PENGASUH BERHARGA

PENGASUH BERHARGA
26. histeris


__ADS_3

setelah bi Retno meninggalkan Arumi di sana, Arumi pun langsung mengemasi barang-barangnya yang sebelumnya telah Ia Angkut ke sana bersama dengan sopir yang bekerja di kediaman Maulana dan juga dibantu oleh temannya Nesya.


berhubung hari sudah mulai sore, Iya juga langsung membersihkan dirinya terlebih dahulu. sebelum memulai dan menunaikan semua kewajibannya. termasuk membangunkan Arza dan memandikan anak laki-laki itu, serta mengurusi semua keperluannya.


***


sementara itu, Akbar Maulana pun langsung memutuskan untuk kembali ke kediaman Maulana. semenjak Ia memutuskan untuk tinggal bersama putranya dan memperhatikan sang anak, saat itu jugalah Ia memutuskan untuk tinggal kembali di kediaman Maulana.


"bal, Aku pulang dulu ya. nanti kalau semua pekerjaan kamu telah selesai, kamu juga boleh pulang. untuk sementara jangan terlalu memaksakan diri dalam bekerja, karena kita tidak tahu besok-besok akan ada proyek besar apa di depannya. dah aku pulang dulu.." ucap Akbar kepada asistennya.


Iqbal merasa bingung mendengar sedikit penuturan mengayomi dari Akbar. sebelum merespon ucapan dari sang atasan, Iqbal mengerutkan keningnya dan berusaha memutar otaknya. kira-kira apa yang terjadi dengan tuannya.


"Baiklah tuan. apakah Tuan tidak mau diantar pulang..??" tanya Iqbal kembali.


"tidak perlu, Aku bukan anak kecil yang harus diantar jemput."protes Akbar. Iqbal mengerutkan keningnya lagi.


(loh !! bukannya memang seperti itu, Tuan sendiri yang minta diantar jemput. lah?? kenapa sekarang jadi protes..) ungkap Iqbal dalam hatinya.


(ini sedang tidak terjadi kiamat kan..??) ungkapnya lagi. dahinya berkerut dan tatapan matanya mengarah kepada Akbar. Akbar yang melihat hal itu langsung menembak dalam hatinya.


"jangan terus baru menolog dalam hatimu, kalau kamu heran katakan saja..!! Tapi satu hal yang harus digarisbawahi, satu pertanyaan satu persen bonus dipotong." ucap Akbar lagi.


Iqbal pun langsung bergidik nyari mendengarkan penuturan sang atasan.


( eh..!! aku pikir ada angin segar, sehingga tuan bersikap seperti ini. hai.. ternyata sama saja.. mending tidak usah bertanya, daripada bonus dipotong..) batinnya lagi. Iqbal juga mengatupkan kedua bibirnya mendengarkan ancaman itu. karena tentu saja ada banyak pertanyaan yang terlintas di kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu bos, hati-hati di jalan." ucap Iqbal akhirnya memutuskan untuk tidak berdebat dengan atasannya. karena ujung-ujungnya pasti bonus yang akan dipotong, atau akan diancam untuk dikirim ke Antartika. mending cari aman saja. begitulah pikir Iqbal.


"eh kamu ingin mengusirku segera.. sudah berani kamu ternyata ya.." ucap Akbar lagi sambil menaik turunkan alisnya. sontak saja Iqbal terkejut.


( haik... apa-apaan sih bos ini. begini salah, begitu juga salah. aduh lama-lama aku bisa gila memiliki bos yang seperti ini.. tapi ya sudahlah, lagi pula aku juga sudah cukup bertahan lama di sisinya. biarkan saja..) batin Iqbal lagi.


"hah !! terserah bos aja lah.. saya masih banyak pekerjaan. hati-hati di jalan bos.." ucap Iqbal. setelah itu ia langsung ngacir meninggalkan ruangan atasannya dan masuk ke dalam ruangannya. sementara Akbar, Iya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan asistennya itu.


Jujur saja, Ini baru pertama kalinya bagi dirinya untuk bersikap konyol seperti ini. biasanya ia akan selalu dingin, datar dan serius. hidupnya seperti monoton dan tidak ada perubahan. namun lain dengan hari ini. kira-kira apa ya yang terjadi dengan bos dingin ini.


brum


Akbar pun langsung meninggalkan kantor dan pulang menuju kediaman Maulana. 20 menit dalam perjalanan, akhirnya ia sampai di halaman kediaman Maulana.


"assalamualaikum..." ujar Akbar sambil kakinya berjalan masuk ke dalam rumah. walaupun tak ada yang menjawab salam dari, ia tetap mengucapkan nya. karena itu memang sudah menjadi sebuah anjuran.


keadaan rumah cukup sepi, karena mereka semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. begitu juga dengan Arza sang anak.


Akbar pun tak ambil pusing, ia langsung berjalan menuju lantai 2, dimana kamarnya berada.


ceklek


ia membulatkan pintu kamar nya dan masuk kedalam. setelah mengunci pintu dari dalam, Akbar pun langsung membuang tubuhnya di atas kasur king size nya itu.


Akbar sejenak memejamkan matanya, kemudian membuka kembali matanya dan menatap langit-langit kamar nya. seketika itu, pikiran nya mulai berkelana. termasuk kepulangan Cynthia, entah dari mana dia pergi.

__ADS_1


"huh!! sebaiknya aku mandi aja, biar segar." ucap Akbar. ia pun langsung beranjak dari tidurnya dan masuk kedalam kamar mandi.


***


sementara itu, tak lama, kediaman Maulana kembali ricuh. dimana arza sedang lari sambil memanggil Arumi.


pak pak pak


"Mommy..... hiks... Mommy..." teriak arza sambil turun dari tangga. ai matanya sudah berurai di pipinya.


arza begitu terkejut. karena saat ia membuka matanya, ia tidak menemukan Arumi disampingnya, itulah yang membuat ia histeris. sungguh dia tidak bisa kehilangan gadis itu.


sementara itu, beberapa pelayan yang bekerja di kediaman Maulana itu mulai menghampiri Arza, termasuk bibi Retno yang tidak sengaja sedang bekerja membersihkan beberapa perabot di ruang tamu itu.


"astaghfirullahaladzim tuan muda. ada apa..?? Kenapa tuan muda menangis seperti itu..??" tanya bi Retno sambil menghampiri Tuan mudanya. raut wajah Arza benar-benar sangat memprihatinkan, entah sudah berapa lama anak itu menangis.


sementara di tempat lain, Arumi yang masih membersih kan dan menata ulang tata letak kamarnya itu, tidak menyadari kalau di ruang utama sedang terjadi kegaduhan, akibat Arga yang terbangun tanpa menemukan dirinya di sampingnya.


"bibi Retno.. hiks.. di mana Mommy ku. Apakah Mommy sudah pergi lagi..?? hiks..." ucap Arza sambil terisak. ia mengadu kepada bibi Retno mengenai keberadaan Arumi.


mendengar penuturan Tuan mudanya itu, bibi Retno sejenak menghela nafasnya lega. ternyata tuan muda ciliknya itu menangis karena mencari keberadaan Arumi.


"Oh tuan muda cilik sedang mencari keberadaan Nona Arumi.. jangan menangis tuan muda, ayo ikut bibi. mommy nya Arza sedang di kamarnya." tutur bibi Retno. Ia pun membersihkan sejenak tangannya dan kemudian menggendong Arza untuk pergi menemui Arumi.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2