PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
15. depresi


__ADS_3

tap tap tap


suara langkah kaki Nyonya Larissa menuruni tangga dengan arzanka yang berada dalam gendongannya. Ia pun berjalan menuju ke arah meja makan di mana suami dan putranya berada. tuan timotian dan Akbar yang melihat Arzanka yang berada di gendongan Nyonya Larissa dan tidak seperti biasanya langsung mengerutkan kening.


"ada apa ma, tumben arzanka mau digendong oleh Mama. biasanya ia akan menolak dengan alasan ia bukan anak kecil lagi.." tanya Tuan timotian sambil tersenyum mengingat kelakuan cucunya seperti biasa. raut wajah Nyonya Larissa menjadi sendu.


"Pah mama begitu khawatir, dari tadi Arza tak meresponku. makannya aku memutuskan untuk membendungnya turun ke bawah, dan papa lihat, pipi chubby dari Arza tidak ada lagi bahkan mama merasa berat badannya juga turun dengan drastis." ucap Nyonya Larissa yang sudah mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di sana. Iya juga mendekap tubuh arzanka yang masih belum merubah ekspresi wajahnya.


tuan timotian dan Akbar yang mendengarkan penuturan dari Nyonya Larissa juga ikut memperhatikan tubuh arzanka. benar saja, bahwa pipi Cubi dan berat badannya sudah tidak ada lagi. bahkan Akbar melihat tatapan sang anak benar-benar kosong.


melihat hal itu, Akbar menghentikan sarapannya dan bangkit dari duduknya, Iya juga berjalan ke arah Nyonya Larissa.


"sayang, Arza kamu harus makan ya nak, lihat pipi chubby dan berat badanmu sudah tidak ada lagi. Deddy janji, nanti Deddy akan mengajakmu bermain keluar." ucap Akbar kepada sang anak yang masih berada dalam pangkuan Nyonya Larissa.


ternyata penuturan itu sama sekali tidak direspon oleh arzanka, sama halnya ketika Nyonya Larissa mengajaknya turun ke bawah. tubuh arzanka seolah mati rasa dan tak bisa digerakkan. melihat hal itu Akbar kembali diliputi rasa khawatir, Tuan timotian juga ikut mendekat.


"sayang cucu apa yang paling ganteng, benar kata Deddy mu nak. makanlah dulu, setelah itu oma opa dan Deddy mu akan menemanimu jalan-jalan keluar dan bermain sepuasnya." ucap Tuan timotian ikut membujuk sang cucu. tapi tetap tak ada respon dari arzanka.


tak berhenti di situ, mereka semua menghentikan aktivitas sarapan pagi kini tujuan mereka berfokus kepada arzanka. mereka saat ini telah berpindah ke ruang tamu, dengan posisi Arzanka yang masih berada dalam pangkuan Nyonya Larissa.


tuan timotian, Nyonya Larissa dan juga Akbar tak henti-hentinya mengucapkan sesuatu untuk menghibur arzanka. mereka juga menawarkan semua wahana untuk dikunjungi kepadanya, kecuali satu yaitu mereka tidak menyinggung masalah Arumi. usaha mereka tentu saja sia-sia, karena sampai mulut mereka berbusa maupun berbuih, tak satupun kata-kata mereka didengar oleh arzanka.

__ADS_1


"mah ini bagaimana..?? Apa yang harus kita lakukan..??" tanya Akbar dengan perasaan cemas.


"aku takut Arzanka mengalami depresi. Bagaimana kalau kita membawa Arza ke rumah sakit mah..!!" seru Akbar. Nyonya Larissa bantuan timotian langsung setuju dengan usul Akbar.


"Ya sudah kalau begitu, tunggu apalagi bar ayo.." mendengar penuturan Akbar seperti itu tentu saja membuat kedua paruh banyak itu menjadi khawatir. pasalnya depresi ini sulit untuk disembuhkan, apalagi sang pasien menolak untuk sembuh dari rasa depresinya.


Akbar pun langsung beralih menggendong arzanka, sementara Nyonya Larissa berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil tasnya. Akbar dan Tuan timotian sudah bergegas menuju mobil bersama arzanka, tak lama Nyonya Larissa pun ikut menyusul.


