
Bryan diam di tempatnya. Dia membeku.
Dia hanya menunduk lesu tanpa mengatakan apa-apa lagi, sebelum dia menarik nafas dan mulai mengatakan kata-kata yang tidak pernah Shiren duga akan keluar dari mulut Bryan.
"Kayaknya emang bahaya buat Lo deket gue, maka dari itu sebaiknya Lo ngejauh dari gue. Ayo kita udahin hubungan ini, hubungan kita gak sehat. Hubungan ini menyakitkan buat Lo kan?"
Ah ...
Shiren memang sejak dulu mau putus.
Tapi entah kenapa jika Bryan yang meminta putus seperti sekarang, sebuah angin dingin menerpa hati Shiren.
"Lo mau putus? Jadi maksud Lo, Lo lebih milih ngelepas gue dibanding kehidupan berandal Lo itu?" Shiren mengernyitkan dahinya tidak menyangka, ini benar-benar diluar ekspektasinya.
Dia kira Bryan akan menangis dan berjanji tidak akan balapan atau tawuran lagi demi Shiren. Ah nyatanya tidak, ternyata Shiren tidak sepenting itu, nyatanya semua omong kosong, janji, tatapan, ucapan cinta yang begitu besar semuanya hanya kebohongan? Shiren sungguh tidak habis pikir!
Harusnya Bryan memilih Shiren!
Dengan segala perasaan dan cinta yang Bryan tunjukkan selama ini, harusnya itu bukan sekedar candaan! Harusnya Bryan memilih Shiren dibanding kebiasaan tidak berguna dan tidak sehat itu kan?
Kenapa?
Kenapa Bryan malah memilih kebiasaan itu dibanding mempertahankan hubungannya dengan Shiren?
"..."
Bryan hanya diam, dia tidak menjawab apapun, dia bahkan mengalihkan pandangannya, tidak sanggup menatap mata Shiren langsung.
"BRYAN! Jawab gue! Lo lebih milih itu semua dibanding gue? Terus cinta yang selama ini Lo tunjukkin itu apa? Itu palsu? Semuanya palsu?! Lo perlakuin gue seolah gue ini rumah yang amat sangat penting buat Lo, tapi sekarang Lo mau lepas gue demi kebiasaan berandal itu? Hey, are you okay?"
"Mana mungkin itu semua palsu, Lo tetep jadi orang favorit dalam hidup gue, dulu, sekarang, dan di masa depan." Bryan tersenyum tipis, matanya agak menyipit menatap Shiren tulus.
Ah sial, bahkan saat ini pun Shiren bisa merasakan cinta yang besar dari perkataan dan tatapannya yang dalam itu.
__ADS_1
"Terus Lo bakal ninggalin kebiasaan buruk Lo itu kan? Liat gak? Itu bahaya! Bahaya buat gue, buat Lo juga!"
"Sorry, and i Love you."
Bryan mengecup pucuk kepala Shiren lembut, dia diam agak lama, tangannya mengelus rambut Shiren, walau hanya satu tetes Shiren bisa merasakan air mata Bryan yang jatuh di keningnya.
"Bry! Gue hampir di culik, gue hampir--"
"Karna itu, gue bakal lepasin Lo. Lo bakal terus menderita dan disakitin kalo ada di sebelah gue okay? Ini yang terbaik buat kita, hubungan kita itu gak sehat Shi." Bryan tersenyum, bibirnya getir, dirinya sendiri juga tidak menyangka akan mengucapkan perpisahan ini.
"Okay, serah Lo deh. Jadi mulai sekarang kita udahan, kita ga punya hubungan apa-apa, kedepannya jangan temuin gue, jangan liat gue, jangan ngomong sama gue, anggap aja kita gak pernah kenal, mending Lo sekarang angkat kaki, jauh-jauh dari pandangan gue." Shiren membuang muka, dia memilih melihat Vas bunga di meja dibanding melihat wajah Bryan saat ini.
