
...**********...
Shiren duduk tenang disebelah Alma dengan Bryan dan Nanta yang duduk dibelakang mereka. Seperti biasa, kaki Bryan tidak mau tenang, kadang dia menggeser kursi Shiren, atau tangan pemuda itu yang selalu usil memegang rambut Shiren.
Tapi Shiren tetap tenang, dengan pikiran fokus pada materi yang dijelaskan oleh guru di depannya. Dia mencoba mengabaikan masalah lilia terlebih dahulu, karna sekarang itu sekolah yang terpenting, mereka sudah mau lulus soalnya.
*Ting!
Bel istirahat berbunyi, Pak Guru segera menyelesaikan penjabarannya, lalu berpamitan meninggalkan kelas.
"Ayo kantin, laper gue." Ajak Lilia seperti biasa, dalam sekejap dia sudah berdiri di depan meja Shiren.
Tidak ada yang aneh atau mencurigakan dari sikap Lilia kepada Shiren. Lilia tampak sedikit aneh hanya ketika membicarakan Galaksi. Dan kepada Bryan, Lilia masih ketus seperti biasanya. Lilia mulai tidak suka pada Bryan sejak Shiren meminta putus untuk pertama kalinya.
"Ayo aja gue mah." Tambah Shiren yang membereskan buku-bukunya.
"Gas, perut gue udah keram sangking lapernya." Timpal Alma.
"Bryan ikut?" Lirik Shiren.
"Ntar, gue ada urusan, nanti gue nyusul, pesenin aja kek biasa." Bryan mengambil ponselnya, tampaknya ada cukup banyak hal penting yang ada dalam layar itu, karna dia tidak melirik shiren sekarang.
"Gue samain, ntar gue nyusul." Tambah Nanta, biasalah, kalau urusan Bryan biasanya juga selalu melibatkan Nanta.
"Enggak ada yang ngajak elu! Jangan ge-er dah!" Pekik Alma seketika, memang kalau itu soal Nanta, Emosi Alma memang tidak terbendung.
"Ya udah, ntar nyusul yak, di meja biasa."
"iyaa."
Shi, Lia, dan Alma, ketiganya berjalan keluar ruangan menuju kantin sebelum ramai dan padat, mereka setidaknya harus mengamankan meja pojokan langganan mereka.
Setelah kelas sepi, hanya tinggal Nanta dan Bryan berdua saja, karna yang lainnya sudah jelas ke kantin atau ke tempat lain.
__ADS_1
Bryan mengambil ponselnya, meletakkannya di telinga.
"Pa? Apa maksud Papa ngancem Bryan gitu? Toh Papa kan udah janji bakal ngasih Bryan restu nikah sama Shiren, kalau Bryan ngikutin kemauan Papa! Bryan udah laku--"
Nanta refleks menendang sepatu Bryan pelan, hingga membuat pemuda yang sedang dipenuhi amarah itu diam menghentikan ucapannya.
Ah, Bryan sadar, ini masih sekolah, bukan tempatnya untuk mengamuk dan membeberkan segalanya, toh mengamuk dari telepon juga tidak ada gunanya, sang ayah di sebrang sana pasti tidak akan mengerti dan terus saja mendesak Bryan untuk mengikuti kemauannya.
"Kita lanjut ini di rumah nanti, Bryan mau sekolah." Bryan langsung mematikan teleponnya. Dia sangat marah pada sang ayah, dia kesal, dia ingin mengeluarkan segala amarahnya sekarang. Meskipun begitu, Bryan tidak bisa membenci ayah kandungnya sendiri. Karna bagaimana pun, sang ayah adalah pahlawan Bryan sejak kecil. Entah kenapa, sifat ayahnya jadi berubah semenjak kematian sang ibu.
"Kalem, mending kita ke kantin, Shiren pasti udah nunggu." Saran Nanta, hanya itu yang bisa dia sarankan, karna Nanta tau, yang bisa menenangkan Bryan sekarang hanya Shiren seorang.
"Ya, gue butuh Shi sekarang."
Bryan menghela napasnya, dia mengatur wajah dan ekspresinya untuk tampak seperti biasa. Tak ingin mengundang kecurigaan atau kekhawatiran Shiren.
