
...********...
Pagi ini setelah bangun Shiren diam sebentar di kasurnya, dia kembali mengingat hal yang terjadi kemarin malam. sedikit malu wajahnya tersipu, Shiren ingat betapa manjanya dia kemarin malam.
Tepat saat Shiren terbangun dari mimpi buruknya, dia langsung menelpon Bryan. Tidak ada maksud apapun, hanya saja entah kenapa hal yang pertama yang ingin Shiren lakukan setelah mimpi buruk itu, dia hanya ingin berbicara dengan Bryan.
Dan syukurlah Bryan mengangkatnya meski belum membalas pesannya, tidak apa-apa, kali ini Shiren maafkan, soalnya-
BRYAN MANIS BANGETTT!! manis bangettt, manja bangett, lucu pokoknya cowok aku yang itu lucu bangettt!!!
"Aaaaa, help dia lucukkk bangettt!!" Shiren menutup wajahnya dengan bantal, dengan jantung yang masih berdebar dan wajah yang masih tersenyum tidak karuan.
Setelah Shiren mengadu merengek manja pada Bryan soal mimpi buruknya, Bryan disana sangat khawatir, Shiren tau itu, dia langsung ingin buru-buru datang kesini, tapi pada akhirnya Shiren melarangnya.
Tapi tidak masalah, soalnya selama satu jam mereka video Call, Shiren jadi lebih tenang, dia bahkan lupa apa mimpi buruk yang kemarin dia mimpikan sampai membuatnya takut.
Bryan membahas hal-hal sederhana selama di telpon, tapi itu terdengar manis untuk Shiren, belum lagi tatapan dan senyuman yang begitu tulus penuh cinta yang Bryan tunjukkan, membuat Shiren tak kuasa untuk tidak berdebar. Bahkan sampai pagi begini dia masih berdebar.
"Shi, buru bangun dah, mandi, jagain nih Reya."
Suara panggilan di luar pintu dari sang kakak-Arfen, benar-benar merusak mood bahagia Shiren barusan. Meski begitu, Shiren tetap mematuhinya untuk menjaga Alreya karna dia yakin kakak iparnya sedang membuat sarapan disana, jadi tidak ada salahnya membantu, toh memang sudah pekerjaan Shiren setiap pagi untuk menjaga salah satu dari anak kembar sang kakak, setidaknya sampai sarapan yang dimasak kakak iparnya selesai.
......................
__ADS_1
Tidak ada kejadian mengejutkan dari Shiren berangkat sekolah sampai dia ke kelas saat ini. Dia tidak kebetulan bertemu dengan Galaksi, atau dia juga tidak dijemput oleh Bryan, karna yang mengantar Shiren ke sekolah hari ini adalah Nathan. Itu artinya Shiren berangkat lebih pagi menyesuaikan jadwal sang ayah, Bryan juga merasa tenang karna yang bersama Shiren adalah calon ayah mertuanya, jadi dia yakin tidak satu pun pria berani macam-macam atau mengganggu Shiren di perjalanan berangkat sekolah yang singkat itu, termasuk bertemu dengan Galaksi.
Shiren duduk tenang dikelasnya dengan beberapa orang lainnya, dia sibuk memainkan ponselnya, hanya untuk sekedar menscrol mencari informasi baru. Lima menit yang lalu dia baru mendapatkan notifikasi dari Bryan dan Alma yang sama-sama mengatakan otw.
Jadi tunggu saja, tidak lama lagi ketenangan kelas ini akan berakhir, jadi inilah saat-saat yang tepat untuk Shiren menikmati momen pagi yang tenang ini.
"Shi? Udah datang? Tumben pagian begini? Gak mungkin elu belum selesai pr kan?"
Shiren langsung mengalihkan pandangannya ke asal suara yang terdengar familiar. Ah, suara itu, suara yang Shiren tunggu sejak kemarin, suara manis dan ramah yang menyapanya di pagi hari begini.
"Lilia? Baru datang? kemarin kemana aja? Telpon ga diangkat, chatt ga dibalas, gimana sih?"
Benar, gadis yang memanggil Shiren barusan adalah Lilia. Lilia yang kedatangannya Shiren tunggu untuk menagih penjelasan.