Shiren kesal, dia begitu membenci pria ini, Shiren amat sangat membencinya, dadanya sakit, perasaannya tidak nyaman, dia ingin menangis tapi dia terus menahannya, setidaknya dia tidak ingin menangis di depan Bryan saat ini.
"Ya, gue pergi, jaga diri Lo oke? Ah, gue lupa, kan selama ini yang nyakitin Lo itu gue, kalo ga ada gue Lo ga bakal sakit, jadi its okay, ini yang terbaik. Sehat selalu ya, dan bahagia, jangan sedih-sedih, traveling kalo bosen."
Shiren tidak tau ekspresi apa yang Bryan tunjukkan ketika ia mengatakan itu, karna Shiren tidak mau melihatnya, tapi dia juga penasaran sebenarnya.
Klek ...
Pintu terbuka lalu tertutup kembali, artinya Bryan sudah pergi entah dengan eskpresi seperti apa.
Tidak tau bagaimana perasaan Bryan saat ini, tapi yang jelas perasaan Shiren sangat sakit disini, dadanya sesak, ada amukan yang ingin membludak tapi dia tahan, dia ingin berteriak sekeras mungkin, tapi dia menahannya, menangis dengan mencoba memendam suara ternyata rasanya semenyesakkan itu.
Shiren menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir deras, kedua tangannya mencengkram sisi kasur itu.
Perih
Sakit
sesak
Kalau boleh jujur, ini perasaan paling menyakitkan yang pernah Shiren rasakan, bahkan luka goresan dan kaki yang dialaminya tadi pagi tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit saat ini.
__ADS_1
Bryan yang tampak begitu mencintainya, memelas dan memohon agar tidak putus darinya, kini pemuda itu pula yang memutuskan hubungan mereka, lantas bagaimana dengan Shiren? Bagaimana pendapat gadis itu? Apa tidak penting, apa bagi Bryan perasaan Shiren tidak penting?
Bryan pergi begitu saja, tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Shiren sering minta putus dengan Bryan sejak satu tahun terakhir, tapi tidak pernah satu kali pun terjadi seperti ini, kali ini mereka putus.
"Kami akhirnya beneran putus ya?"
Shiren masih merasa tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Dia akhirnya putus?
Padahal sebelum Bryan datang tadi, Shiren sudah percaya diri untuk mengancam pemuda itu dia akan minta putus jika Bryan tidak berhenti, tapi ketika sang mantan kekasih datang, dia malah lebih dulu mengajukan permintaan itu?
Terserah deh, hubungan kita udah berakhir, gue harus move on sih, skip Shiren! Ga usah cinta-cintaan ga jelas lagi! Ayo cepet sembuh, cepet belajar, kan mau ujian! Ayo jadi perempuan yang mandiri yang bisa semuanya sendiri, jadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara!
Shiren mencoba menepis rasa sakit itu dengan pikiran positif, bukannya memang begitu? Saat patah hati dan kecewa akan cinta, mereka akan menolak cinta dan menganggapnya itu bukan bagian dari dirinya.
Tapi jauh di dalam hatinya, Shiren tau, dia masih sangat mencintai Bryan, bahkan mungkin jika Bryan kembali dengan tangisan lirih untuk meminta hubungan mereka pulih kembali, Shiren mungkin akan menerimanya.
Dia udah pergi, hubungan kita akhirnya sampai disini ya?
Tapi, apa gue benci Bryan?
Shiren tidak bisa menjawabnya, ada perasaan kesal untuk Bryan yang tampak egois dalam hubungan mereka. Tapi apakah itu bisa menjadi alasan Shiren membenci Bryan?
Tidak!
Bahkan sampai detik ini, gadis itu tidak memiliki setitik perasaan benci pun untuk sang mantan kekasih.
Shiren memegangi keningnya yang dikecup oleh Bryan cukup lama tadi.
Terbesit dalam pikirannya.
Apa itu kecupan terakhir Bryan buat gue? Artinya angan-angan kita buat nikah memang sekedar angan-angan ya? Apa ini yang namanya people come and go?
__ADS_1