
Sebuah motor berjenis klx sudah berhenti di depan sebuah rumah megah berdominan putih. Kedua orang yang menaiki motor itu langsung turun.
Bryan membuka helmnya, oh ya ampun dia sangat keren dengan rambutnya yang acak saat ini.
"Mana tadi jedainya?" Bryan mengulurkan tangannya, meminta salah satu jepit rambut yang baru ia dan Shiren beli di pinggir jalan tadi.
Akhirnya setelah sekian lama akhirnya Bryan mengantar Shiren pulang.
Shiren memberikan jedai berwarna hitam yang sedari tadi dipegangnya. "Buat apa?"
Bryan hanya diam, dia membuka bungkusnya, dan menjepitkan seadanya di rambut gadisnya. "Jelek banget, cewek siapa sih?" Begitulah komentar singkat ala dirinya. Namun, dirinya masih tersenyum manis menatap Shiren, matanya tulus dan murni memancarkan limpahan kasih sayang untuk gadis di depannya.
"Apa lo bilang?!" Shiren langsung menajamkan pandangannya.
Bryan hanya tersenyum tipis, tanpa mengatakan apa-apa lagi. "Ya udah, gue balik dulu ya."
"Lo gak mampir dulu? Makan kek? Apa kek? Biasanya juga kan lo berisik, langsung nerobos masuk ngoceh sama Mama. Sekarang, langsung balik tanpa salim sama Mama. Nanti gue jawab apa kalau Mama nanya?" Shiren sudah mendengus kesal. Ini sama sekali tidak mirip dengan Bryan, Bryan miliknya yang selalu berisik penuh gombalan canda tawa.
Bryan menunjukkan ponselnya, yang berisi spam chatt dari Nanta. Karna Nanta sudah sibuk membahas banyak hal. "Maaf ya, gue mesti ke bengkel dulu. Cek segala perlengkapan mobil sebelum balapan. Sorry, nanti kalau ada waktu gue mampir."
"Kalau ada waktu? Kalau gak ada? Gimana?"
Bryan tidak bisa berkata-kata, ya karna memang benar dia sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersama Shiren si luar sekolah, bahkan nyaris tidak pernah.
"Besok gue mau jalan-jalan, ayo jalan-jalan? Besok kan minggu, libur sekolah, udah hampir dua bulan dan enam minggu loh kita gak jalan bareng?" Tentu saja Shiren mengingatnya sangat jelas, karna dia selalu menantikan akhir pekan berharap sang kekasih kembali memperhatikannya dan mengajaknya jalan. Namun, nihil Shiren, itu hanya angan belaka dan harapan semata.
Bryan tampak diam. "Maaf Shi, gak bisa, gue besok ada urusan."
"Itulah kenapa gue benci lo yang sekarang."
__ADS_1
"Katanya benci dan cinta itu beda tipis loh?" Bryan menaikkan sebelah alisnya, seolah menganggap enteng perkataan sang kekasih.
"Mending kita putus deh, cape gue." Ceplos Shiren begitu saja. Bryan hanya diam, dia bahkan tidak terkejut sangking seringnya Shiren minta putus.
"Sayangnya itu juga gue nolak. Ingat ya, Shiren Arfina Arkasa. Apapun yang terjadi, lo cuma punya gue dan gak akan ada kata putus diantara kita."
"Gue benci lo." Shiren berbalik, langsung masuk kedalam rumah, meninggalkan sang pemberi jedai di luar begitu saja.
Bryan hanya menatap Shiren yang perlahan menghilang dari pandang. Dadanya terasa sesak dan penuh, hatinya berdenyut pedih. Itu sakit sekali mendengar kata benci dari perempuan yang paling dia cintai saat ini.
"Please, jangan pernah pergi dari gue. Gue gak bisa, gak akan pernah bisa kalau harus putus dari lo. Please Shi, bertahan, tolong bertahan sampai kita dewasa. Dan lo bakal tau segalanya, nanti ..., alasan gue berubah." Bryan menarik napasnya, dia menyalakan motornya, melaju keluar dari gerbang rumah. Satu bulir hangat dari ekor matanya yang tajam, terbang berpencar tersapu oleh angin yang kencang. Hanya Shiren, dan segalanya soal gadis itu yang mampu membuat Bryan meneteskan air matanya saat ini.
...***...
