Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Kenapa disini?


__ADS_3

"Tunggu, lo kenapa di sini Gal?!" Shiren menanyakan ulang pertanyaannya.


"Oh gue di sini ya? Hem, murid pertukaran pelajar, awalnya sih bukan gue yang di pilih. Tapi, gue berusaha semaksimal mungkin biar gue yang pergi." Sahutnya enteng, tanpa dosa, merasa yang dilakukannya adalah hal yang benar.


"Ya terus? Lo kan murid kelas sebelah? Ngapain ke sini?" Bryan tidak ingin terlalu menanggapi serius ocehan Galaksi. Toh, dia yakin bahwa Shiren hanya miliknya. Dia juga yakin, bahwa Shiren lebih memilih dirinya daripada Galaksi. Terbukti  dari aksi blok mem-blok yang Shiren lakukan.


"Gak ngapa-ngapain, cuma mau bilang sama lo. Makasih, udah jagain jodoh gue selama ini. Karna gue yang jodoh sebenarnya udah di sini, mending lo get out pergi." Bukan lagi diam-diam, atau sembunyi-sembunyi, Galaksi kini sudah mengibarkan bendera perang secara terang-terangan.


Apa yang dicarinya? Simpati Shiren? Atau emosi Bryan? Atau kini dia sedang meyakinkan diri bahwa dia bisa mendapatkan Shiren?


"Galaksi! Apaan sih lo! Datang-datang gak jelas. Gue perjelas kali ini oke? Gue sama lo, itu cuma temen. Gak lebih, lo asik, lo seru, tapi gue cuma anggap temen." Shireng angkat bicara, dia juga tidak ingin disalah pahami.  Apalagi ada Bryan disini.


"Temen doang mah sekarang, nanti juga temen hidup, tunggu aja."


Jangan tanyakan betapa Bryan ingin menghajar habis Galaksi. Tapi Bryan ingat, ini sekolah dan Galaksi adalah tamu sekolah, lebih dari itu, alasan utama Bryan menolak keras untuk berkelahi adalah, karna Shiren. Lebih baik dia diam saja saat ini, ya cukup saat ini karna dia sudah berniat baku hantam nanti.


Lagipula, gak buruk juga. Toh Shiren belanya gue. Kalau gini, Galaksi makin dibenci, dan gue makin di puji.


Bukan maksudnya gue mau bahagia di atas penderitaan lo Gal, tapi lo sendiri yang mencoba bahagia dengan merampas kebahagiaan orang lain. Shiren itu kebahagiaan gue, selamanya akan jadi pusat kehidupan gue.


Bryan menyunggingkan senyuman tipis-tipis, yang nyaris tidak ada orang yang menyadarinya.


"Oh? Lo murid pertukaran pelajar itu? Ailah, gue kira siapa. Padahal kantin katanya heboh muridnya ganteng, ternyata elo. Sia-sia halusinasi dan ekspetasi gue. Niatnya mau gue jadiin ayang, tapi kalo itu elo, sorry. Bukan tipe gue." Celetuk Alma mengalihkan sebagian perhatian mereka.


Galaksi harus menoleh ke kiri dan agak menundukkan pandangannya menatap gadis ini, gadis yang cukup pendek hingga Galaksi tak bisa menatapnya lurus. Gadis mungil yang sudah memegang keripik di tangannya, mulutnya mengunyah berbunyi, pertanda bahwa keripiknya rapuh, dan mungkin saja enak.


"Apaan sih lo, baru datang resenya ga ketulungan." Galaksi memasang wajah datar yang jarang terpasang di wajahnya. Entah kenapa, kalau melihat Alma bawaannya pengen marah. Mungkin karna Alma adalah pendukung keras Bryan dan Shiren, kan?


"Apaan sih, kan elo yang ngerusuh. Mending lo pergi deh, kelas kita gak terima tamu. Apalagi jelek." Alma menarik tangan Galaksi, mendorongnya keluar dari pintu. Menutup pintunya rapat akurat.

__ADS_1


Shiren bahkan tidak bisa berkata-kata, dia bingung mau mendukung aksi sahabatnya, atau mencegah dan menasihati Alma-nya.


