Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Kegilaan macam apa ini?


__ADS_3

Shiren sudah menunggu Bryan di teras rumahnya,  di temani Sheryl-Ibunya yang sedang membaca majalah. Ini adalah dua hari janji Bryan yang akan membawanya jalan-jalan, dan memastikan agar Shiren tidak merengek meminta putus. Tapi, apakah Bryan akan datang? Atau dia akan menghilang dengan alasan sibuk seperti yang sering ia lakukan beberapa bulan ini?


"Jadi jalan sama Bry, Nak?"


"Iya Ma,"


Tidak berapa lama Bryan datang dengan motor matic kali ini, baginya kenyamanan Shiren yang utama. BadanbShiren yang kecil,  cukup tidak nyaman jika harus naik motor setinggi itu.


Dia membuka helmnya, turun dari motor yang mengkilat.


"Apa kabar Ma?" Bryan menyalami tangan Sheryl lembut dan penuh kesopanan. Siapapun yang melihat Bryan saat ini, tidak akan menyangka bahwa dia adalah anak yang sering tawuran dan gak absen ikut balapan.


Panggilan 'Ma' memang sudah sering Bryan sebutkan untuk ibu dari sang kekasih, bahkan sebelum dia berpacaran dengan Shiren, Bryan sudah lebih dulu memanggil Sheryl-Ma.


"Baik, kamu apa kabar? Lama banget gak main ke sini." Sheryl juga menerima hangat sang calon menantu, dia sudah memberikan lampu hijau dan dukungan tinggi untuk keduanya. Karna dia memang sangat menyukai Bryan, dan menurutnya Bryan sempurna menjadi menantu dan suami dari anaknya nanti. Apalagi karasteristik Bryan yang bertanggung jawab sudah sangat di kenal oleh keluarga Arkasa.


Tidak pernah terbayang di benak Sheryl bahwa nantinya hubungan keduanya akan pupus, tidak akan pernah, menurutnya.


"Lagi sibuk Ma, tapi nanti Bry bakal sering-sering main ke sini. Bry usahain."


"Ya udah, mau jalan apa di rumah aja?" Shiren pikir, mau di luar atau ngeteh di rumah sudah cukup menarik asal orangnya lengkap.


"Bener juga, atau kita gak usah jadi jalan, di rumah aja? Ngobrol sama Mama?" Bryan juga tidak merasa keberatan. Dia memang  merindukan sosok Sheryl yang hangat, dan menerimanya dengan tangan terbuka.


"Kalian jalan aja, Mama nanti mau ke tempat temen Mama,"


"Oh gitu, ya udah, kalau gitu kami jalan dulu ya Ma."


"Iya, hati-hati ya, Nak."


Shiren melambaikan tangannya pada Sheryl saat motor yang ia dan Bryan naiki semakin menjauh.


"Kita kemana?" Shiren mulai membuka pertanyaan, dia berharap jawaban Bryan adalah salah satu tempat destinasi romantis.


"Basecamp gue, yang dekat gudang tua."

__ADS_1


Harapan Shiren pupus sudah saat sang kekasih malah mau membawanya ke tempat yang paling dia benci.


"Lo kesana, mending gue turun." Ketusnya yang sudah amat sangat kesal, tingkat kepekaan Bryan memang benar-benar menurun drastis.


"Kita kesana sebentar, ada yang mau gue kasih ke Nanta. Baru ntar kita jalan, kemanapun yang lo mau."


"Suka-suka gue?"


"Iya, suka-suka lo." Bryan menggenggam satu tangan gadisnya yang bertumpu di bahunya.


-


-


-


Akhirnya mereka sudah berhenti di sebuah bangunan sederhana, berwarna putih dan hitam, sangat klasik.


Oh, jadi ini Basecampnya? Dia sering nongkrong di sini?


"Mau ikut masuk apa tunggu di sini?" Bryan melepas helmnya, dia ingin melepas helm yang Shiren kenakan, namun Shiren menggeleng.


Mendengar ada suara motor berhenti di luar, pintu berwarna coklat itu terbuka, ada beberapa orang yang keluar dari sana, termasuk Nanta dan Arga, ah jangan lupakan Sarah dan satu teman wanitanya disana


Bryan tersenyum tipis menatap gadisnya. "Gak mau buka helmnya? Gue nyiumnya gimana?"


