
hari demi hari, Arumi dengan senang hati menjalani perannya sebagai seorang ibu asuh bagi arzanka. ia juga sudah menyelesaikan tugas akhirnya dan telah selesai melaksanakan wisudanya dengan menyandang gelar sarjana. orang tua Arumi juga ikut hadir di acara itu.
flas waktu selesai wisuda
semua pada datang diacara bahagia ini bagi Arumi, termasuk keluarga Maulana. saat itu, arza lah yang paling antusias menghadiri acara wisuda Mommy nya. ditangannya terdapat bunga uang sebesar dan seukuran dirinya yang tentu membuat dia kewalahan untuk membawanya.
"Mommy..!!." teriak arza dari kejauhan. Ia berlari dengan riang gembira. terlihat Ia juga kesusahan membawa buket bunga yang besar itu.
Arumi dan kedua orang tuanya yang menyaksikan hal itu tersenyum. apalagi Arumi yang begitu terharu melihat anak asuhnya begitu gembira melihatnya.
Arumi pun langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut anak asuhnya itu.
"Jangan berlari nak.. nanti kamu jatuh.." ucap Arumi dengan penuh perhatian. Arumi pun langsung mengambil alih buket bunga uang yang disodorkan oleh Arza.
"untuk mommy..." ucapnya. arza memperlihatkan deretan gigi susunya kepada Arumi.
"wah... terimakasih anak mommy yang ganteng.. sini peluk dulu." ujar Arumi lagi. arza pun langsung berhamburan memeluk tubuh Arumi.
tak lama, Nyonya Larissa dan Tuan timotian pun bergabung bersama mereka. tampak terukir senyum manis di wajah keduanya.
"selamat ya Arumi. akhirnya kamu selesai dan menuntaskan kewajiban kamu. semoga kedepannya ilmu yang kamu pelajari bermanfaat bagi diri kamu sendiri dan orang banyak ya..." ujar Nyonya Larissa sambil memeluk Arumi. Begitu juga dengan tuan timotian.
setelah selesai acara wisuda itu, Arumi dan kedua orang tuanya serta Nyonya Larissa dan keluarganya pun kembali ke kediaman Maulana. memang Nyonya Larissa tidak keberatan menampung kedua orang tua Arumi di rumah itu. lagi pula mereka tidak akan lama di sana.
di sana juga, Nyonya Larissa dan Tuan timotian meminta kepada kedua orang tua Arumi agar mengizinkan Arumi bekerja di rumah mereka sebagai pengasuh Arza. mereka juga menceritakan apa yang dialami oleh sang cucu sampai akhirnya bertemu dengan Arumi. Jadi mereka berharap agar kedua orang tua Arumi mengizinkan Arumi untuk sementara waktu bekerja di kediaman mereka. tuan timotian dan nyonya Larissa juga akan mempekerjakan Arumi di kantor mereka sesuai dengan bidangnya.
Jadi ia akan mendapat dua pekerjaan, yaitu mengasuh Arza dan bekerja di kantor.
__ADS_1
karena tuan timotian dan nyonya Larissa telah menjanjikan pekerjaan untuk Arumi, mau tidak mau kedua orang tua Arumi menyetujuinya. lagi pula, kedua orang tua Arumi juga tidak yakin kalau di tempat mereka Arumi akan mendapatkan pekerjaan.
flas of
"mommy... hari ini Arza akan masuk sekolah. Mommy temani Arza ke sekolah ya..." ujar arzanka membujuk Arumi untuk mengantarkannya ke sekolah dan menunggu dirinya.
"tentu saja anak Mommy yang ganteng. Mommy akan menemani Arza perdana masuk sekolah, sampai nanti Arza keluar dari sekolah." ujar Arumi lagi. Arza pun tersenyum senang mendengar penuturan Arumi.
"kalau begitu terima kasih ya mommy..." ucap arzanka lagi. setelah itu Arumi lanjut menyiapkan bekal apa saja yang akan dibawa oleh Arza. Setelah semuanya selesai, Arumi pun langsung membawa Arza turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan keluarga yang lainnya.
***
kini mereka telah berada di meja makan. tanpa Arumi sedang sibuk mengurus arzanka dan menyuapi anak itu. Di sana juga ada Nyonya Larissa tuan timotian dan Akbar.
dari tadi, Akbar terus memperhatikan interaksi anaknya dan Arumi. ya menyaksikan mereka dengan wajah datar dan tak terdeteksi sedang memikirkan apa. di saat orang sedang sibuk sarapan, tiba-tiba Akbar bersuara.
"Arza, ini adalah hari pertama Arza masuk sekolah kan. tenang saja, tidak perlu gugup karena Deddy akan menemanimu." ujar Akbar kepada putranya. mendengar suara dari Akbar, mereka semua pun langsung mengalihkan atensi mereka kepada Akbar. Begitu juga dengan arza.
setelah itu, mendengar penuturan sang anak, Akbar pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah Arumi. sontak saja keduanya langsung ber-sitatap. tapi tak lama Arumi langsung memutuskan pandangannya. namun tidak dengan Akbar, ia memilih menatap wajah Arumi dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Nyonya Larissa yang melihat putranya menatap Ibu asuh arzanka langsung berdehem untuk mencairkan suasana.
