa makanan itu benar-benar tidak enak di lidahnya. Iya juga lebih banyak mengurung dan menyendiri dan tak seceria biasanya.
hari ini arzanka menolak untuk beranjak dari tempat tidur, Iya lebih memilih menghabiskan waktunya di tempat tidur tanpa melihat oma opa dan ayahnya.
"mah, di mana Arza, tumben hari ini ia tidak membuat keributan. biasanya ia akan gigih meminta untuk bertemu dengan Arumi.." ucap Akbar ketika ia mendudukkan tubuhnya di meja makan untuk sarapan.
mendengar penuturan sang anak, Nyonya Larissa pun akhirnya tersadar. memang dari tadi ia merasa ada yang kurang, biasanya jam segini ya akan dibuat pusing oleh tingkah laku dan keinginan sang cucu. namun hari ini, arzanka tidak terlihat.
__ADS_1
"Oh iya ya, Mama belum melihat Arza dari tadi. biasanya tanpa dibangunkan, Iya sudah di sini merengek meminta tolong untuk menghubungi Arumi. kalau begitu papa dan kamu lanjutkan saja sarapannya, biar mama ke kamar Arza." Nyonya Larissa pun segera meninggalkan meja makan. kejadian yang tak biasa terjadi di rumah Maulana ini cukup membuat Nyonya Larissa menjadi khawatir. dengan langkah buru-buru, akhirnya Nyonya Larissa sampai di depan pintu Arza.
tok tok tok
Ceklek
pintu kamar arzanka diketuk dan dibuka oleh Nyonya Larissa. pintu kamar arzanka memang sengaja tidak dikunci oleh sang pemilik, itu semua atas permintaan Nyonya Larissa agar bisa membangunkan arza.
tap tap tap
terdengar suara langkah kaki memasuki kamar itu. arzanka yang mendengarkan langkah kaki, Iya memilih untuk tidak peduli sama sekali, Iya hanya memikirkan Arumi dan Arumi. Iya takut gadis itu akan meninggalkannya. Nyonya Larissa pun mendekat ke arah ranjang dan mendudukkan tubuhnya di samping ranjang.
"sayang cucu Oma yang paling ganteng, ayo bangun nak Ini sudah pagi. gosok gigi dan sarapan sama-sama, yuk..." ajak Nyonya Larissa. namun arzanka sama sekali tak terusik dengan ajakan itu, entah kenapa tatapannya tiba-tiba berubah menjadi kosong. Nyonya Larissa yang melihat cucu kesayangannya itu tak menanggapinya, Iya berusaha membujuk lagi.
"sayang, ayo dong.. Deddy dan opa sudah menunggu kita di meja makan. yuk bangun.." ucap Nyonya Larissa lagi, tapi tetap tak ada respon dari arzanka, jangankan merespon bergerak menggeliat saja tidak ia lakukan. hal itu langsung membuat Nyonya Larissa menjadi khawatir.
"sayang jangan seperti ini ya.. kamu membuat Oma khawatir. arza..." panggil Nyonya Larissa lagi. akhirnya Nyonya Larissa memutuskan untuk menggendong tubuh mungil itu, sungguh miris hati nyonya Larissa, karena berat badan sang cucu turun begitu drastis karena ia menolak makan. tatapannya juga berubah menjadi kosong, sehingga makin membuatnya Larissa mengkhawatirkan sang cucu.
***bersambung***
__ADS_1