Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Mau insaf gue


__ADS_3

Cowok jangkung itu berhenti, dia melirik Lilia penuh selidik. "Kenapa lo mau bantuin gue?"


"Gue sayang sama Shiren, gue gak mau dia terjebak dalam hubungan yang gak dia suka. Meskipun dia cinta sama Bryan, dia gak bahagia dalam hubungan itu. Gue mau Shiren bahagia, dengan orang yang dicintainya, dan menjalin hubungan sesuai keinginannya."


"Jadi kesimpulannya dia cinta Bryan kan?" Galaksi mencoba mengambil intinya.


"Iya, dan dia gak suka Bryan berubah jadi berandal."


"Oke, gue ngerti, makasih. Gue harap lo tulus bantuin gue dan Shiren." Galaksi melangkah meninggalkan Lilia sendirian disana.


"Gue selalu tulus sama Shiren, asal lo tau aja. Gue cuma mau dia bahagia, dan gak terkekang dalam hubungan yang dia gak nyaman."


Galaksi berjalan kembali ke lapangan, dia mencari Adit and the geng, tapi sayang dia tidak menemukan mereka disana. Yah wajar, telinga mereka pasti panas mendengar sorakan nama Bryan yang menggemuruh disana. Padahal lokasinya adalah sekolah mereka, tapi getaran lebih terasa saat mereka meneriaki nama Bryan, dibanding mereka. Pesona orang tampan emang beda.


Dia melihat Shiren yang menatap Bryan penuh rasa, dia sadar bahwa bukan omong kosong kalau Shiren mencintai Bryan.


"Bodoh banget sih lo Bry, apa susahnya berubah? Lebih baik lo tobat dibanding jadi berandal kan? Soalnya lo punya cewek seistimewa itu di sisi lo. Kalau aja itu gue, gue pasti nurutin segala kemauan dia, asal dia menetap di sisi gue."


Galaksi kembali ke kelasnya, benar saja sudah banyak rekan timnya yang tergeletak kelelahan, ada yang langsung mabar, ada yang ngebucin dulu di pojok ruangan, macam-macam lah, beraneka ragam sikapnya.


Galaksi menepuk pundak Adit yang duduk di lantai menyandar di dinding belakang. Dia juga ikut duduk bersebelahan dengan Adit yang lagi ngegame.


"Dit, mulai hari ini gue berhenti menjabat jadi kapten tawuran, gue mengundurkan diri dari balapan, baik mobil maupun motor. Gue udah lelah, masa muda terbuang sia-sia. Gue mau jadi manusia yang lebih baik, anak muda yang lebih berfaedah untuk Nusa bangsa, Negara, Agama dan Dunia. Jadi mulai hari ini, gue berhenti." Galaksi mengucapkannya seolah-olah dia baru terkena hidayah luar biasa, padahal dia hanya mendengar karakter yang dibenci oleh gadis yang ia kagumi.


"Bullshit, ntar di ajak balapan, anggukan aja." Sahut Adit enteng, soalnya omongan Galaksi terkadang sulit dipercaya, apalagi dia yang hobi balapan ingin berhenti balapan? Dia yakin bahwa jika Galaksi amnesia saja, dia tidak akan lupa trik tawuran dan balapan.


"Lha bodoamat, yang penting gue udah bilang. Pokoknya gua insaf, jangan andalkan gue lagi. Kalau bisa kalian juga berhenti balapan, dan tawuran, gak guna itu semua, buang-buang waktu muda aja. Ketangkep polisi menangis menjerit, ya nggak Diz?" Galaksi menatap gadis berhijab putih yang baru datang dengan membawa kotak air mineral yang tinggal terisi setengah.

__ADS_1


"Kamu mau insaf Gal?" Dizah mengernyit heran, gadis yang jarang berekspresi itu, kini mengeluarkan ekspresi yang artinya ini sangat aneh, dan jarang terjadi.


"Iya. Lo gak seneng? Sebagai penasihat kelas lo harusnya seneng kan Diz?"


"Senenglah, malah alhamdulillah, semoga gak sehari dua hari ya Gal." Dizah membagikan air dan juga makanan ringan ke anak-anak yang tadi bermain futsal.


"Lama amat ngasihnya, tenggorokan udah kering menjerit perih." pas sekali Adit baru saja memenangkan gamenya, dia meletakkan hpnya dan mengambil minuman yang Dizah bawakan.