Minggu pagi yang menyebalkan seperti biasanya, dia akan kesepian di rumahnya, karna kakak dan kakak iparnya beserta anak kembar mereka akan pergi ke rumah Thifa untuk melakukan kumpul keluarga. Belum lagi Nathan dan Sheryl yang akan melakukan reuni dengan teman-teman SMA nya. Sisalah Shiren di rumah ini sendirian dengan beberapa pelayannya.
Dia sedang menggunting beberapa pohon dihalaman depan, setelah beberapa saat berdebat dengan tukang kebun karna tidak diizinkan menyentuh benda tajam. Wajar saja, dia sang putri.
Shiren menggunting dengan sangat kasar.
"Gue benci dia, tapi gue lebih kesel sama diri gue yang masih mengharapkan dia!"
Percuma saja dia mengumpat, hatinya sudah terpaut pada sang badboy, itu akan sulit sekali untuk lepas.
Pandangan Shiren jatuh pada mobil putih yang berjalan mendekat setelah melewati gerbang depan, mereka berhenti di parkiran rumah keluarga Arkasa.
Shiren sudah bertanya-tanya status sang tamu siapa, soalnya dia tidak suka jika kolega ayahnya datang dan Shiren harus menyambutnya. Apalagi suasana hatinya sangat buruk saat ini, kenapa tidak ada yang mengerti situasi buruknya, bahkan takdir pun.
"Hey! Cewek jutek! Lo kerja disini? Atau lo anak pembantu sini? Lo berhenti aja kerja! Gue bakal perlakuin lo sebagai ratu pas kita nikah nanti." salah satu dari dua cowok yang keluar dari mobil, menghampiri Shiren.
__ADS_1
Dan sialnya Shiren, dia kenal cowok ganteng dengan setelan biasa itu. Shiren mengernyitkan dahinya tak suka. "Itu mulut bisa diem gak? Lo ngapain masuk-masuk ke rumah gue! Kita gak kenal!"
Yah Shiren ingat cowok tampan tapi aneh ini, dia adalah Galaksi, si gila yang pernah Shiren temui.
"Loh? Shiren kenal sama adiknya Kakak?" Pria manis berkacamata yang lebih dewasa menyusul keduanya.
"Ha? Cowok gila ini adiknya Kak Leon?" Shiren semakin tidak percaya. Shiren kenal dengan pria berkacamata ini, akhir-akhir ini dia sering datang kerumah. Sudah dua bulan Kakaknya-Arfen menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan Leon.
"Galaksi, kamu temenan sama Shiren?" Leon merangkul adiknya.
"Temen apaan, ini sih masa depan." Galaksi berpindah berdiri di sebelah Shiren. "Cocok kan Kak, kayak pangeran tampan sama putri jutek?"
Shiren hanya mengernyit aneh, dia bahkan tidak bisa berkata-kata.
-
-
-
"Oh jadi lo putri rumah ini, syukurlah, gue gak harus repot-repot yakinin kedua orang tua gue buat ngelamar lo. Yah, meskipun lo anak pembantu juga, pasti bakal gue kejar dan gue nikahin." Celetuk Galaksi santai, meminum jus yang baru dibawakan pelayan Shiren.
Shiren menghela napasnya, meskipun dia kesal dengan cowok antah berantah ini, namun sebagai tuan rumah yang baik dia mempersilakan keduanya masuk. Saat ini hanya ada Galaksi dan Shiren di ruang tamu, soalnya Leon sedang menelpon Arfen memintanya untuk segera pulang karna ada banyak urusan penting yang harus mereka bicarakan.
"Kenapa lo ngomong ngaco soal gue dan khayalan aneh lo itu?" Shiren jengah, dia lelah, tolong berhentilah.
"Karna gue jatuh cinta, gue jatuh cinta pada pandangan pertama."
Shiren memijit pelipisnya frustasi. Dia tau bahwa Galaksi hanya bercanda dan main-main saja. "Apa alasan lo jatuh cinta ke gue?"
__ADS_1
"Banyak, itu terlalu banyak sampai gak bisa gue sebutin satu-satu. Dan kalau lo pikir gue main-main, lo salah. Lo yang pertama dan lo bakal jadi yang terakhir." Kali ini Galaksi nampak sangat serius. Shiren bisa melihatnya, tatapan matanya yang seolah tak asing, suaranya yang jelas tanpa kegugupan dan sangat meyakinkan. Shiren tau perasaan ini, ini sama persis ketika Bryan pertama kali menyatakan cinta pada Shiren.
Dia, serius?