"hem...Hem... sebaiknya kalian berdua menemani Arza saja. lagi pula, Arza juga membutuhkan kalian berdua. jadi tidak perlu saling menatap seperti itu.." ujar Nyonya Larissa dengan santai. Akbar yang mendengar penuturan Nyonya Larissa pun langsung mengalihkan pandangannya dari sana.
"Iya Deddy. kalau Deddy mau nganterin Arza ke sekolah, bareng saja dengan mommy. lagi pula, Arza mau ada Mommy yang mendampingi Arza. nggak papa kan Deddy..." ujar Arza kepada Akbar.
sementara Arumi yang tidak ingin mengatakan apapun lebih memilih diam. Iya yakin bahwa Akbar tidak akan sudi pergi berdua Untuk mengantarkan arzanka. lagi pulang, dari pertama kali bertemu Akbar sudah menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Arumi. jadi Arumi lebih memilih diam, Iya juga tidak ingin ikut campur dan terlibat dalam urusan orang lain.
__ADS_1
"huf.. Ya sudah kalau begitu, Deddy akan menemani Mommy dan Arza."; ucap Akbar menyertakan kata mommy kepada Arumi. karena kalau Akbar tidak memanggil Arumi dengan sebutan mommy, maka Arza akan marah padanya, seperti sebelum-sebelumnya. arzanka marah terhadap Akbar yang tidak memanggil Mommy kepada Arumi, yang berakibat Arza mendiamkannya selama beberapa minggu. ( miris juga ternyata ya)
"Baiklah Deddy... terima kasih sudah mau ngedampingin Arza." ucap arzanka sambil terus mengunyah makanan yang disuapkan oleh Arumi kepadanya.
mendengar penuturan putranya yang begitu tulus berterima kasih kepada dirinya itu. sekelibat senyum terbit di bibir Akbar. ternyata tidak sulit membuat anaknya mengucapkan hal kecil itu. yang penting tidak melukai Arumi yang telah Arza klaim sebagai mommy nya.
***
kini Arumi, Akbar dan arzanka telah sampai di sekolah taman kanak-kanak. Arga begitu senang dan bersemangat karena di hari pertama ia bersekolah langsung didampingi dengan Mommy dan Deddy Nya. walaupun Arumi bukanlah ibu kandungnya. namun rasa sayang Arumi kepada Arza memang tidak bisa diragukan lagi.
"Daddy, mommy. terima kasih udah nganterin Arza sekolah ya. arza senang banget.." ucap arzanka berterima kasih kepada Deddy dan mommy nya. Arumi pun langsung tersenyum dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi arzanka.
"Iya sayang sama-sama... belajar yang rajin ya.." ternyata kalimat itu cukup membuat dan membakar semangat di dalam diri arzanka untuk belajar.
"baik Mommy. Deddy kalau berangkat kerja hati-hati di jalan ya.." ucap arzanka lagi. Akbar tersenyum simpul melihat perhatian putranya itu kemudian menganggukkan kepalanya walaupun ia enggan untuk mengeluarkan suara.
Kenapa Akbar enggan mengeluarkan suaranya ? karena saat ini hatinya sedang berdetak tak karuan, banyak pasang mata yang menilai mereka adalah sepasang keluarga kecil yang bahagia. padahal tidak seperti itu. barangkali Itu hanya pikiran Akbar saja sehingga memicu jantungnya yang berdetak dengan cepat.
setelah itu gurunya datang untuk membawanya masuk ke dalam.
"permisi Nyonya tuan, si kecil saya bawa masuk ke dalam karena sudah waktunya untuk belajar." ujar Sang guru dengan sopan kepada kedua orang tua murid yang ia anggap itu. Arumi pun langsung beranjak berdiri dan menyerahkan Arza kepada gurunya.
"Iya Bu, saya titip anak saya ya Bu. kalau ada apa-apa dengan anak saya tolong kabari kami." ujar Arumi berpesan kepada Sang guru. Akbar pun seketika merogoh sakunya dan mengambil kartu namanya.
"nanti kalau terjadi apa-apa dengan anak saya, tolong hubungi saya. dan ini kartu nama saya." ujar Akbar sambil menyerahkan kartu nama yang berwarna hitam itu. di sana juga sudah tertera nomor teleponnya dan pekerjaan sang ayah bagi Arza.
guru Arza yang melihat dan menerima kartu nama itu pun langsung tercengang. ternyata Arza adalah anak dari orang yang tidak bisa dianggap remeh.
__ADS_1
"Baiklah tuan. kalau begitu kami permisi dulu." setelah mengatakan hal itu. guru itu pun langsung berlalu dan membawa Arza masuk ke dalam kelas. Begitu juga dengan Arumi dan Akbar. selepas kepergian Arza, Akbar langsung berlalu meninggalkan Arumi di sana. Iya pergi tanpa mengatakan apapun yang tentu saja membuat Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
***bersambung***