Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Saya ini?


__ADS_3

.....................


"Loh? Gapapa dong Bry, toh kursi ini kosong kan? Ga masalah lah, dia juga tamu kita, bukannya kita memang harus perlakuin dia dengan baik ya?" Timpal Lilia, ah dia kan ada di kapal Galaksi-Shiren, kan?


Bryan menatap Lilia tajam, pemuda itu sudah merasakan firasat bahwa Lilia sudah merencanakan hal yang buruk untuknya dan hubungan Shiren.


Suasana menjadi hening seketika, yang terdengar hanya suara sendok Alma. Gadis itu tidak peduli apapun yang terjadi, kalau mau debat harus dalam keadaan perut yang kenyang, makanya yang terpenting adalah makan, Alma tidak salah kan?


"Udahlah gapapa, kantin ini juga kan tempat umum, kata Lilia juga bener ini meja umum, siapapun boleh duduk disini, kita gak berhak larang, apalagi Galaksi juga tamu sekolah kita kan?" Shiren angkat bicara, sejujurnya dia merasa tidak enak pada Bryan, namun dia lebih merasa tidak nyaman pada Galaksi.


Hm? Mungkin Rasa kasihan? Itulah yang Shiren pikirkan, dia juga kan tidak tega mengusir Galaksi begitu saja, apalagi dia siswa pertukaran pelajar.


"Tau tuh Bry, walau gue kesel sama dia, tapi bener kata Shiren, kita gak boleh usir dia gitu aja, dia tuh tamu sekolah. Apa kata sekolah lain soal kita kalau kita perlakuin tamu ga sopan? Ckck gue sih ga mau ya nama gue tercoreng jelek, gue udah kelas tiga, gue mau tamat dengan nama baik yang terjaga!" Timpal Alma setelah dia meminum es teh manis dingin pesanannya.


"Maksud lu, lu ngerasa kalo nama baik lu sekarang terjaga dan terjamin?" Lirik Nanta dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Jelas dong! Alma gitu loh, murid yang baik, cantik, kalem, ramah tamah, cerdas, penurut, gak pernah terlam--"


"Berisik, nama lu udah jelek semenjak lu berteman sama Nanta!" Lilia sontak menutup mulut Alma dengan roti tanpa isi itu.


"Haduh, gue bahkan gak bisa nyangkal karna yang dibilang Lilia itu bener." Nanta menaikkan kedua bahunya, mau bagaimana lagi, toh reputasi dia di sekolah ini memang sudah buruk, tapi Nanta masih bisa bernapas lega karena masih ada reputasi orang yang lebih buruk darinya, tentu saja itu Bryan Norm Cakrawala, dia yang terburuk di sekolah ini sekarang.


"Dihh najis ogah, siapa juga yang mau temenan sama nih anak, dia aja ngaku-ngaku temen gue, gue sih ogah! Gegara dia nama gue jadi buruk di mata para guru--"


*Brak!

__ADS_1


"Gue mau balik ke kelas duluan." tiba-tiba saja Galaksi menggebrak meja, bangkit berdiri berjalan pergi begitu saja, langkahnya cepat dan panjang, seolah benar-benar ingin segera pergi dari sana.


"Lah, tadi katanya mau makan, gajelas banget tuh anak." Bryan tersenyum tipis. Ah tentu saja kemarahan Galaksi barusan disebabkan oleh Bryan.


Sejak Lilia, Alma dan Nanta sibuk berdebat di sebelah sana, di sebelah sini Bryan juga sedang sibuk membakar api asmara. Bryan memang selalu manja dengan Shiren kan? Mau bagaimana lagi? Bukan salah Bryan kalau Galaksi tidak tahan dengan keromantisan kedua orang ini, kan?


Shiren juga tidak sadar tanpa sengaja membuat Galaksi marah, jelas sekali tadi Galaksi marah sekali, terlihat jelas dari langkah, suara, dan wajahnya yang tampak sedikit memerah.


Shiren benar-benar tidak berniat membuat Galaksi cemburu, dia hanya bertingkah seperti biasa. Shiren hanya menanggapi kemanjaan Bryan seperti hari-hari biasanya, seperti barusan Bryan yang merengek minta disuapin dan semacamnya, itu bukan hal baru, Bryan memang pemuda alay, prik, dan manja jika di depan Shiren, tidak peduli dimanapun tempatnya!


