Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Pilihan?


__ADS_3

...********...


Bryan diam dikamarnya, dengan foto album terbuka di tangannya, tampak dirinya yang masih kecil bermain dengan bahagia bersama sang ayah.


Lantas disebelahnya, ada foto Bryan kecil yang sedang belajar berjalan, memegang tangan sang ibu dan ayah dengan percaya bahwa mereka tidak akan melepasnya, mereka akan selalu menuntun Bryan, mendukungnya langkah apapun yang ia ambil.


Bryan yang masih balita itu tampak sangat bahagia, senyumannya tampak begitu tulus, jemari ayah dan ibu kelihatan hangat, suasana mereka hangat, mereka benar-benar tampak seperti keluarga bahagia.


Bryan percaya bahwa saat dia jatuh, kedua orangtuanya akan mendukungnya, harusnya begitu, mau Bryan kecil atau dewasa, harusnya orangtuanya tetap mengawasinya, tetap memegang jemari Bryan, dengan mengatakan bahwa mereka akan selalu ada dan mendukung anak itu ketika jatuh.


Nyatanya tidak ada. Semuanya sirna sejak kematian sang ibu.


Saat dia kecil, dia selalu tersenyum saat dia gagal, dia tidak takut jatuh karna dia percaya sang ayah akan menangkapnya, lantas sekarang apa?


Bryan melirik ke arah foto Shiren yang terpajang di mejanya, foto senyuman manis Shiren.


Bryan pun ingin membangun keluarga kecil bahagia dengan Shiren, seperti album di tangannya. Tapi nyatanya tidak begitu.


Permintaan terakhir sang ibu kini menjadi penghalang, sang ayah yang bertekad keras pun menggoyahkan Bryan. Dia baru tau alasan dari segala yang ayahnya lakukan, itu semua demi permintaan terakhir sang ibu.


Tentu, Bryan sangat mencintai Shiren, tapi Bryan juga sangat mencintai ibunya, sang ibu adalah perempuan terbaik yang pernah dia temui di dunia ini, sang ibu adalah segalanya, tapi Shiren juga bagian dari dirinya, Bryan Norm Cakrawala tidak akan pernah lengkap tanpa Shiren Arkasa di dalamnya.


Antara permintaan terakhir sang ibu, dengan Shiren? Mana yang harus ia pilih?


Benar pula kata sang ayah, bahwasanya Shiren berasal dari keluarga terpandang yang cemerlang, nama baik mereka yang terang mungkin akan tercoreng kalau terlibat dengan keluarga yang memiliki ikatan dengan organisasi.


Walau sang ayah mengatakan Bryan akan mewarisinya nanti sepuluh tahun lagi, tapi tetap masalah ini benar-benar memang harus dipikirkan dari sekarang.


Bryan menghela napasnya.


Dia tidak akan pernah menduga pilihan sesulit ini akan datang dalam hidupnya.


Drttt


Nada dering ponsel Bryan berbunyi, ponsel itu juga bergetar. Nama sang pemanggil yang selalu Bryan sukai terpampang jelas disana, nama yang selalu Bryan rindukan, dia akan berusaha mengangkat sesegera mungkin ketika melihat nama Shiren dengan emoticon hati terpampang disana.

__ADS_1


Ah, tapi sepertinya kali ini tidak begitu. Soalnya kali ini Bryan hanya membiarkannya, dia hanya menghela napasnya berat sembari terus mengacak rambutnya.


Ponsel itu terus berbunyi, dan Bryan masih tetap diam.


"Ma? Kenapa ...?"


Siapa bilang pundak anak lelaki harus sekuat baja? Siapa bilang anak laki-laki tidak boleh menangis? Bryan juga manusia.


Perih antara pilihan hati dan kerinduan yang memuncak untuk sang bunda membuat Bryan stress, satu dua tetes air mata jatuh ke album yang berisi foto-foto hangat.


Tidak!


Bryan tidak mau impian itu pupus! Impiannya yang ingin hidup bahagia selamanya dengan Shiren! Impian membangun keluarga kecil yang bahagia?


Tapi, dia juga punya tanggung jawab sebagai anak kan?


Bryan akhirnya sadar, dia belum dewasa secara sempurna.


"Shi, Love you." Gumam nya pelan dengan mata yang terpejam.