" Pak Jojo ayo ke rumah sakit.." ucap Akbar Kepada sopir mamanya itu, entah kenapa karena merasa panik, ia tidak bisa menyetir sendiri takut terjadi apa-apa.


Pak Jojo yang mendengar perintah dari tuan mudanya itu, Iya langsung bergegas masuk ke dalam mobil disusul oleh kedua paruh baya itu. tanpa menunggu lama, mobil itu pun segera meninggalkan halaman kediaman keluarga Maulana dan menuju rumah sakit.


***


ceklek


tak lama dokter itu pun keluar dari ruang periksa arzanka. keluarga itu buru-buru langsung menemui sang dokter.


"Bagaimana kondisi anak saya dok..??" tanya arzanka kepada dokter Ferry. dokter Ferry mengatupkan bibirnya kemudian sedikit menarik nafas sebelum memulai menyampaikan hal yang dialami oleh cucu dari keluarga Maulana itu.


"huh.!! tuan dan nyonya, sakit yang dialami oleh Tuan muda yaitu ia mengalami depresi. dimana depresi ini adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak dianggap berharga oleh lingkungan sekitarnya. " tutur sang dokter.

__ADS_1


mendengar penuturan sang dokter, keluarga Maulana itu pun langsung terkejut. mereka Langsung melihat satu sama lain, tentu saja mereka tahu hal yang membuat arzanka menjadi depresi.


"lalu apa yang harus kami lakukan dok...??" tanya Nyonya Larissa lagi. sementara Akbar ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya lagi, mendengar penuturan sang dokter tiba-tiba otaknya jadi blank, ia memilih untuk mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi tunggu.


"Saya rasa, yang harus dilakukan tidaklah terlalu berat. ajak ngobrol terus, dan penuhi apa yang menjadi keinginannya. mungkin saja, Di sana ia akan merasa terhibur." ucap sang dokter lagi.


"Baiklah kalau begitu dok, terima kasih atas saran dari dokter." ucap Nyonya Larissa lagi.


"sama-sama nyonya, kalau begitu saya pamit. kalau ada apa-apa silakan hubungi saya lagi.."; ucap dokter Ferry kepada keluarga itu. setelah itu ia langsung meninggalkan mereka di sana.


setelah kepergian sang dokter, Nyonya Larissa dan Tuan timotian buru-buru masuk ke dalam ruangan itu. Tuan timotian juga ingin melihat kondisi cucunya.


ternyata saat ini Arza sedang tertidur karena obat bius yang disuntikkan oleh sang dokter.


"mah papa urus administrasi dulu dan memindahkan Arza di ruang VIP ya. Mama di sini saja dulu temani arzanka, dan kalau bisa hubungi Arumi segera. kita tidak bisa membiarkan Arzanka terus seperti ini, sungguh ini adalah jalan yang salah, papa benar-benar tidak menginginkan arzanka mengalami depresi seperti ini." ucap Tuan timotian kepada sang istri. sementara Nyonya Larissa ia sudah meneteskan air mata melihat keadaan sang cucu.


"Baiklah Pa.." ujar Nyonya Larissa lagi. setelah itu Tuan timotian langsung keluar dan menuju tempat untuk mengurus administrasi serta perpindahan ruangan untuk Arzanka.


sementara Akbar, Iya masih tetap berada di luar. penuturan sang dokter seolah menjadi sebuah pukulan terbesar bagi Akbar, karena Akbar tahu sendiri apa yang menyebabkan putranya itu depresi. itu semua akibat dirinya yang melarang sang anak bertemu dengan Arumi.


sungguh selama sebulan ini, arzanka tidak meminta apapun padanya, kecuali meminta untuk bertemu dengan Arumi Arumi dan Arumi. tak terasa setetes air mata berasal dari Akbar jatuh. Iya kembali mengingat masa-masa di mana ia merasa terpuruk karena ditinggal oleh Cynthia, yang menyebabkan dirinya ikut menjadi depresi beberapa minggu, namun akhirnya bangkit kembali namun menghindari sang anak.

__ADS_1


"maafkan Deddy sayang..." ucap Akbar dengan lirih.


***bersambung***


__ADS_2