
Malam pun semakin larut. Akbar kembali ke apartemennya. saat ia masuk ke dalam apartemen, Iya kembali merasakan keheningan dan kesunyian. lagi-lagi Hanya bisa menarik nafas dengan hampa. iya berpikir, sampai kapan ia akan terjebak dalam dunia masa lalunya.
tapi Akbar tidak peduli, yang memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya. saat ia sedang mengaca, tiba-tiba di pikirannya terlintas tentang anaknya.
"arzanka Maulana... " ucapnya dengan lirih. sontak saja tatapan Akbar menjadi sendu. ia berjalan ke arah sebuah nakas, kemudian menarik laci yang ada di sana. di dalamnya terdapat sebuah foto bayi mungil yang sangat lucu. Akbar meraih foto tersebut dan mengusapnya dengan lembut.
"Bagaimana kabarmu anakku, maafkan ayah telah lari darimu selama 3 tahun." ucap Akbar sambil mengelus-elus foto tersebut.
tes
tak terasa Akbar meneteskan air matanya. dalam hati Ia juga tak berhenti mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melupakan perbuatan mantan istrinya, sehingga menyebabkan dirinya mengabaikan anak yang sangat membutuhkan sosoknya.
Akbar cepat-cepat mengusap air matanya, dan mengalihkan pandangannya dari foto tersebut. Akbar berjalan pelan ke arah balkon kamarnya sambil tangannya masih memegang foto bayi mungil itu. Akbar menatap jauh ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"sampai kapan aku akan seperti ini. Apakah aku begitu mencintai Cynthia sampai tidak bisa melupakannya. jangan bodoh kamu Akbar !! dia telah melupakanmu." ucap Akbar kembali merutuki kebodohannya.
Akbar terus berdiri dan menatap kosong ke depan. sementara suasana semakin dingin menusuk ke dalam tulang. Namun sepertinya itu sudah menjadi makanan Akbar sehari-hari. setiap dia pulang kerja, Iya pasti akan bermenung dan berdiri di balkon tersebut sambil tatapannya lurus ke arah depan.
"ayaah... hihihi..."
tiba-tiba Akbar tersadar mendengar panggilan itu. ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari asal dari suara tersebut. tapi lagi lagi Iya tersadar.
"ah ternyata cuma halusinasiku.. aku pasti termenung dan pikiranku kosong. huh benar-benar sial, sampai kapan akan terus seperti ini." ucap Akbar kembali. setelah merutuki kebodohannya, Ia pun langsung memutuskan untuk masuk ke dalam dan mengistirahatkan tubuhnya, dari rasa lelah, dan juga rasa bersalah kepada anaknya.
***
esok hari menjelang. di kediaman Maulana, arzanka membuat ulah. di mana ia meminta kepada opa dan Omanya untuk mengantarkannya ke tempat Arumi.
"Oma...!!!! Oma....!!! opa...!!" panggil arzanka sambil menuruni tangga dengan langkah kecil dan kaki mungilnya. Nyonya Larissa yang melihat cucu kesayangannya berlari sambil berteriak-teriak seperti itu menjadi cemas. Begitu juga dengan tuan timotian. Iya yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor, langsung berlari keluar ketika mendengar teriakan sang cucu.
"Ada apa sayang.. Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu. nanti tenggorokan kamu sakit nak.." ucap Nyonya Larissa dengan penuh perhatian dan kasih sayang. arzanka pun langsung merengek sambil memeluk kaki kanan omahnya.
"Oma, antarkan Arza ke rumah mommy. hiks.. tadi arzanka bermimpi, kalau Mommy meninggalkan arzanka. Arza ingin bertemu dengan Mommy Oma..hiks..." ucap arzanka sambil menangis.
arzanka benar-benar sangat mencintai Arumi sebagai Mommy nya. sehingga ketika mimpi itu datang menghampirinya, langsung membuat arzanka menjadi takut dan histeris. Nyonya Larissa yang melihat betapa arzanka sangat menyayangi Arumi yang baru pertama kali ia lihat itu, memasang wajah iba ke terhadap cucunya. seharusnya sang cucu mendapatkan kasih sayang ayah dan ibunya. Namun kedua orang tua anak ini malah egois dan mementingkan kehidupan mereka masing-masing.
Nyonya Larissa pun langsung men sejajarkan tubuhnya dengan tinggi arzanka, dengan sayang nyonya Larissa mengelus pelan rambut yang cucu.
"sayang, itu hanyalah sebuah mimpi yang merupakan bunga tidur untuk Arza. Mommy Arza tidak akan kemana-mana, bukannya tadi Mommy sudah janji akan menghubungi Arza kalau mommy sudah selesai kuliah..??" ucap Nyonya Larissa membujuk sang cucu. dari arah kamar tuan timotian keluar dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"ada apa ma..?? Kenapa Arza teriak-teriak seperti itu..??? apakah terjadi sesuatu..??" tanya tuan timotian dengan beruntun. Arza yang melihat kedatangan kakeknya pun langsung berpindah, Iya juga mengadu kepada sang kakek.