...^^^........^^^...


Shiren berdecak kesal sepanjang perjalanan menuju sekolah pagi ini, dia sudah begitu bahagia ketika bertemu dengan ayah Bryan, namun satu malaman tidak ada kabar dari sang kekasih benar-benar merusak mood Shiren.


Bukan hanya itu, bahkan sampai pagi begini, baik telpon maupun pesan Shiren tidak ada yang dibalas oleh sang kekasih, membuat hati tidak enak.


Jangan bilang dia balapan lagi semalaman? Awas aja! Gue bakal bener-bener minta putus kalo dia kayak gitu!!


Shiren sudah membulatkan tekadnya, mungkin?


Drrttt


Telpon berbunyi dari sahabat berisik kesayangannya, tentu itu adalah Alma. Segera Shiren mengangkat telponnya.


"What pagi-pagi? Iya ini gue otewe, masih dijalan, bentar lagi sampe." Oceh Shiren bahkan sebelum Alma berbicara.

__ADS_1


"Gak, bukan itu, bukan soal Lo, tapi ini soal Bryan."


Ucapan Alma dari sebrang telpon sana membuat Shiren terkesiap, dia langsung terdiam fokus mendengarkan informasi apa yang akan Alma sampaikan soal kekasihnya yang tidak ada kabar sejak kemarin malam.


"Kenapa sama cowok gue?" Tanya balik Shiren.


"Bryan sakit yak? Nih surat sampe ke kelas atas nama dia dengan keterangan sakit pake tanda tangan bokapnya lagi, dia sakit apa? Parah kah? Tumben pake surat segala? Biasanya juga kalo dibuat alpha walau dia sakit dia santai aja." Jelas Alma yang cukup keheranan dengan sepucuk surat yang baru sampai ditangannya.


Sama seperti Alma, Shiren juga diam mematung di tempatnya, jarinya sulit digerakkan.


Bagaimana dia tidak khawatir, sang kekasih yang tidak ada kabar satu malaman, dia baru mendengar kabarnya dari orang lain itupun dengan keterangan sakit? Sungguh! Shiren sangat khawatir, dia tidak pernah sekhawatir ini pada Bryan.


Bagaimana mungkin, anak yang tiga tahun tidak peduli soal absen tiba-tiba mengirim surat keterangan sakit?


"Pak, ayo ke rumah Bryan sekarang, saya ga sekolah hari ini, ikuti arahan saya biar saya tunjukin." Pinta Shiren pada sang supir kepercayaannya.


...----------------...


Shiren terdiam mematung di depan rumah Bryan. Padahal segera setelah sampai dia langsung berlari secepat mungkin untuk memeriksa kondisi kekasihnya itu, tapi ketika dia sampai, pembantu rumah tangga mereka mengatakan bahwa Bryan sedang pergi entah kemana.


Tanpa kabar satu malaman, lalu memberikan kabar sedang sakit, dan sekarang hilang entah kemana?


Lantas Shiren harus bagaimana menyikapi kekasihnya yang benar-benar berubah drastis sejak pertama bertemu, kemana perginya Bryan lucu nan menggemaskan yang dia temui pertama kali?


Shiren berbalik arah, bersiap kembali ke sekolah? atau rumah? Entahlah, Shiren kehilangan mood untuk kembali kemana saja.


Tapi, ini masih pagi, kalau dia pergi ke sekolah mungkin masih sempat, walau sedikit terlambat. Toh memang cinta dan sejenisnya itu tidak boleh menghambat pendidikan Shiren, apalagi Alma sudah berisik menyepam pesan di ponselnya.


"Pak balik ke sekolah aja deh."


Terserah Lo deh Bry mau gimana, gue udah cape, cape sama Lo, cape sama tingkah Lo, kelakuan Lo, cape sama hubungan kita.


Shiren menghela napas panjang, menaiki mobil itu kembali. Pak supir segera melajukan mobilnya, mengusahakan agar nonanya bisa sampai tepat waktu di sekolah tanpa terlambat yang membuatnya tidak harus dihukum.


Gue cape, coba ngertiin semua kemauan Lo, sekali aja bisa ga sih ngertiin perasaan gue? Serah Lo deh, serah, gue beneran cape.

__ADS_1


__ADS_2