"Ya udah gak usah cium."


"Mana bisa gitu, itu kewajiban gue." Bryan tidak melihat celah dimana dia bisa meninggalkan jejak sayangnya. Ah, setelah di perhatikan lagi, sepertinya dia menemukan titiknya.


Dia mendekatkan wajahnya pada Shiren.


Di bibir?


Shiren baru berpikir begitu, tapi kecupannya jatuh di batang hidung sang gadis.

__ADS_1


"Tunggu bentar ya."


Semua orang disana terkejut, kecuali Nanta, Arga dan Sarah yang sudah tau tingkat kebucinan Bryan di sekolah.


Tentu saja mereka tidak percaya bahwa Bryan bisa begitu lembut pada sesama manusia. Bryan yang mereka kenal adalah sosok brengsek yang tidak ada duanya, bajingan tanpa ampun jika sudah turun ke medan tempur tawuran jalanan.


Sosok yang seperti itu? Bisa berbicara lembut dan berlaku manis? Oh, itu omong kosong, kan?


Bryan berbalik, dia sudah bisa menatap wajah terkejut dan tegang, tatapan mata seolah tak percaya bahwa itu adalah Bryan. Yah, dia tidak peduli bagaimana orang lain menilainya, selama dia bukan Shiren dan keluarganya.


"Bry! Lo kenapa bawa Shiren ke sini?!" Sarah menggenggam lengan Bryan, namun Bryan menepisnya sangat kasar hingga Sarah jatuh tersungkur. Tak ada yang berani berkutik, mereka diam tanpa bisik-bisik. Pemandangan ini sudah biasa bagi mereka.


Ya, itu bagi mereka, dan bukan Shiren. Shiren yang hanya menatap punggung Bryan juga tidak percaya, bahwa orang sekasar itu adalah kekasihnya yang selalu membelainya dengan lembut. Melihat punggung Bryan saja sudah mengerikan.


"Berisik, jangan sentuh gue kalau lo masih mau di sini." Itu adalah suara paling dingin yang pernah Shiren dengar dari mulut Bryan.


"Apa? Bukannya lo mau jalan sama Shiren?" Nanta sudah melihat Shiren yang tak nyaman, dia berharap Bryan segera membawa gadis itu pergi sebelum dia semakin ketakutan.


"Iya, gue kesini mau kasih ini. Liat dan tonton." Bryan memberikan sebuah memory card pada Nanta.


"Arghhh!!!"


Teriakan Shiren bersamaan dengan suara pecahnya kaca jendela dan kerusakan lain, karna banyak batu yang mendarat di sana.


Bryan menoleh ke belakang, sudah tampak Shiren dengan darah yang mengalir dari keningnya, darah yang membasahi wajahnya. Darah yang mengotori sebagian rambut sang gadis.


Badan Bryan sudah panas, jiwanya bergetar mengumpulkan amarah, rasa bersalah, dan khawatir bercampur dengan kemarahan yang berapi-api.


Dia berlari ke arah Shiren, nyaris gila dan ingin menghajar habis siapa saja dalang pelaku tersakitinya Shiren. Dia memeluk Shiren erat, menjadikan punggungnya sebagai tameng perlindungan sang kekasih.


"Sorry, lo masuk dulu. Nan! Jaga Shiren."


Shiren di bawa oleh Nanta ke dalam sebuah ruangan, banyak suara kericuhan di luar sana, membuat Shiren menutup telinganya. Ketakutan yang dia rasakan ini sangat mengguncang jiwanya, tidak pernah terpikir baginya bahwa dia akan terjebak di antara kejadian seperti ini.


"Sorry Shi, padahal gue dan Nanta udah usahain kasih waktu buat Bryan jalan sama lo. Hasilnya malah gini." Ujar Nanta penuh rasa bersalah, dia juga mengambil  kotak p3k.

__ADS_1


Shiren diem, dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, rasa sakit akibat batu yang mengenai helmnya, hingga membuat keningnya berdarah tidak ada apa-apanya dibanding jiwanya yang terguncang.


"Buka helm lo, kita obati dulu. Gue bisa kalau perban gitu."


__ADS_2