
...**********...
Shiren terus saja menggerutu di sepanjang jalan yang ia lewati, dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya, menantu balasan Bryan? Shiren tidak mau mengakuinya, talk faktanya dia memang benar-benar menunggu kabar dari Bryan.
SERAH DAH SERAH CAPE GUE TUH!
Kesal sendiri, marah sendiri, mengeluh sendiri, tanpa sang kekasih peduli.
Shiren menarik napasnya panjang, ia buang secara perlahan-lahan.
"Non, telpon Tuan besar non atau siapapun yang bisa nolongin kita, kita diikutin." Kata Pak Supir melirik ke arah Shiren, lalu sesekali melirik ke spion yang memantulkan dua mobil yang sejak tadi mengikuti mereka.
Shiren menoleh ke belakang, ah karna terlalu kesal dia jadi tidak fokus bahwa sejak tadi dia sudah diikuti.
"Oke Pak, Bapak tenang, kita ga usah ke sekolah, cari aja jalanan yang ramai." Kata Shiren, dia mencoba untuk tetap tenang walau dalam hatinya dia juga pasti sedang ketakutan.
"Baik Non." Pak supir mengangguk, meningkatkan kecepatannya guna menuju jalanan yang ramai, setidaknya mereka tidak akan beraksi kalau jalanan ramai kan? mungkin?
Shiren dengan cepat menghubungi Nathan dan Arfen, dia sama sekali tidak menghubungi Bryan. Walau situasi sedang genting, kesal tetaplah kesal, seperti Bryan yang tidak memberikan kabar, pun dengan Shiren tidak mau memberi kabar apapun.
Toh Shiren percaya, dengan adanya sang ayah dan kakaknya, itu sudah cukup untuk melindunginya, soalnya Shiren selalu percaya mereka adalah pemeran utama dalam kisahnya masing-masing.
__ADS_1
Pesan sudah terkirim kepada Nathan dan Arfen, lokasi juga sudah terkirim, GPS ponsel Shiren sudah menyala, sisanya adalah Shiren harus tetap tenang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk supirnya juga. Bisa semakin gawat kalau Shiren panik, supirnya bisa ikut panik dan mereka pasti akan terjebak masalah yang besar, mungkin bisa mengancam nyawa?
"Sejak kapan kita diikuti Pak?"
"Kalau tidak salah semenjak kita keluar dari gerbang rumah Den Bryan, Non. Non gak apa-apa kan? Non yang tenang, kita bakal baik-baik aja kok." Pak supir yang memang sudah lama mengenal Shiren mencoba menenangkan nona muda yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri, karna sang supir juga menyaksikan tumbuh besarnya shiren dari shiren yang masih berlatih berjalan. Rasa sayang itu ada, pasti melimpah.
"Iya Pak, bapak harusnya lebih tenang, Shi oke kok. Bapak fokus aja nyetirnya ya?"
Dari rumah Bryan? Lagi-lagi? Jangan bilang ini ada kaitannya sama segala perbuatan onar Bryan selama ini?
Emosi Shiren semakin meningkat, jikalau benar ia dikejar karna ulah Bryan selama ini. Sungguh, kemarahan Shiren tidak lagi bisa dibendung.
BRAK!!
Shiren merasakan perih yang amat dalam di sudut keningnya, dia juga bisa mencium amis darah, bulu matanya basah akan darah, bibirnya juga sudah terkena darah itu, wajahnya sudah penuh dengan darah, tangannya terasa perih seperti ada benda yang menancap kuat disana.
Terdengar suara pintu mobil dibuka paksa, Shiren tidak bisa melihatnya dengan jelas, pandangannya rabun, dia kehilangan banyak darah.
*Dia ini yang dicari tahu oleh Cakrawala kan?
Iya benar gadis ini!
__ADS_1
Cepat bawa dia!
Kita bisa menggunakannya! Mungkin saja dia bisa berguna!
Kalau tidak berguna buang saja ke jurang!
Aaa*...
Shiren mendengar percakapan menjijikan itu samar-samar, dengan mata yang berusaha ia buka, tampak samar-samar beberapa orang mengenakan pakaian hitam gelap.
Shiren tidak tau lagi, tubuhnya terasa berat, dia merasa seperti ada yang menarik tubuhnya.
Gimana keadaan Pak supir?
Astaga! Shiren benar-benar tidak tau kalau masalah ini akan seserius ini.
Orang-orang asing itu seperti membawanya, tangan Shiren tak kuasa bahkan untuk melakukan panggilan terakhir kepada sang ayah.
Kaki gadis itu berat, ah sepertinya kakinya patah karna terjepit, rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan.
"Pa ... pa."
__ADS_1
Gimana kecil dan pelan itu adalah satu-satunya hal yang shiren ingat.