
......................
Shiren menghela napasnya, sudah beberapa hari sejak ia meminta bantuan sang kakak untuk mencari dimana keberadaan Bryan di kota ini, namun tidak ada kabar, jangankan Bryan, Leon saja sang ayah yang keberadaannya sudah Shiren lihat, masih belum bisa Arfen pastikan.
"Kalau ketemu nanti, memangnya aku mau apa?"
Tanya Shiren pada dirinya sendiri, dengan jarinya yang terus menekan remote tv untuk berganti-ganti channel, tapi tak ada satupun berita atau series bahkan kartun yang bisa memikat hatinya sekarang.
Shiren menyandarkan pipinya di dengkul yang ia tekuk, terus saja melamun dengan banyak pikiran yang menghantui. Hingga akhirnya dia bangkit, karna seseorang menekan belnya.
Shiren keluar, mengambil jaketnya, membuka pintu itu. Dia melihat siapa pengunjungnya hanya dari lubang kecil, setelahnya dia sadar, itu adalah kurir langganannya yang misterius.
Shiren membuka pintunya, ia segera menerima kotak yang berisikan mie goreng itu.
"Makasih," ucapnya menerima makanan itu.
Awalnya Shiren ingin langsung menutupnya, tapi tangan sang kurir menahannya.
Deg!
Detik itu juga jantung Shiren berdegup kencang, dia takut bahwa pria yang terlihat banyak memiliki misteri ini benar-benar orang misterius yang menyeramkan? Sejujurnya Shiren takut sekarang, dirinya akan diserang, diancam, atau bahkan dibunuh.
Soalnya penampilannya saja sudah mengerikan, Shiren mulai menyesali mie goreng ditangannya.
Tapi tidak butuh waktu lama, pria itu langsung mengeluarkan sebuah kertas putih dari jaketnya, yang bertuliskan.
Boleh minta tip nya Nona? Ban motor saya pecah saat dalam perjalanan kesini, kalau tidak boleh juga tidak apa-apa.
Ah, detik itu juga Shiren menghela napasnya lega, jantungnya kembali tenang secara perlahan, ia hanya minta bantuan atas musibah yang dia alami.
__ADS_1
"Iya boleh kok, ini. Hati-hati lain kali ya." Shiren memberikan uang seratus ribu rupiah, satu lembar saja kepada kurir itu.
Setelahnya, pria itu hanya menunduk seolah mengatakan terimakasih dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Shiren kembali menutup pintunya, kejadian ini membuatnya semakin yakin bahwa pria itu benar-benar bisu.
Shiren menepiskan pikiran aneh-anehnya sekarang, dan kembali ke dalam sembari memakan mie yang ia pesan.
Memang kejadian barusan agak mengganggu pikirannya, tapi tiba-tiba itu semua teralihkan dengan satu pesan dari Alma.
Alma Jablay:
Shi? Besok jadwal kamu ke panti asuhan biasanya kan? Aku ikut ya, kebetulan aku Nemu mainan aku yang dulu nggak terpakai, jadi mau aku sumbangin, okee?
......................
"Banyak juga main kamu Al." Ucap Shiren setelah melihat tiga kotak total yang berisikan mainan di bagasi mobilnya.
Sudah semenjak tamat sekolah, Shiren menjadi donatur tetap sebuah panti asuhan yang kehilangan donatur tetap sebelumnya, entah pergi kemana donatur sebelumnya tanpa kabar, menghilang tanpa jejak.
"Iya, kemarin aku habis dari rumah nenek, dan lagi bongkar-bongkar kamar lama, eh nemu mainan banyak bekas aku dulu, masih pada bagus lagi. Ya udah aku pikir daripada nganggur, aku kasih aja ke anak-anak panti yang lebih membutuhkan, seenggaknya biar lebih berguna." Jawab Alma dengan antusias.
Alma, teman Shiren sejak dulu, saat ini gadis itu menjadi seorang selebgram yang terkenal, yang selalu sibuk dengan endorse sana-sini.
Dia semakin cantik dan sukses sekarang, tapi tetap tidak sombong, gadis polos yang tetap rendah hati.
