Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Main ke rumah?


__ADS_3

.....................


"Gue balik sekarang!"


Bryan langsung mengambil jaket dan kunci motornya, dia segera pergi dengan jantung yang berdebar kencang, dia takut, wajahnya tegang, dia tampak sangat buru-buru, semua itu berasal dari satu pesan singkat yang Bryan dapatkan dari gadis itu.


From : Shi <3


Gue ada di rumah Lo, bareng bokap lu, tadi ga sengaja ketemu dijalan, kenapa selama ini gak ngenalin gue? Bokap Lo baik banget.


Satu pesan dari Shiren itu benar-benar membuat Bryan kepikiran, helm dia pakai asal, motor dia lajukan sekencang mungkin, dia harus segera sampai, dia harus cepat ke rumah, karna Shiren sedang tidak baik-baik saja, ada yang tidak beres saat ini.


Bryan tidak bisa tenang, perasaan menggebu-gebu itu terus memburu dirinya, pasalnya sang ayah yang begitu membenci Shiren, malah mengajak Shiren ke rumah, ada yang tidak beres! Itu pasti!


Lu harus baik-baik aja! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Shiren dan itu karna ulah Papa! liat aja, Liat aja Bryan gak akan pernah maafin papa! Dan gak akan mau dengerin kata-kata papa lagi!


Bryan cukup menyayangi sang ayah, tapi rasa sayang itu akan semakin berkurang kalau beliau menyakiti Shiren, gadis yang paling dia sayang, satu-satunya perempuan yang dia cintai saat ini.


...........


Sementara Shiren sedang duduk manis di rumah Bryan, di ruang tamu, masih mengenakan seragam sekolah dengan lutut dan sikut yang diperban karena luka akibat kecelakaan kecil tadi.


Gadis itu duduk, tenang, anteng ayem di rumah besar itu tanpa kekhawatiran apapun. Memangnya apa yang harus ia khawatirkan? Dia ada di rumah masa depannya, rumah kekasihnya bersama calon mertuanya, sudah pasti aman kan?


Apalagi mengingat sikap Papa Bryan yang hangat, ramah tamah begitu menyambut Shiren.


"Maafin Om ya, karna Om kamu jadi luka gitu, ayo minum dulu." Papa Bryan membawakan sebuah minuman, mungkin jus terlihat dari warna dan harumnya.

__ADS_1


"Makasih Om Leon." Shiren menunduk ramah, dengan senyuman yang dia tebarkan semanis mungkin, soalnya pria setengah baya di depannya adalah ayah kandung Bryan, yang artinya calon mertuanya kan?


Shiren masih ingat, pria tua itu memperkenalkan diri sebagai Leonel Cakrawala, untuk pertama kalinya Shiren tau nama ayah Bryan, sementara selama ini pemuda itu selalu mengalihkan pembicaraan kalau sudah membicarakan soal keluarganya.


"Masih sakit tangannya?" Dia bertanya begitu ramah.


"Enggak Kok Om, makasih perbannya."


"Sama-sama."


"Oh ya Om, kok ok bisa Langsung tau saya ini pacarnya Bryan, perasaan Bryan gak pernah ngenalin."


"Ya ampun, jangan di tanya, kamar dia penuh foto kamu, hampir setiap hari Om sama Bryan itu ngomongin soal kamu, jadi gimana om bisa ga tau kamu coba." Ah, yang dikatakan Leon benar kan? benar adanya kalau setiap hari dirinya dan Bryan selalu membicarakan Shiren? Benar, membicarakan kapan putusnya hubungan keduanya.


Deg


Shiren menunduk, sedikit tersipu, wajahnya merona. Bahkan Bryan tidak ragu menunjukkan cintanya di depan sang ayah, membuat Shiren semakin gugup, tapi di satu sisi dia juga semakin senang.


"Kalo soal Om, Bryan ada ngomong apa soal Om ke kamu?"


"Eh, itu dia--"


"Shi!!!"