"Bodo ah, mending lanjut makan."


Tidak ada suasana yang berbeda, semua kembali sibuk makan, dan seperti biasanya Nanta juga kembali mengganggu Alma. Memang biasanya juga begitu kan, hanya saja ada satu hal yang sedikit menyita perhatian Shiren, itu adalah tatapan Lilia.


Tatapan Lilia ketika Galaksi melangkah pergi dengan emosi tadi, terasa janggal dan tidak wajar, membuat Shiren merasa tidak nyaman, padahal dia ingin mempercayai Lilia sampai akhir.


Shiren kembali pulang, kali ini dengan supirnya, dia sudah di dalam mobil, bermain hape atau sekedar mendengarkan musik.


Bryan ingin mengantar Shiren, tapi mendadak dia mendapat telepon yang kelihatan cukup penting seperti biasanya, jadi Shiren pulang sendiri.


Ah, itu juga alasan Shiren marah sejak tadi, dia yakin pasti itu telepon dari pada berandal bawahan Bryan. Itulah yang Shiren tidak suka, itu juga alasan Shiren hanya membaca pesan Bryan yang dikirim lima menit lalu, tanpa ada niat membalasnya. Yah setidaknya untuk sekarang.


Ah, kalau Galaksi? Sejak dia pergi meninggalkan kantin dengan emosi tadi, Shiren tidak melihat Galaksi lagi. Yah, setidaknya Shiren harap itu bisa menjadi pelajaran bagi Galaksi untuk menyerah akan dirinya dan mencari gadis lain saja. Karna Shiren benar-benar hanya mencintai Bryan, yah walau terkadang Bryan memang menguji kesabaran.


"Non mau langsung pulang atau mampir dulu?" Tanya Pak supir ramah, terkadang Shiren suka mampir di toko buku, wajar saja, memang turunan dari sang ibu yang suka membaca.

__ADS_1


"Gak usah Pak, langsung pulang aja, saya cape mau istirahat aja." Jawab Shiren seadanya.


Brakkk!!!!


"Uhuk!!" Shiren hampir menggigit lidahnya sendiri. Dia menoleh ke belakang, dari belakang terlihat sebuah mobil hitam menabrak bagia belakang mobil Shiren.


"Apa-apaan ini?! Eh tapi Non gak apa-apa kan? Non ada luka? Ada yang sakit? Mau langsung ke rumah sakit?" Pak Supir langsung khawatir, pasalnya yang ia sakiti adalah putri bungsu Nathan, yah walau memang bukan salah sang supir sih.


"Gak apa-apa kok Pak, saya baik-baik aja, cuma kaget, dibanding itu coba Bapak keluar, liat apa yang terjadi." Shiren melirik kembali di belakang, mobil hitam itu diam tak bergerak, tampaknya orang di dalam mobil itu juga baru saja keluar.


"Non tunggu disini sebentar, biar bapak yang selesaiin! Bener-bener deh orang ini!"


Pak Supir langsung keluar dari mobilnya, sementara Shiren masih merasa kaget, dia menenangkan diri, apalagi punggungnya terhantuk keras tadi.


Samar-samar Shiren bisa melihat pria yang agak tua keluar dari sana, mungkin usianya seperti sang papa, dan tampak lebih muda seperti Nathan juga.


Shiren segera turun, tepat saat ia turun, dia mendapati sebuah kebetulan yang menakjubkan, mungkin?


"Oh kamu? Shiren kan? Pacarnya Bryan?" Tiba-tiba saja bapak itu menghampiri Shiren seperti itu, langsung menanyakan pertanyaan itu tanpa basa-basi, memangnya siapa yang tidak kaget?


"Hah? Kenapa?" Shiren langsung mengernyitkan wajahnya, siapa orang ini sih? Suasananya membuat Shiren tidak nyaman.


"Ah maaf kaget ya? saya ini ayahnya Bryan." Beliau tersenyum hangat.


Deg

__ADS_1


Shiren terdiam seketika.


__ADS_2