PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
17. ke rumah sakit


__ADS_3

sudah 3 hari ini, arzanka Masih betah dengan kebisuannya. Akbar dan kedua orang tuanya tak henti-hentinya berbicara dan mengajak anaknya mengobrol, agar pikirannya teralihkan. namun jangankan menjawab atau menimpali pertanyaan itu, bahkan mengedipkan matanya saja arzanka enggan melakukannya.


bahkan, selama tiga hari ini, Nyonya Larissa belum bisa menghubungi Arumi. tentu saja itu cukup membuat Nyonya Larissa menjadi frustasi, melihat cucunya yang seperti itu, tentu saja ia tidak akan sanggup menyaksikannya.


"Bagaimana pah, Apakah ada kabar tentang Arumi... rasanya Mama benar-benar frustasi memikirkan ini semua." ucap Nyonya Larissa sambil meremas rambutnya dengan kuat.


"belum mah, sampai sekarang nomor Arumi belum bisa dihubungi. bahkan nomor Arumi sudah tidak aktif sebelum arza masuk rumah sakit. papa juga sudah meminta tolong kepada beberapa orang untuk mencari keberadaan Arumi. jadi Mama jangan terlalu dipikirkan ya.." ucap tuan timotian sambil membujuk istrinya.


mendengar penuturan tuan timotian, yang mengatakan bahwa Arumi belum bisa dihubungi, sontak membuat hanya Larissa menjadi khawatir. lagi-lagi pikiran negatif menghampirinya, Bagaimana kalau nanti Arumi malah meninggalkan cucunya.


Nyonya Larissa menatap ke arah sang cucu, di mana kondisi arzanka masih sama seperti sebelumnya. tidak ada perubahan sama sekali, walaupun mereka telah membahas nama Arumi di hadapannya. tapi Arza tetap tidak memberikan reaksi apapun


sementara di balik pintu, Akbar yang tidak sengaja mendengarkan obrolan kedua orang tuanya itu memilih untuk berdiri dan mendengarkan sampai selesai. mendengar penuturan tuan timotian yang sudah bergerak mencari keberadaan gadis itu cukup mencubit hatinya. pasalnya dirinya adalah seorang ayah bagi anaknya, namun sampai sekarang ia belum melakukan apapun untuk kesembuhan sang anak. tentu saja Akbar tahu apa yang dapat membantu kesembuhan putranya itu.


"ah sebaiknya Aku turuti saja keinginan Arza yang ingin menjadikan Arumi sebagai pengasuhnya. aku rasa itu lebih baik untuk sekarang." setelah itu Akbar langsung memilih masuk ke dalam.


ceklek


mendengar ada orang yang memasuki ruangan, Nyonya Larissa dan Tuan timotian langsung mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Akbar, kemarilah. Mama ingin berbicara denganmu sebentar.." ucap Nyonya Larissa kepada Akbar. Akbar pun menurut dan mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang ada di sana, Nyonya Larissa pun ikut mendudukkan tubuhnya di samping sang anak dan disusul oleh sang suami.


"Akbar, Mama mohon kamu jangan bersikap egois lagi. izinkan Arumi untuk berada di dekat arza, Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan cucu mama." ujar Nyonya Larissa kepada anaknya. sejenak Akbar terdiam sebelum akhirnya menjawab.


"terserah mama sama papa saja, kalau memang itu yang terbaik bagi Arza. aku akan mendukungnya ma." ujar Akbar yang sukses membuat hati nyonya Larissa begitu lega.


"nanti aku akan membantu pencarian dan menemukan Arumi." setelah Akbar selesai mengatakan hal itu tiba-tiba handphone Nyonya Larissa berbunyi.


Nyonya Larissa pun langsung melihat alamat panggilan itu, sontak wajahnya langsung berbinar. dengan segera ia langsung mengangkat panggilan itu.


Tut


"Oh iya maaf nyonya, tadi beberapa hari Kami pergi ke puncak dan di sana tidak ada jaringan. Setelah tiba kembali di kota, beberapa notifikasi panggilan masuk di HP saya. makanya saya menghubungi Nyonya kembali. Kalau boleh tahu ada apa ya nyonya..??" tanya Arumi kepada Nyonya Larissa. mendengar pertanyaan dari Arumi Nyonya Larissa pun langsung mengumpulkan keberaniannya.


"sebelumnya mama dan papa meminta maaf kepadamu, mungkin saja semua yang terjadi telah menyakiti hatimu. tapi hari ini Mama begitu sangat membutuhkanmu, apalagi arzanka. saat ini Arzanka tengah berada di rumah sakit, Mama mau minta tolong agar kamu mau menjenguknya." ucap Nyonya Larissa dengan suara yang sendu dan penuh permohonan.


tentu saja Arumi yang berada di seberang telepon yang mendengar bahwa Arza sedang di rumah sakit ikut terkejut.


"apa yang terjadi dengannya nyonya, kenapa sampai ke rumah sakit segala.. dia tidak apa-apa kan..??" tanya Arumi dengan nada suara cemas dan khawatir.

__ADS_1


"Arza mengalami depresi nak. makanya Mama sangat membutuhkanmu untuk membujuknya dan mengembalikan keceriaannya seperti semula, apalagi Iya sangat merindukanmu." ucap Nyonya Larissa, Nyonya Larissa tidak mungkin mengatakan bahwa Arza mengalami depresi karena merindukan Arumi. karena di sini bukan Arumi yang salah melainkan mereka yang telah melarang Arza untuk bertemu dengannya.


"Baiklah nyonya, saya akan segera ke sana." setelah mengucapkan salam, Arumi langsung memutuskan panggilan itu.


"Bagaimana mah, Apakah Arumi bersedia..??" tanya Akbar kepada ibunya. Nyonya Larissa pun langsung menganggukkan kepalanya.


"ingat ya bar, Jangan melakukan kesalahan termasuk mengatakan kata-kata yang menyakitkan. Mama benar-benar akan memarahimu nanti..* ucap Nyonya Larissa dan langsung dibalas oleh anggukan kepala dari Akbar seperti anak kecil.


***


sementara di tempat lain, Arumi kalang kabut dibuatnya setelah mendengar kabar mengenai Arza. bahkan Nesya yang masih berada di kosan Arumi ikut pusing melihat tindakan itu.


"Ada apa sih rum. kamu kok panik seperti itu..??" tanya Nesya karena belum mengetahui perihal apa yang didengar olehnya.


"aduh nes aku minta maaf. sebaiknya segera siap-siap temani aku ke rumah sakit. arzanka sedang sakit dan mengalami depresi, tadi Nyonya Larissa menghubungiku." ucap Arumi langsung to the point.


Nesya yang mendengar penuturan itu pun langsung ikut terkejut.


"Apa !! kamu serius..!!" akhirnya tanpa menghiraukan apa-apa lagi Nesya ikut bersiap dan menemani Arumi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Arza dan keluarga Maulana.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2