
Benar saja, saat ini sang kurir misterius langganan Shiren sedang bersitegang dengan Alma, Alma tampak marah-marah di depan pintu.
"Ada Apa Al?" Tanya Shiren, untuk mengetahui seluk-beluk masalah yang membuat Alma lama.
"Dia ini apaan sih, dia maksa buat yang nerima tuh makanan harus kamu, cuma kamu, dia gak izinin aku yang terima makanannya!" Keluh Alma kesal. Dia menunjuk ke arah kurir itu.
"Kenapa? sama aja kan ya? Dia juga bayar." Shiren mengalah, dia mengambil uang yang Alma genggam, memberikannya pada kurir itu segera.
Kurir itu hanya diam, memberikan makanannya pada Shiren. Menerima uangnya dan pergi dengan tenang.
"See?" Shiren melirik ke arah Alma. "Secepat itu kenapa pake lama?" Shiren kembali menutup pintunya.
"Jangan liatin aku kayak gitu, asli yang salah tuh kurirnya. Kok kamu bisa sih punya langganan kurir begitu." Alma masih kesal, memangnya dia kurang apa? kurang cantik? Padahal Alma sudah sangat cantik sekarang.
"Ya ngga tau sih, tapi dia baik loh, dia selalu tepat waktu, aku ngga pernah kelaperan semenjak dia kurirnya." Shiren hanya tersenyum tipis.
Keduanya berjalan perlahan dengan makanan yang mereka bawa, kembali ke depan televisi untuk segera menikmatinya.
__ADS_1
"Emang kamu ngga takut punya langganan kurir begitu? Aku aja liatnya takut? Aneh tau ngga, masa yang nerima harus kamu, kamu doang, belum lagi penampilannya aneh, pake serba hitam gitu, terus pake masker, mana mukanya ngga keliatan, ngeri tau." Alma begidik ngeri sendiri, dia masih takut membayangkan aura kurir tadi. Bagi Alma dia bukan hanya sekedar kurir, suasananya berbeda, ada tekanan dan perasaan khawatir yang berbeda. Perasaan yang tidak enak ketika Alma melihat pria itu.
Shiren menghentikan makannya sebentar, dia lalu kembali berpikir. Benar adanya kalau diingat-ingat selama ini pria itu tampak aneh, bahkan tidak pernah menunjukkan wajahnya sekalipun meski hampir dua tahun Shiren berlangganan. Abaikan soal suaranya, barangkali dia memang tidak bisa berbicara, tapi bagaimana dengan wajahnya?
Setelah mendengar perkataan Alma, Shiren tidak bisa untuk tidak curiga.
"Bener juga sih, kalo dipikir-pikir dua tahun ini dia cuma datang, nganter makan, terima duit terus langsung balik. Tapi kan Al, bisa aja emang kepribadiannya gitu, emang dia orangnya pemalu, pendiem dan ga suka banyak omong?" Shiren masih berusaha mencari sudut-sudut pemikiran positif untuk kurir langganannya.
"Iya itu masuk akal, tapi kalo sampai dia cuma mau kamu yang nerima, itu aneh tau, kek psiko? Jangan-jangan dia fans kamu diem-diem, stalker kah?" Celetuk Alma yang sukses membuat Shiren tersedak oleh makanannya sendiri.
"Minum dulu Shi."
"Itu namanya profesionalitas kali. Kan aku yang pesen, jadinya dia harus ngasih ke aku, prinsip dia mungkin begitu?" Shiren mencoba berpikir positif lagi. Dia sudah dua tahun berlangganan dengan kurir itu, dan memang harus Shiren akui, orang itu agak menyeramkan memang.
"Tapi ya Shi, kata aku mah hati-hati aja, apalagi kamu ini tinggal sendiri kan, terus dia itu gelagatnya mencurigakan banget. Takutnya dia kayak ngikutin kamu? Apa sih namanya? Ah iya stalker."
"Ihh udah deh Alma, jangan nakut-nakutin gituuu." Shiren begidik ngeri, stalker itu lebih mengerikan dari hantu bagi shiren, soalnya banyak kasus orang-orang dibunuh oleh stalkernya sendiri.
__ADS_1
Mengerikan.
"Amit-amit deh Shi, jauh-jauh dah kata aku mah. Mending sekarang kamu cari apartemen baru, atau sekalian pulang ke rumah untuk sementara, jaga-jaga aja, kita kan ga tau dia itu siapa, niatnya apa, maksudnya apa. Apalagi kamu liat sendiri dia mencurigakan gitu, untuk sementara balik ke rumah gih."
"Iya-iyaaa, nanti aku pikirin lagi deh saran kamu, sekarang jangan nakut-nakutin aku gitu. Dan karena aku udah takut kamu harus nginep disini, temenin aku tidur."
"Iyaa iyaa, huu penakut Shiren penakut."
"Salah siapa nakut-nakutin aku, aku jadi takut beneran kan!"
Alma hanya tertawa renyah, yang dilirik tajam oleh Shiren. Kesal sekali melihat sahabatnya tertawa diatas kekhawatirannya. Pada akhirnya Alma memang benar-benar tidur disana malam ini.
......................
Shiren akhirnya sampai di sebuah restoran, tempat dimana ia selalu memesan makanan. Kali ini dia ingin makan disini, dengan tujuan lain. Dia ingin tau dan memastikan identitas sang kurir itu, setidaknya agar membuat hatinya menjadi lebih tenang.
Setelah mendengar perkataan Alma kemarin, Shiren jadi khawatir sendiri, dia takut sendiri, takut jika ada yang benar-benar mengawasinya.
__ADS_1
"Halo Mba, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu dengan pakaian rapi, seragam berwarna merah, wajah cantik dan menarik dengan rambut tertata rapi.
"Halo, saya Shiren, saya sering beli disini di aplikasi online ini. Saya mau tanya dong, kalau boleh tau nama kurir yang selalu anterin makan ke daerah ini siapa ya?" Shiren menunjukkan riwayat pemesanan makanannya, dengan alamat apartemennya yang tertera juga dilatar itu.