"opah, opah tolongin Arza, Mommy Arumi akan meninggalkan Arza. Arza mau ketemu sama Mommy. tolong Arza opa..hiks" aduh arzanka Kakak pada tuan timotian. sementara Nyonya Larissa hanya mampu memberikan ekspresi sayu di wajahnya.
sementara tuan timotian yang begitu sangat menyayangi arzanka, dan ketika mendengar aduan dari cucu kesayangannya itu langsung membuat tuan timotian tidak dapat mengatakan apa-apa. terlihat dari sorot mata arzanka yang ketakutan akan kehilangan mommy nya.
"sayang, Mommy Arza tidak akan kemana-mana. memangnya Arza tidak percaya sama Mommy. kan kemarin Mommy udah janji, kalau Mommy sudah menyelesaikan urusannya, Mommy pasti akan datang ke sini untuk menemui Arza." ucap tuan timotian tak kalah lembutnya.
arzanka pun menggelengkan kepalanya. Iya benar-benar marah, karena memang bukan ini jawaban yang ia harapkan. Iya hanya ingin bertemu dengan Mommy barunya. Iya sangat takut kalau Arumi benar-benar akan meninggalkannya seperti yang ia mimpikan tadi.
"opa sama oma tidak menyayangi Arza.!! Arza membenci opa sama oma.!!" setelah mengatakan hal itu, arzanka pun langsung bergegas meninggalkan kedua paruh baya itu dan masuk ke dalam kamarnya.
guw...
arzanka menutup pintu kamarnya dengan keras, sehingga suara benturan pintu sampai terdengar di telinga kedua paruh baya itu.
"pah, bagaimana ini . Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan arzanka.." ucap Nyonya Larissa dengan cemas. Tuan timotian pun langsung menenangkan istrinya.
" Mama tenanglah. lebih baik sekarang mama coba hubungi Arumi, dan tanyakan kepadanya kapan ia akan ke sini." ucap Tuan timotian sambil mengelus lembut punggung sang istri.
Nyonya Larissa pun langsung menganggukkan kepalanya tanda apa yang dikatakan suaminya itu benar.
"Ya sudah kalau begitu. sebaiknya papa siap-siap dan segeralah berangkat agar cepat pulang. sementara nanti Mama akan mencoba membujuk arzanka." ucap Nyonya Larissa kepada suaminya. Tuan timotian pun langsung kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kantor. Jujur saja ia sudah sangat telat.
"mah, papa berangkat dulu ya..!! kalau ada apa-apa segera hubungi papa..." ucap tuan timotian dengan penuh perhatian. Nyonya Larissa pun menyalami tangan sang suami sebagai tanda baktinya kepada suaminya. Begitu juga dengan tuan timotian, Iya juga menenggelamkan satu kecupan di dahi sang istri. dan itu sudah menjadi kewajiban setiap kali Tuan timotian akan berangkat kerja. setelah itu Tuan timotian langsung berangkat.
***
Nyonya Larissa terus berusaha membujuk cucunya yang sedang marah karena tidak mengindahkan permintaan sang cucu. namun Nyonya Larissa tentu saja tidak menyerah untuk membujuk cucunya itu.
"sayang jangan terus marah seperti ini dong.. nanti Oma jadi sedih.." ucap Nyonya Larissa dengan menghiba. tak ada respon yang diberikan oleh Arzanka. Iya bener-bener marah saat ini. Nyonya Larissa yang melihat sifat cucunya kembali seperti semula tidak tinggal diam.
"ya sudah, kalau begitu kita coba telepon mommynya Arga. bagaimana..??" ucap Nyonya Larissa. Arza lagi-lagi tak menggubris apa yang dikatakan oleh Nyonya Larissa. melihat cucunya yang begitu terpuruk akan takut ditinggal oleh Arumi langsung berinisiatif untuk menghubungi Arumi segera. padahal waktu masih menunjukkan pagi hari.
Tut
"assalamualaikum...." suara orang yang mengucapkan salam di seberang telepon. Siapa lagi kalau bukan Arumi. arzanka yang mendengar suara Arumi itu pun langsung bergegas bangkit dari tidurnya.
"mommy...!!!" seru arzanka. arzanka mendekatkan dirinya ke arah sang nenek, yang sukses membuat Nyonya Larissa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku cucu semata wayangnya ini.
__ADS_1
"mommy... mommy mendengarku di sana...?? mommy, kapan mommy jemput Arza, Arza sudah sangat merindukan mommy." rengek Arza. bahkan Nyonya Larissa belum mengatakan apapun kepada Arumi, eh.. langsung diserobot oleh cucunya.
dibalik telpon, Arumi tersenyum mendengar rengekan dari Arzanka. ia tidak menyangka, diumur yang masih 20 ini, ia sudah memiliki seorang anak. ya, walau pun bukan anak kandung.
