PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
12. sendu


__ADS_3

Suasana ditempat itu begitu mencekam, semua yang ada di sana membungkam mendengar penuturan Nyonya Larissa. mendapati suasana yang seperti ini, Nesya langsung angkat bicara dan berpamitan dengan keluarga itu.


"maaf nyonya. kalau begitu kami pamit dulu." ucap Nesya dengan dingin. ia masih merasa sakit hati dengan penuturan Akbar. Nesya pun langsung menggenggam tangan Arumi dan membawa Arumi keluar dari kediaman keluarga Maulana.


"ayo rum. kita pulang.." Ucapnya. setelah berpamitan, keduanya pun langsung keluar.


arza yang melihat perempuan yang dicintai nya keluar meninggalkan nya tanpa mengatakan apapun, bergegas ia langsung mengejar keduanya.


"Mommy..!! Mommy tunggu arza..!! hiks.." ujar arzanka sambil berlari mengejar keduanya. untuk sesaat, Nesya terus berjalan cepat sambil menarik tangan Arumi. sementara Arza berlari dan memanggil manggil Arumi.


nyonya Larissa dan Tuan timotian pun ikut menyusul Arzanka. mereka tidak memperdulikan Akbar yang masih setia dalam diam dan posisi duduknya itu.


"Mommy tungguin Arza Mommy...!!!" ujarnya lagi, sambil kaki kecilnya mengejar langkah dua orang dewasa itu. Arumi yang mendengar teriakkan Arza langsung bersuara.


"Nesya... tunggu sebentar nes.. Arza_" Belum selesai Arumi bicara, Nesya sudah menghentikan langkahnya kemudian melepaskan genggaman tangan nya itu dan menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan rasa kesal di hatinya.


sementara Arumi, ia berbalik dan melihat arzanka yang berlari menghampirinya.


hap


Arumi pun langsung menangkap tubuh kecil arzanka itu. ia merangkul tubuh mungil arzanka dengan hangat.

__ADS_1


"Mommy.. hiks... jangan marah sama arza.. hiks.. Mommy jangan ninggalin Arza.. Arza sayang sama Mommy.. hiks.." ucap arzanka sambil sesegukan.


Arumi yang masih memeluk Arzanka, begitu sangat prihatin dan merasa dunianya seolah runtuh ketika melihat anak yang disayanginya menangis seperti ini. namun ia juga hanya orang asing dan tak memiliki hubungan apa-apa dengan anak ini, sesuai dengan apa yang di katakan oleh Akbar kepadanya. namun percayalah, ia begitu sangat menyayangi anak itu.


"sudah ya, jangan nangis seperti itu. nanti Mommy ikutan sedih..." ucap Arumi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Arzanka. disana juga nyonya Larissa sangat merasa marah pada Akbar karena telah membuat cucu kesayangannya itu menangis.


Akbar tidak tau saja, bagaimana perjuangan Nyonya Larissa dan Tuan timotian membuat Arza menghilangkan wajah murung nya agar mengganti dengan wajah bahagia.


" Mommy, Arza ikut Mommy ya.. Arza mau sama Mommy..." ucapnya lagi. Arza masih sesegukan karena masih menangis. Arumi menarik nafasnya dengan dalam.ia menatap wajah anak kecil itu. kemudian membelai lembut rambut arzanka.


"sayang. untuk saat ini, Arza tidak bisa ikut Mommy. Mommy dan tante Nesya masih ada urusan lain. jadi mommy tidak langsung kembali ke kosan. Mommy juga kemungkinan akan lama, jadi Arza sama opah omah dulu ya..." ucap Arumi dengan penuh pengertian.


arzanka menundukkan kepalanya. ia benar-benar ingin ikut dengan Arumi. namun ia tidak ingin merepotkan Arumi. namun Arzanka tidak mengatakan apa-apa. ia hanya menunduk saja dengan perasaan sedih.


Arumi yang melihat anak itu Begitu sedih menjadi tidak tega. tapi, untuk saat ini, Arumi hanya mampu membujuk saja.


"sayang, jangan seperti itu donk ekspresi nya. Mommy benaran ada urusan diluar, jadi Arza tidak bisa ikut Mommy. Mommy minta maaf ya.." ucap Arumi lagi.


arzanka berpikir sejenak. karena Dimata Arumi tidak menyiratkan kebohongan, dan juga Arza tidak ingin Arumi menjadi jauh dari nya. akhirnya arzanka menurut saja.


"baiklah Mommy. untuk sekarang, Arza tidak akan ganggu kegiatan Mommy. Mommy dan tante Nesya mau berangkat kan.?? kalau begitu, hati-hati dijalan ya mommy. kalau urusan Mommy sudah selesai, jangan lupa, jenguk Arza ya.." ucap arzanka dengan suara sendu. sungguh ia tidak bersemangat sama sekali.

__ADS_1


cup


arzanka langsung meninggalkan satu kecupan sayang di pipi Arumi. kemudian, arzanka langsung meninggalkan mereka semua. ia berjalan dengan lesu dan masuk ke kamarnya. semua yang dilakukan oleh Arza, tak luput dari pengamatan sepasang paruh baya dan juga Arumi serta Nesya. Akbar juga melihat apa yang dilakukan oleh anaknya itu, hanya saja ia menatap mereka dari kejauhan.


***


diperjalanan, Arumi dan Nesya tidak mengeluarkan suara apapun. setelah berpamitan dengan sepasang suami istri itu, kini mereka sedang berada di perjalanan pulang. disaat mereka sedang keheningan, tiba-tiba Nesya mengeluarkan suara nya.


"rum.. kasihan anak itu ya. tapi aku cukup gedek sama bapaknya. ganteng sih, tapi kayaknya mulut dan pikiran nya itu sangat sempit." protes Nesya.


Arumi menghela nafasnya dengan berat ketika mendengar penuturan sang sahabat. jujur saja, saat ini, pikiran nya tertuju dan hanya di penuhi oleh arzanka. entah kenapa, ia tidak tega dengan anak kecil itu.


"Iya nes kamu benar.. sekarang saja pikiranku tertuju kepada Arza. mudah-mudahan ia tidak apa-apa...." ucap Arumi kepada Nesya. Jujur saja Arumi sangat mengkhawatirkan keadaan arzanka saat ini. Pasalnya tatapan anak itu tak seperti biasanya. Iya tahu, kalau arzanka sedang tidak baik-baik saja. tapi mau bagaimana lagi, untuk sekarang Hanya itu yang bisa ia lakukan.


***


sementara di tempat lain, Arza memilih masuk ke dalam kamarnya, ia berjalan dengan gontai dan tak bertenaga sama sekali. kalau bisa arzanka mengatakan sesuatu, Iya hanya ingin mengatakan bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Iya sangat merindukan Arumi, jika arzanka sanggup melawan Akbar, mungkin akan ia lakukan. arzanka akhirnya tiba di kamarnya dan menarik selimut serta tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


sementara Nyonya Larissa, sejenak ia menatap Akbar dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. namun tanpa mengatakan apapun, ia memilih berlari menyusul sang cucu. walaupun mustahil baginya untuk membujuk arzanka, namun Nyonya Larissa tidak putus semangat.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2