"Gak tau diri juga ada batasnya." Lirik Galaksi.


Dizah, sepupu Adit dan juga sekretaris kelas, juara satunya di kelas mengangguki argumen Galaksi. Dizah yang kalem dan jarang bicara memang begitu anaknya. Apalagi Dizah adalah gadis yang pendiam, dia jarang punya teman karna kepribadiannya yang menolak gosip, Dizah adalah perempuan yang taat agama. Cuma salah masuk sekolah aja. Harusnya dia masuk pesantren, sayangnya biaya tidak mendukung.


"Diz doain gue ya biar gak tergoda sama ajakan sepupu lo." Galaksi menunjuk-nunjuk Adit, membuat yang di tunjuk merasa kesal.


Dizah tidak menjawab, dia hanya mengangguk.


"Nanti, aku masih harus bayar minuman dan makanan ke kantin."


"Gue ikut dong, gue mau makan nasi."


"Satu meter ya."


Adalah jarak yang  Dizah tentukan untuk dia berjalan berdampingan dengan manusia yang berbeda jenis dengannya.


"Sip!"


Galaksi selalu nyaman jika itu dekat Dizah. Pasalnya Dizah adalah satu-satunya gadis di sekolah yang tidak tertarik akan dirinya. Wajar saja, Dizah yang lumayan paham agama, mana tertarik melirik si berandal berbagai aksi.

__ADS_1


-


-


Tapi sialnya Galaksi, di saat dia baru saja memasuki kantin. Tampak sudah sepasang insan yang rupa wajahnya sangat serasi sedang bermadu kasih.


Hati Galaksi bergetar, jiwanya panas, kepalanya suntuk saat melihat gadis yang ia dicintai, pucuk kepalanya di kecup oleh Bryan. Pucuk kepala yang bahkan sulit Galaksi sentuh, tapi dengan mudah di kecup Bryan.


"Tck! Apaan sih dia, apa dia gak malu ngebucin di tempat umum?!" Galaksi langsung menghampiri Bryan dan Shiren, namun ada yang menghentikannya. Yaitu Dizah yang kini sudah menjimpit ujung lengan baju Galaksi.


"Ada apa Diz?" Suara Galaksi tidak sehangat sebelumnya.


Dizah menghela napasnya. "Aku tau dia Bryan, dan aku tau dia terkenal seperti apa. Dan aku juga tau hubungan kamu dan dia di luar sekolah yang suka adu kekuatan. Tapi Gal, ingat ya ini sekolah kita, banyak tamu, guru, dan siswa dari sekolah lain yang datang hari ini. Bisa tolong jaga nama baik sekolah? Dan jangan berantem? Bukannya kamu udah berubah ya?" Dizah mengatakan itu bukan tanpa sebab, Dizah bisa melihat perkelahian nyaris terjadi karna Galaksi sudah mengepalkan tangannya erat-erat.


"Sorry gue khilaf, hampir aja gue jadi cowok berandal. Makasih udah ngingetin gue Diz, sekarang tenang aja. Gue bakal kesana dengan perdamaian. Cewek yang cakep itu, gue kenal dia, gue mau nyapa dia."


Dizah mengangguk. "Aku bakal bayar makanannya." Dia segera pergi, percaya dengan kata-kata Galaksi.


Galaksi segera menghampiri Shiren, setelah basa-basi menyapa, Galaksi menatap Shiren lekat dari atas hingga ke bawah.


"Berhenti mandang cewek gue!" Sentak Bryan yang sangat tidak nyaman dengan sikap Galaksi.


"Gue gak natap cewek lo, gue cuma natap hubungan kalian yang gak bakal panjang." Sahut Galaksi enteng, tanpa merasa bersalah.


"Dih, apaan sih lo, baru datang, ganggu orang, berisik, sok tau masa depan. Lo siapa bilang hubungan Shi sama Bry gak panjang?! Mereka bakal langgeng sampai akhir hayat tau!"


Bukan Shiren, bukan Bryan, dan jelas bukan Nanta yang tidak ingin turun tangan. Ini adalah perkataan Alma, meskipun dia sering ribut dengan Bryan, tapi dia mendukung keras hubungan keduanya. Dengarlah suara dukungan dari Alma kecil kita.

__ADS_1


__ADS_2