"Mommy pasti bertemu dengan Arza. tapi, Mommy harus kuliah dulu. siap kuliah, baru Mommy ketemu Arza ya.." ucap Arumi dengan penuh kasih sayang dan perhatian kepada Arza. arzanka mengerucutkan bibirnya ketika mendengar penuturan Arumi. namun anak itu tidak kehilangan akal.
"memangnya mommy kuliah dimana ..??" tanya Arzanka dengan penasaran.
"Mommy kuliah di universitas UGM." ucap Arumi sambil tersenyum manis. Arza yang melihat Arumi tersenyum pun, ia ikut tersenyum.
"lalu, jam berapa Mommy akan kuliah, dan jam berapa selesai nya..??" tanya Arzanka dengan antusias. nyonya Larissa yang melihat keantusiasan cucunya itu merasa aneh.
"mommy akan kuliah jam 8 pagi, dan berakhir pada jam 12 siang.." ucap Arumi lagi. Arumi yang sedang melakukan video call dengan Arza langsung tersadar, ia melihat mata Arzanka sepertinya membengkak.
"sayang, mana Oma... kenapa Arza yang pegang hp Oma..??" tanya Arumi. arzanka yang mendengar pertanyaan dari Arumi langsung mengarahkan pandangannya ke arah Omanya.
"ada mommy, tuh Oma..." ucap Arzanka sambil mengarahkan kamera ke arah Nyonya Larissa. Nyonya Larissa pun langsung mengucapkan salam menyapa Arumi.
"assalamualaikum Arumi... maaf ya mama mengganggu..." ucap Nyonya Larissa. Iya benar-benar merasa tidak enak mengganggu waktu gadis ini.
"tidak apa-apa mama... Oh iya ma, Kenapa mata arzanka sepertinya bengkak... Arza menangis ya..??" ucap Arumi yang kini layar hp-nya dipenuhi oleh wajah arzanka. arzanka langsung mengerucutkan bibirnya kembali.
"tadi arzanka menangis, Arza meminta Oma dan opah Untuk mengantarkan arzanka ke kosan mommy. tapi Oma sama opa tidak ada yang mau. Mommy arzanka tidak mau ditinggal oleh mommy. jangan tinggalkan arzanka ya.." ucap arzanka dengan tatapan sendu. yang tentu saja membuat hati Arumi menjadi tercubit. Arumi yang notabenenya tidak tegaan kepada anak kecil, membuat hatinya langsung tersentuh melihat wajah sendu dari arzanka. Arumi pun langsung mengukir senyum di bibirnya.
"sayang... Kenapa berbicara seperti itu..??" tanya Arumi. namun tidak dijawab oleh arzanka, tiba-tiba setetes air mata arzanka langsung jatuh begitu saja. entah apa yang anak kecil ini rasakan, yang pasti hatinya merasa pilu. Arumi dan nyonya Larissa yang melihat hal itu langsung menatapnya dengan sendu. sementara Nyonya Larissa langsung memeluk cucu satu-satunya dengan penuh kasih sayang.
Nyonya Larissa juga merasakan kesedihan yang menimpa cucunya ini. namun ia tidak ingin menunjukkan rasa sedihnya kepada cucunya.
"Arza. nanti kalau Mommy sudah selesai kuliah, Mommy akan ajak Arza jalan-jalan ya.. Tapi janji sama Mommy, Jangan sedih lagi. ingat Arza adalah anak yang kuat, dan Arga adalah punya Mommy. ingat ya..." ucap Arumi dengan penuh kelembutan. mata arzanka kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Arumi. Iya juga sangat senang ketika Arumi mengatakan akan mengajak dirinya jalan-jalan. sontak saja arzanka langsung menganggukkan kepalanya.
"baik mommy. tapi Mommy janji kan akan mengajak Arza jalan-jalan." tuntut arzanka lagi. Arumi pun menganggukkan kepalanya.
"Iya sayang, Mommy janji. tapi sekarang, ngobrolnya kita sudahi dulu ya. mommy mau siap-siap akan berangkat kuliah." ucap Arumi dan langsung disetujui oleh arzanka.
"Baiklah mommy. aku tunggu kedatangan mommy, assalamualaikum Mommy, arzanka sayang mommy..." ucap arzanka dengan mata yang berbinar-binar. Arumi pun langsung membalas salam dari arzanka.
"waalaikumsalam sayang..." setelah itu arzanka pun langsung menutup panggilan. kemudian ia menatap ke arah sang Oma. arzanka memberikan senyum penuh arti kepada Omanya.
"Oma... Arza minta maaf ya.. tadi Arza sudah membuat Oma dan opa menjadi sedih." ucap Arzanka dengan penuh kasih sayang. Nyonya Larissa terkejut mendengar perubahan cucunya ini, apalagi mendengar sang cucu meminta maaf kepadanya. sungguh ini adalah didikan yang sangat positif untuk cucunya ini.
__ADS_1
"Iya sayang, Oma pasti memaafkan Arza. karena arza segalanya bagi Oma dan opa..." ucap Nyonya Larissa. Iya pun langsung merangkul tubuh mungil cucunya itu. Arza juga ikut membalas pelukan sang oma.
***bersambung***