Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Harus Shiren!


__ADS_3

"Ibu sehat, oh iya Nak Shiren, mulai bulan depan kamu boleh kok berhenti berdonasi, toh juga selama lapan tahun ini kami semua udah menjadi beban kamu, kami sangat berterima kasih. Tapi sekarang, donatur tetap yang dulu sudah kembali, orang yang membangun panti asuhan ini udah jadi donatur tetap lagi, Shiren boleh berhenti, dan ibu sungguh benar-benar amat sangat berterimakasih sama kamu, makasihhh banyak banget, sampe kapanpun ibu bakal selalu ingat, begitu juga dengan anak-anak."


Shiren tau, perkataan itu bukanlah formalitas belaka, bukan pula basa-basi untuk berterimakasih, itu adalah kata-kata tulus dari ibu banyak anak di panti ini.


Itu tulus, Shiren percaya dengan pengelihatan matanya yang memandang sang ibu saat ini.


Tapi ada alasan lain yang membuat Shiren sedikit bingung. Siapa donatur panti ini sebelumnya? Dia datang dan pergi sesukanya.


"Tapi Bu, meski donatur tetap itu ada, saya juga akan tetap berdonasi disini, tidak apa-apa, saya tidak masalah." Shiren masih ingin disini, dia cukup menyukai anak-anak yang ada disini, delapan tahun dia sudah menjadi tulang punggung panti asuhan ini, tentu sulit baginya untuk melepaskannya.


"Maaf, maafin ibu, ibu tau ini keputusan ibu yang sepihak dan sangat egois, ibu seenaknya mutusin hubungan kita, padahal selama delapan tahun ini, kami yang paling butuh Mak Shiren. Tapi Nak, maafin kami, sejak awal panti ini milik beliau, dan beliau mau mulai sekarang hanya beliau yang berdonasi. Nak Shiren ngga usah khawatir, dibawah naungan beliau, panti ini selalu berkecukupan, ngga kurang apapun."


Kalau diposisi Shiren, harusnya ia juga tersinggung kan? Dia selama ini yang menafkahi panti ini, tapi ketika Shiren sudah nyaman dan mulai menyayangi panti ini, mereka memutar badan seolah tidak kenal Shiren? Tidak ingin bantuan Shiren lagi?


"Saya engga marah, cuma sedikit tersinggung, tapi saya juga tau bahwa panti ini milik beliau, saya juga kesal dengan beliau yang seenaknya datang dan pergi begitu saja, gimana dulu beliau bisa ninggalin panti in--"


"Dengan segala hormat, tolong jangan berbicara yang buruk-buruk soal beliau, beliau orang baik, saya yakin itu, selama ini kami hidup dengan damai, mungkin delapan tahun lalu beliau ada masalah besar. Tapi Nak Shiren, saya mohon tolong jangan menghina beliau lebih jauh dari ini, saya dan anak-anak panti tidak bisa mendengar penghinaan untuk beliau." Peringat ibu pengasuh perlahan-lahan namun tegas.


Shiren tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia memang kesal pada sang pemilik, namun ibu pengasuh yang bijaksana begitu menyukai orang itu, Shiren bisa apa lagi?

__ADS_1


"Bagaimana kalau sumbangan Nak Shiren yang selalu dikasih kesini, pindahkan ke tempat lain, kebetulan saya ada kenalan penjaga panti yang lagi nyari donatur, bagaiman?" Tambah ibu pengasuh.


"Bener Shi, ke yang lain aja, disini kan udah ada." Timpal Alma yang juga sepakat atas saran ibu pengasuh.


"Okee deh Bu, tapi kalau misalnya pemilik itu pergi lagi, ibu boleh kapan aja hubungi saya buat jadi donatur lagi, saya ga bisa kalau melihat anak-anak itu menderita."


"Siap Nak, makasih sekali lagi, dan maaf ya Nak."


...----------------...


"Tapi menurut kamu, pemilik itu egois kan Al?" ujar Shiren membuka pembicaraan.


"Egois sih emang, dia pergi tiba-tiba ga ada pamit sampe buat ibu panti pontang-panting nyari utang buat anak-anak panti. Eh pas udah ada lu, dia datang segampang itu." Jawab Alma yang juga menyetujui pendapat Shiren.


"Ya kan, kesel gue."


"Tapi ya Shi, mau gimana lagi kalau ibu panti sama anak-anak anggap dia baik."


"Ya kan, padahal mereka udah dikecewakan gitu. Gak masuk akal banget tau."

__ADS_1


"Namanya juga dia yang bangun tuh panti, pasti ada deh kesan pesannya, sabarin aja, intinya kita bakal selalu ada kalo tuh panti butuh apa-apa."


"Iyaa, Aku gak bakal lepas tangan kok dari panti itu. Ta--"


Suara Shiren terhenti saat bel apartemennya berbunyi.


"Nah Al, ke depan, itu ayam geprek kita tuh, buru ambil." Pinta Shiren, dia malas bergerak saat ini.


"Oke, ntar." Tanpa waktu lama, Alma bergegas menuju pintu.


10 menit berlalu, Alma belum kembali juga, padahal menerima makanan yang sudah dibayar tidak harus selama itu kan?


Khawatir terjadi sesuatu, Shiren bangkit menuju pintu. Entah kenapa firasatnya bilang dia harus menyusul Alma.


Benar saja, saat ini sang kurir misterius langganan Shiren sedang bersitegang dengan Alma, Alma tampak marah-marah di depan pintu.


"Ada Apa Al?" Tanya Shiren, untuk mengetahui seluk-beluk masalah yang membuat Alma lama.


"Dia ini apaan sih, dia maksa buat yang nerima tuh makanan harus kamu, cuma kamu, dia gak izinin aku yang terima makanannya!" Keluh Alma kesal.

__ADS_1


__ADS_2