PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
16. berlibur sejenak


__ADS_3

sementara di tempat lain, Arumi dan Nesya memutuskan untuk pergi berlibur beberapa hari untuk menenangkan pikiran. karena mereka baru saja selesai melakukan sidang skripsi beberapa hari yang lalu. itu cukup membuat Arumi dan Nesya merasa sedikit plong. ya walaupun masih banyak revisi yang harus mereka kerjakan.


mereka memilih daerah puncak, yang menjadi salah satu tempat fenomena dan dapat menyaksikan sebuah panorama dari bentang alam.


"wah udara di sini bener-bener sejuk.. tidak sia-sia kita datang berlibur di sini rum.." ucap Nesya kepada Arumi. Arumi juga mengukir senyum di bibirnya, Iya juga tidak menyangka bahwa akan menyaksikan pemandangan yang begitu menyejukkan ini.


"Iya nes kamu benar, di sini pemandangannya benar-benar indah.." ucap Arumi dengan takjub. Nesya yang mendengarkan ucapan pujian yang keluar dari mulut Arumi langsung menggoda sang sahabat.


"Ya iyalah, makanya kalau diajak liburan itu harus mau rum. bukan hanya mengurung diri di kos dan sibuk mencari uang saja. " sindir desa kepada Arumi. mereka berdua langsung mendudukkan tubuh mereka di atas rerumputan hijau. mereka duduk sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapa tubuh mereka.


"Iya nes, mau bagaimana lagi. aku harus mendapatkan uang tambahan, ya walaupun orang tuaku juga mengirim untuk keperluanku. namun rasanya uang yang dikirim itu tentunya masih kurang dengan kebutuhan yang banyak." ucap Arumi kembali memikirkan kedua orang tuanya. tentunya bukan hanya dirinya yang akan diurus dan diperhatikan oleh kedua orang tuanya, kedua orang tuanya juga harus menabung untuk masa tua mereka.


"tapi ya sudahlah, yang pasti terima kasih hari ini ya nes sudah membandah kita.. Hehe..." ucap Arumi sambil tersenyum cengengesan ke arah sahabatnya itu. Nesya pun ikut tersenyum melihat tingkah dari Arumi.


***

__ADS_1


sementara di rumah sakit, Nyonya Larissa sedang mencoba menghubungi Arumi. namun nomor yang dituju itu selalu mengucapkan di luar jangkauan. Iya karena di puncak itu tidak ada jaringan.


"ke mana Arumi, Kenapa nomor teleponnya sama sekali tidak aktif dan selalu di luar jangkauan. ya Tuhan Jangan sampai gadis itu benar-benar meninggalkan cucuku, aku tidak sanggup melihat cucu kesayanganku seperti ini.." ucap Nyonya Larissa dengan pelan sambil memejamkan matanya meminta kepada sang pencipta agar tidak menjauhkan gadis itu.


ceklek


pintu ruang rawat Arza dibuka oleh Akbar. setelah Akbar cukup memenuhi dan memikirkan apa yang akan ia lakukan ke depannya, setelah itu Ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rawat sang anak.


di sana Nyonya Larissa langsung mengarahkan pandangannya ke arah Putra tunggalnya itu.


"Di mana papa bar... ??" saatnya Larissa bertanya seperti itu tiba-tiba nada dering teleponnya berbunyi. itu panggilan berasal dari tuan timotian.


"halo, papa assalamualaikum. di mana pa ? Apakah papa sudah selesai mengurus administrasi Arza.?" tanya Nyonya Larissa di dalam telepon.


"sudah mah, papa ingin menelpon karena ingin menyampaikan bahwa ada kegiatan mendadak di kantor, tiba-tiba saja para investor menginginkan untuk rapat direksi. papa mau minta izin sebentar untuk ke kantor, setelah itu papah akan ke kosan Arumi untuk menjemputnya. Apakah mama sudah memberi kabar kepada Arumi..??"; tanya Tuan timotian kepada Nyonya Larissa.

__ADS_1


"Mama sudah mencoba menghubunginya Pah, namun nomornya selalu berada di luar jangkauan. kalau begitu papa susul saja ke kosan Arumi, papa hati-hati di jalan ya.." ucap Nyonya Larissa kepada sang suami.


"Iya mah terima kasih, Mama juga baik-baik di sana ya. papa nggak akan lama. kalau begitu teleponnya papa tutup, assalamualaikum.." Ucap tuan timotian.


"waalaikumsalam..." setelah itu keduanya langsung mematikan dan mengakhiri panggilan itu.


setelah panggilan itu berakhir, Nyonya Larissa mendekat ke arah Akbar yang masih duduk termenung di samping brankar putranya. ia menatap wajah sang anak yang terlihat pucat dengan tubuh yang kurus karena menolak asupan makanan. tatapannya tersirat rasa sedih dan menyesal tentang apa yang ia lakukan. sejujurnya ia tidak ingin anaknya mengalami hal ini.


"bar.. Kamu tidak ke kantor..??" tanya Nyonya Larissa kepada sang anak. Akbar langsung menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan gusar.


"tidak mah, semua pekerjaan kantor sudah aku titipkan kepada Iqbal. aku akan berada di rumah sakit untuk menjaga dan merawat Arza di sini. aku yakin Arza pasti akan sembuh walau tanpa gadis itu." ucap Akbar kepada mamanya. Nyonya Larissa yang mendengar penuturan dari Akbar itu sontak menjadi kesal kepada Akbar.


"bar, kamu tidak bisa seperti itu. Apakah belum puas hatimu melihat anakmu seperti ini karena berjauhan dengan Arumi..?? jangan sampai kamu mau kehilangan anakmu baru kamu menyesali semuanya. Apa salahnya Arza dekat dengan Arumi, kamu juga bisa meminta Arumi untuk mendekatkan dirimu kepada anakmu. jangan terlalu membenci perempuan seperti itu hanya karena masa lalumu, karena kamu juga akan menyeret Mama sebagai seorang perempuan di dalam sana." ucap Nyonya Larissa menasehati Akbar.


Akbar yang mendengarkan penuturan Nyonya Larissa pun hanya mampu menutup matanya dan mencerna semua yang diucapkan oleh Nyonya Larissa.; semua yang dikatakan oleh Nyonya Larissa itu benar adanya, namun ia terlalu egois untuk mengakui Arumi sebagai seorang gadis yang berhasil menaklukkan putranya.

__ADS_1


Iya sempat berpikir bahwa gadis itu hanya ingin memanfaatkan anaknya untuk mendapatkannya, ( terlalu percaya diri memang.) namun pemikiran itu ia buang jauh-jauh, karena ternyata Rumi sama sekali tak mengenali dirinya sebagai ayah dari arzanka. jangankan mengenalinya sebagai orang tua dari Arza, Arumi pun tak mengenalinya sebagai seorang CEO di perusahaan Maulana itu. itu cukup memberikan bukti bahwa Arumi sama sekali tak mengejar seseorang atau laki-laki yang mapan dan memiliki segalanya.


***bersambung***


__ADS_2