"Iyaa, gue dari rumah nenek gue di kampung, kagak ada jaringan disana, nih subuh baru balik. Niatnya hari ini mau libur juga, eh keinget Lo sama si berisik Alma. Kangen juga, makanya gue langsung sekolah walau badan gue agak encok karena cape perjalanan."
"Oyyy Lilia Kuprettt!! Buah manggis Buah semangka, gue nangis Lo ga ada!!"
Dari arah belakang, tampak Alma yang pendek dan berisik berlari dengan kaki kecilnya, dia langsung memeluk Lilia se-erat mungkin. Walau keduanya sering ribut soal pilihan, tapi mereka begitu dekat.
Lilia menarik senyuman manisnya, walau Alma berisik dan sering berdebat dengannya, tapi Lilia tampak begitu bahagia melihat Alma. Perasaan itu tampak tulus. Lantas, Shiren kembali meragukan segala opini yang ada di kepalanya, dia ingin semakin percaya bahwa Lilia tidak memiliki maksud jahat, atau semacamnya.
"Chatt gue ga di balas, telpon ga di angkat, padahal gweh nih ya ada gosip baru tau!" Tambah Lama semakin mencairkan suasana.
__ADS_1
"Hoo? Paan tuh? Awas aja kalo ga penting." Lilia sedikit menyipitkan matanya, yang artinya dia lumayan tertarik mendengar gosip dari Alma. Yah walau gosip yang Alma bawakan tidak selamanya benar.
"Lo inget si Galaksi itu? Galaksi yang dari sekolah sebelah, yang gangguin Shiren?" Ucap Alma membuka sesi gosip yang kelihatannya cukup panas ini, dan tampak menggebu-gebu dengan dukungan ekspresi Alma.
"Ah, iya kenapa? Ada sapa sama galaksi itu?" Tampak raut wajah Lilia yang tertarik, sudut bibirnya bergerak, matanya jelas memancarkan ketertarikan tersendiri. Senyuman tipis mati-matian Lilia sembunyikan.
Tapi itu tidak bisa disembunyikan dari Shiren. Hati Shiren kembali berdenyut perih setelah melihat respon Lilia soal kabar tentang Galaksi. Mungkin saja, Lilia memang benar-benar terlibat dengan Galaksi? Mungkinkah alasan Lilia melakukannya karna dia ingin mendapatkan Bryan kembali? Ah, pikiran itu terus berkecamuk di kepala Shiren. Shiren berusaha menyingkirkan pemikiran itu dengan segala pemikiran positifnya, sialnya wajah Lilia saat ini benar-benar mendukung opini buruk dalam kepala Shiren.
Ah ...
Ekspresi Lilia benar-benar sulit untuk Shiren abaikan.
"Si Galaksi itu ternyata jadi murid pelajar di sekolah kita! Gila kan? Kok bisa kebetulan gitu yak?!" Alma menghela napas kasar, badai dalam hubungan Shiren dan Bryan juga masalahnya, karna dia pendukung garis keras kapal Bryan dan Shiren harus berlayar sampai pelaminan!
"Ah? Jadi gitu!" Lilia mencoba menyembunyikan wajah tertariknya, padahal dia sudah sangat senang, itu artinya ada begitu banyak cara untuknya bisa mendekatkan Galaksi dan Shiren. Lilia bahkan sudah memikirkan banyak rencana untuk membuat segala pertemuan beralaskan kebetulan.
Sialnya, Shiren semakin tidak bisa menolak pikiran negatif atas Lilia.
"Ngeri, pagi-pagi udah gosip." Nanta datang dengan Bryan di sebelahnya, biasalah rumah mereka searah, jadi wajar kalau datang bersama.
"Suka-suka gue, kok lu yang sewot?!" Alma tentu membalasnya dengan suara yang lantang. Kalau itu Nanta, di mata Alma itu seperti masalah.
"Dih bocah, Eh Lu kemana aja? Kagak ada kabar?" Nanta beralih pada Lilia.
__ADS_1
"Ke rumah nenek gue, kagak ada jaringan disana."
Sontak, pembicaraan soal Galaksi pagi itu terhenti disana.