Tidak apa-apa, ini sudah terjadi sejak satu tahun terakhir, dan emosi Bryan selalu padam ketika di depannya sudah ada Shiren.
Harusnya begitu, memang benar selama perjalanan menuju kantin, Bryan maupun Nanta sama sekali tidak melihat Galaksi, tidak ada masalah yang membuat Bryan ingin marah.
Tapi masalahnya adalah, setelah Bryan dan Nanta sampai di kantin.
Coba tebak pemandangan apa yang Bryan lihat?
yup! Benar!
Galaksi ada diantara perkumpulan Shiren. Shiren dan Alma duduk bersebelahan, berhadapan dengan Lilia dan Galaksi.
Bryan ingin mengamuk, dia ingin marah, dan tepat sekali Galaksi membuat masalah yang membuat Bryan ingin menjadikannya samsak, menghajar habis orang itu, melupakan segala emosi yang sejak tadi Bryan tahan.
Wah kacau, habis dah, masalah besar sih ini, Ngamuk sih pasti Bryan, mampus dah elu Gal, ini diluar kemampuan gue.
Batin Nanta, dia sudah memasang wajah datar dengan senyum sebisanya, mau bagaimana lagi, kalau Galaksi pergi ke rumah sakit hari ini pokoknya itu bukan salah Nanta, dia sudah berusaha membantu meredam emosi Bryan.
__ADS_1
"Bry? Sini!" Panggil Shiren melambaikan tangan dengan senyuman manis yang sangat tulis.
Wush!
Nanta bisa merasakannya, api emosi yang tadi membara kini padam seketika. Benar-benar padam, Nanta tak lagi merasakan aura panas mencekam dari Bryan.
"Iya." Bryan tersenyum tipis, berjalan santai menuju meja itu.
Ehhhh?
Kemana emosinya tadi? Pergi kemana kemarahan yang meluap tadi? Hilang kemana pemuda yang siap bertarung mati-matian tadi?!!!!
"Wah, amat sangat menakjubkan. Memang dah, Shiren terbaik deh." Nanta juga menarik sudut bibirnya, ah dia bisa bernapas lebih lega dan sedikit tenang, semua berkat Shiren.
Sepertinya dirinya dan Bryan tidak jadi masuk ruang BK atau menghadap kepala sekolah karena Bryan berhasil meredam amarahnya berkat Shiren.
"Ngeri, bucinnya akut banget, kek orang bodoh. Yah mau gimana lagi, namanya manusia."
Nanta mengikuti langkah Bryan perlahan menuju meja itu, senyuman Nanta kembali merekah ketika melihat Alma makan dengan polosnya.
Entahlah, Nanta juga tidak tau, sejak kapan mengamati Alma makan adalah kebiasaannya, melihat Alma begitu menyenangkan. Sejak kapan ya?
"Ngapain lu disini?" Tanya Bryan, dia langsung duduk di sebelah Shiren. Eh, bukan hanya duduk, Bryan bahkan merangkul gadisnya tepat di depan Galaksi.
"Makan lah, emang ga boleh? ini kan kantin bukan punya lu, ini punya umum." Jawab Galaksi ketus, dengan mata yang sinis menatap tangan Bryan yang mendarat di pundak Shiren.
"Yah enggak sih, masalahnya meja ini udah kita pesan." Bryan malas ribut, dia harap Galaksi bisa segera pergi, soalnya menatap wajah Galaksi benar-benar membuat moodnya hancur.
"Loh? Gapapa dong Bry, toh kursi ini kosong kan? Ga masalah lah, dia juga tamu kita, bukannya kita memang harus perlakuin dia dengan baik ya?" Timpal Lilia, ah dia kan ada di kapal Galaksi-Shiren, kan?
Bryan menatap Lilia tajam, pemuda itu sudah merasakan firasat bahwa Lilia sudah merencanakan hal yang buruk untuknya dan hubungan Shiren.
Suasana menjadi hening seketika, yang terdengar hanya suara sendok Alma. Gadis itu tidak peduli apapun yang terjadi, kalau mau debat harus dalam keadaan perut yang kenyang, makanya yang terpenting adalah makan, Alma tidak salah kan?
__ADS_1