
"Tiga puluh kali!"
Galaksi tidak peduli, dia masih berjalan dengan angkuhnya. Dia bahkan tidak mengerti maksud dari gadis yang mengaku sebagai sahabat Shiren.
"Hampir tiga puluh kali Shiren minta putus sama Bryan beberapa bulan terakhir." Lilia melanjutkan ucapannya, dia bertaruh bahwa Galaksi mungkin akan mendengarkannya.
Akhirnya Galaksi menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Lilia. "Apa maksud lo?"
"Iya, Shiren gak bahagia sama Bryan, dia udah minta putus sebanyak itu selama beberapa bulan terakhir." Lilia sedikit memperjelas argumennya pada Galaksi.
"Gak bahagia? Kenapa? Bryan ganteng, jago bela diri, jago olahraga, dan pastinya setia, apalagi melihat dari caranya natap Shiren, ada cinta yang gak bisa diukur besarnya." Meski enggan dan tak terima, tapi Galaksi lebih memilih mengakui fakta itu.
Bahwa Bryan yang dikenal sebagai brengsek di jalanan, berganti sebagai manusia jika itu dihadapan Shiren.
"Karena Shiren gak suka cowok berandal, Shiren minta putus sama Bryan karna Bryan suka tawuran, hobi balapan, gak absen buat keributan. Shiren gak suka cowok gitu. Dan berapa kali Shiren minta Bryan berubah, dia gak berubah juga."
Lilia tidak salah kan? Akar utama permasalahan hubungan mereka memang itu, kan?
Deg
Galaksi mau bilang apa? Dia cowok ganteng yang patuh peraturan? Faktanya dia juga sama berandalnya seperti Bryan. Sama gilanya saat tawuran, sama hobinya dalam balapan, persentase buat keributannya juga tidak jauh. Apa Shiren mau menerima Galaksi yang begitu?
"Terus maksud lo ngomong gini ke gue apa?"
"Kalau lo beneran cinta sama Shiren, sayang dengan tulus sama dia, gue bakal bantuin lo jadian sama Shi."
Sial, dia gak tau gue juga berandal. Tapi, gue berandal yang bisa berubah. Sorry Bry, lo sendiri yang gak mau berubah, itu semua salah lo.
Galaksi nampak agak berpikir sebentar.
"Gue bakal usaha dapatin hatinya Shiren, dengan cara gue. Thanks info nya." Galaksi sudah cukup terhibur dengan fakta yang baru menyapa telinga. Dia ingin berjalan kembali mengurus banyak hal.
"Gue bakal bantuin lo!"
Cowok jangkung itu berhenti, dia melirik Lilia penuh selidik. "Kenapa lo mau bantuin gue?"
"Gue sayang sama Shiren, gue gak mau di terjebak dalam hubungan yang gak dia suka. Meskipun dia cinta sama Bryan, dia gak bahagia dalam hubungan itu. Gue mau Shiren bahagia, dengan orang yang dicintainya, dan menjalin hubungan sesuai keinginannya."
...***...
__ADS_1
Di tengah lapang sorak sorai semangat sangat ramai dan bergemuruh, Mereka meneriaki nama Bryan dengan lantang, ada yang mengatakannya keren, ada yang berteriak saat Bryan sukses mencetak poin dengan keren. Tidak diragukan, pesona Bryan menarik banyak siswi dari sekolah lain, bahkan siswa sekolah lain juga terkagum-kagum pada dirinya.
Shiren juga sama, dia sangat suka melihat Bryan saat ini, hingga dia tidak bisa berkata-kata, sangking sibuknya memuji sang kekasih di dalam hati. Ah, terkadang juga dia kesal dan panas, melihat segerombolan cewek berteriak bahwa mereka menyukai Bryan. Meskipun Bryan tidak melirik mereka, tetap saja rasa cemburu itu membakar jiwa.
Bryan sendiri, jika dia punya kesempatan walau hanya sebentar, pasti dia habiskan melirik kekasihnya yang tengah menontonnya dengan diam.