"Nanti gue bayarin makan di kantin, sepuasnya." Bryan memberikan jempolnya sebagai apresiasi tindakan Alma. Bagi Bryan meskipun terkadang Alma sangat menyebalkan, tapi dia juga sering membantu untuk menyatukan Shiren dan Bryan lagi.


"Kalau Galaksi bukan tipe lo, terus tipe lo yang kayak apa?" Nanta ikut angkat bicara. Padahal tadi rasanya dia enggan berbicara, karna menurutnya tidak ada keuntungan bagi dirinya untuk masuk ke dalam pertengkaran cinta segitiga yang menurutnya menggelikan, dan kekanak-kanakan.


"Nomor satu sih yang bukan tipe gue, jelasnya itu lo lah." Sahut Alma enteng tanpa basa basi.


"Biasanya semakin di tolak, semakin dia melekat loh."


"Amit-amit."


...***...


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, berkat Shiren, akhirnya pertandingan duel basket antara dua manusia itu berhasil di hentikan. Shiren tidak mau menjadi pusat perhatian lagi.


..."Loh? Gue udah gak tawuran lebih dari dua minggu loh Shi," Bryan mencoba membela diri. ...


"Ya, seterusnya gak usah dong."


"Pulang yuk? Gue anter."


Lagi dan lagi Bryan mengalihkan topik, dia selalu begini jika sesuatu yang dia tekuni di singgung.


"Jangan balapan liar lagi dong." Shiren masih meminta, dan terus meminta.


"Udah seminggu sih gue gak balapan."


Ya, semenjak Galaksi katanya berhenti balapan dan tawuran. Gue gak perlu turun balapan, karna gak punya lawan imbang.

__ADS_1


"Terus, chatt gue gak di bales kenapa?"


Bokap gue ngelarang buat balas semua pesan lo.


Oh, tentu saja Bryan hanya diam di mulut, dia menjawabnya di hati saja. Menyembunyikan segalanya sendiri, lagi dan lagi.


"Sorry." Hanya itu kata-kata yang sangat sering Bryan ucapkan. Dan tentu, yang mendengarnya juga muak.


"Bry... Gu--"


"Jangan minta putus oke? Katanya mau nikah, ini lagi gue usahain loh. Meminang lo itu gak mudah." Bryan menarik sang kekasih untuk lebih dekat dalam pelukannya.


"Hari ini jalan?"


"Gak dulu sayang, nanti kalau ada waktu luang, pasti gue ajakin. Sekarang, ayo kita pulang."


"I'm tired." Shiren menghela napasnya. Dia bahkan sudah lelah, dia lelah mengajak Bryan berubah, lelah menoleransi sikapnya.


Bryan berdiri, dia berjalan beriringan bersama gadisnya. Satu hal yang harus Bryan sukuri saat ini adalah, bahwa tak ada permintaan putus, walau mereka sudah membicarakan hal itu. Hal-hal yang tidak Shiren sukai dari Bryan.


Namun, langkah keduanya harus terhenti, karna ada satu manusia yang kini sudah menghalangi jalan mereka. Tentu saja itu Galaksi, yang tak lagi memakai dasi.


Shiren menghela napasnya, dia sudah lelah, tidak tau bagaimana caranya agar Galaksi mengerti bahwa Shiren tidak menyukainya, lebih dari teman.


Bryan juga lama-lama kesal, dia juga ingin menghajar habis kepala cowok tengil di depannya.


"Shi? Lo gak ada niatan tuker tulang gitu sama gue? Gue butuh tulang rusuk loh sekarang. Dan gue bisa jadi tulang punggung yang hebat." Celetuk Galaksi enteng, di depan Shiren dengan Bryan yang digadang-gadang akan menjadi tulang punggung bagi Shiren.


"Gue gabut sih, kayaknya muter-muterin tulang seru juga. " Sahut Bryan enteng, dia menatap Galaksi tajam, yah wajar memang Galaksi yang mulai duluan.

__ADS_1


__ADS_2