Dari arah pintu Bryan berlari dengan sangat kencang, napasnya terengah, dia langsung menghampiri Shiren, menarik dan langsung memeluk gadis itu, tak lupa meninggalkan tatapan tajam pada sang ayah.


"Tangan Lo kenapa?! Ini lutut juga kenapa?!" suara Bryan semakin keras, jantungnya berdegup begitu kencang, rasa bersalah dan khawatir campur aduk, emosi dan kemarahan kian meluap minta di lampiaskan.

__ADS_1


"Oh ini, tadi pas gue jalan pulang, mobil Om Leon gak sengaja nabrak bagian mobil belakang gue, jadinya gue kebentur deh, gak apa-apa, gak gitu sakit kok, cuma lutut sama sikut doang yang sedikit kegores. Gak masalah, jangan khawatir, udah diobatin juga kok sama Om Leon, kan Om?" Jawab Shiren polos dan lugu, sesuai apa yang ada di hati dan pikirannya.


"Mobil papa gak sengaja nabrak mobil Shiren?" Bryan semakin menatap sang ayah tajam, satu tangan ia kepalkan, gigi ia rapatkan pertanda dia benar-benar marah saat ini, emosinya semakin tinggi.


Gadis yang selalu ia jaga, kini terluka karna sang ayah, mustahil kalau itu tidak sengaja? Bryan lah yang paling tau pasti bahwa kecelakaan itu adalah hal yang sangat disengaja oleh ayahnya. Tapi Bryan hanya bisa bungkam dan diam, tidak mungkin kan ia mengatakan pada gadisnya bahwa sang ayah memang sengaja ingin melukai Shiren?


Bisa saja nanti Shiren takut, khawatir, atau bahkan minta putus lagi dan menjauh dari Bryan. Karna itu, pemuda ini hanya diam saat ini melihat tingkah laku sang ayah semakin lama semakin parah tak terkendali.


"Iya, mobil Papa rem nya agak rusak, jadi gak sengaja nabrak mobil pacar kamu. Maaf ya, lagian Papa udah tanggung jawab kok, Shiren tadi gak mau di ajak ke rumah sakit. Jadinya Papa ajak ke rumah." Tambah Leon, dengan senyuman ramahnya di depan Shiren.


Melihat senyuman palsu itu benar-benar membuat Bryan muak, dia rasanya ingin segera pergi dari sana.


"Ah, cuma luka gores kok Om, cuma luka kecil, jangan dipikirin." Shiren pun tak ingin membesarkan masalah kecil ini.


"Ya udah sekarang ayo pulang, gua yang nganter sendiri." Bryan langsung menarik tangan Shiren untuk pergi darisana.


"Duh, bentar dong! Masa langsung pulang?"


"Iya, ini udah jam enam tau, ntar Lo dicariin bokap Lo."


Shiren refleks melihat jam ditangannya, benar saja, jam ini sudah menunjukkan pukul enam sore! Dia harus segera pulang, kalah tidak mau melihat Nathan dan Arfen sibuk kesana kemari.


"Eh iya gue harus balik! Om, Shiren pulang dulu ya, nanti kapan-kapan Shiren main lagi kesini, Om jaga kesehatan ya, Shiren pamit, makasih udah luangan waktu berharga Om buat ngobrol sama Shiren!" Shiren mengalami tangan Leon dengan ramah.


Sepersekian detik, tanpa siapapun sadari, baik Bryan maupun Shiren, Leon terkesiap hanya untuk nol koma persekian detik itu.


"Iya hati-hati ya Nak." Balas Leon sembari melambaikan tangannya, mengantarkan kepergian Bryan dan Shiren dari depan pintu.

__ADS_1


"Udah ayo, keburu malam." Bryan ingin segera, secepatnya membawa Shiren dari sana, jauh dari sang ayah, jauh dari manusia yang paling mungkin menyakiti Shiren.


"Dadah Om!!!" Shiren senang, akhirnya dia bisa lebih mengenal keluarga Bryan!


__ADS_2