"Ngga sayang sama mainan itu kali dikasih ke orang lain? Kan itu banyak kenangannya buat kamu?" tanya kembali Shiren untuk memastikan, jangan sampai barang yang sudah Alma beri, ia tarik kembali lagi dengan alasan memori nostalgia yang indah.
"Nggak lah, nggak akan, pegang kata-kata aku. Toh sama aku juga cuma bakal jadi pajangan, terus mainan kesayangan aku udah aku simpen sendiri, yang lainnya yang aku kasih, pokoknya semua aman deh, tenang aja."
__ADS_1
"Iya baguslah kalau gitu." Shiren merasa lega, dia juga merasa antusias, tidak sabar melihat reaksi gembira anak-anak pantinya.
Keduanya turun dari mobil, dengan masing-masing membawa satu kotak yang berisikan mainan, satu kotak lagi dibawa oleh penjaga panti asuhan.
Keduanya berjalan menuju ruang permainan di dalam, saat ini ruangan itu masih sepi, karna anak-anak masih makan di ruang makan.
Hanya tersisa Shiren dan Alma berdua saja di dalam ruangan itu, sang penjaga tadi sudah pamit undur diri, untuk kembali menjaga gerbang agar anak-anak tidak keluar sembarangan.
"Btw, Lilia kemarin ngechatt aku, Minggu depan dia balik ke Indonesia, dia ngajak kumpul bareng." Celetuk Shiren membuka obrolan baru antara dirinya dan Alma.
Kali ini cerita tentang Lilia, satu lagi sahabat mereka yang sudah sukses di negri orang sebagai seorang desainer, selama ini Lilia sudah bekerja di Korea untuk waktu yang lama, ia selalu sukses membuat beberapa orang berpengaruh di dunia meliriknya karena desain-desain unik dan berkesan yang selalu ia tampilkan.
"Baguslah, kangen jugaa aku main sama tuh anak. Ntar aku cari deh yang bagus liburan kemana, okay?"
"Sip, deh."
Obrolan mereka berlanjut, mulai dari kehidupan pekerjaan hingga kehidupan pribadi, tapi Alma tidak sekalipun membicarakan soal Bryan, pun dengan Shiren, dia tidak menceritakan soal kemunculan Ayah Bryan kapan hari lalu.
Ada satu alasan kenapa Shiren tidak menceritakannya, kalau sampai dia cerita dan Alma sampai tau, yang ada mereka akan ribut. Alma sang pendukung Bryan dan Shiren garis keras sejak mereka jadian, menjadi perempuan yang paling membenci Bryan di dunia ini, karna menurut Alma, Shiren masih menderita dan sendiri sampai saat ini itu semua karena ulah Bryan, salah Bryan yang pergi tanpa penjelasan apapun.
Dan Shiren tidak ingin menceritakan apapun yang berkaitan dengan Bryan pada Alma, karna Shiren yakin itu bisa membuat Alma semakin membenci Bryan, jadi cukup Shiren dan Arfen saja yang tau. Wajar saja kan, Alma juga kecewa pada Bryan yang selama ini ia dukung.
"Nak Shiren, udah datang dari tadi? Gimana kabarnya? Gimana pekerjaannya?"
Sapa seorang wanita paruh baya yang mendekati Shiren, dia adalah pengurus panti asuhan ini. Dia adalah orang yang meminta shiren menjadi donatur panti asuhan ini sejak delapan tahun lalu.
"Eh, Bu Vina, saya baik Bu, Alhamdulillah kerjaan juga lancar, saya juga sehat, ibu sendiri apa kabar Bu? Ibu sehat? Gimana anak-anak?" Sapa Shiren juga ramah menyalami tangan sang wanita itu, pun diikuti dengan Alma yang itu bersalaman.
__ADS_1
"Ibu sehat, oh iya Nak Shiren, mulai bulan depan kamu boleh kok berhenti berdonasi, toh juga selama lapan tahun ini kami semua udah menjadi beban kamu, kami sangat berterima kasih. Tapi sekarang, donatur tetap yang dulu sudah kembali, orang yang membangun panti asuhan ini udah jadi donatur tetap lagi."