Suara peluit berbunyi, pertandingan kedua usai, pemenangnya sudah jelas sekolah Merah Putih, berkat poin yang Bryan ciptakan sangat berbanding jauh dengan poin musuh, ah poin? Mereka bahkan dibantai kosong, memang mengerikan sekolah ini, dan anak-anaknya.
Bryan langsung menghampiri Shiren, dia memeluk erat gadis itu sambil menghela napasnya selega-leganya.
"Apa? Emang selega itu ya habis menang? Padahal menangnya se-telak itu?" Shiren suka di perlakukan begitu oleh Bryan di tempat umum ini, semoga dengan begitu, impian dan harapan gadis-gadis lainnya berhenti sampai disini untuk mendapatkan Bryan dan hatinya.
"Bukan lega habis menang, lega gue gak lari dari lapangan buat meluk lo gini."
Sudah Nanta dan Alma duga pasti jawabannya ngawur.
"Al, mending kita ke kantin sekolah ini. Lo belum pernah makan di kantin seolah lain kan? Ayo ikut gue. Eneg gue di sini, bucin akut emang gak tertolong." Nanta merangkul bahu Alma, mengajaknya ke tempat yang dimaksud.
"Lo bayarin gue ya?" Alma menatap sang pengajak dengan mata berbinar.
"Cium pipi gue, dijamin lo bebas ambil apa aja dikantin itu." Nanta agak menunduk, mendekatkan pipi kanannya pada wajah Alma.
"Dih ogah, banyak keringat, mana lo baru selesai main kan." Alma tentu saja mendorong wajah itu menjauh, jika tidak dia akan terkena keringat cowok tampan itu.
"Oke!"
Keduanya berjalan dengan rangkulan yang tak lepas ke arah kantin, meninggalkan Bryan dan Shiren dengan tingkat kebucinan mereka.
"Ayo, gue juga pengen tau makanan kantin sekolah lain." Shiren menarik Bryan sebelum mereka kehilangan jejak Nanta dan Alma.
"Gak gitu enak, ibarat biasa, makanan kantin sekolah tuh kayak makanan rumah udah. Lidah lo bakal asing makan di sini."
"Ya ayo coba Bry!"
"Kapan sih gue bisa nolak lo?" Bryan juga membawa Shiren ke tempat yang dimaksud.
"Bukannya sering ya, lo selalu nolak kok pas gue suruh berhenti tawuran, balapan, rib--"
"Ngomong satu kata lagi, gue sosor nih?"
__ADS_1
Shiren menutup mulutnya seketika, dia masih belum siap melakukan hal tersebut, jangan di bibir dulu deh, masih terlalu muda.
-
-
-
Akhirnya keempatnya sudah duduk di satu meja yang sama, setelah Nanta dan Alma sampai, tak lama Bryan dan Shiren juga menyusul. Lilia pulang lebih dulu katanya, ada yang musti di urus, dan Arga mengurus soal pertandingan futsal jadwal selanjutnya.
"Ha~" Alma menghela napas seberat-beratnya. Ini sangat menjengkelkan untuk di dengar, mengundang penasaran ketiganya sebab musabab sang gadis manja begitu.
"Apaan lagi sekarang?" Nanta sudah menatap Alma penuh curiga.
"Beban gue sebagai anak sekolah berat ya, harus hapalin tiga hukum Newton, mana contoh-contohnya juga lagi. Gue sih udah hapal hukum satu dan dua, tapi tiganya susah, apalagi contohnya. Mana besok setor hapalan, ha!! Kapann sih gue tamatnya." Alma curhat panjang lebar, keluh kesah khas anak SMA yang malas. Alma adalah kita di zaman dahulu, bukan?
"Ha~" Nanta ikut menghela napas lebih berat dari Alma barusan. "Padahal gue udah lupa, malah lo ingetin, sekarang hati, batin jiwa dan raga gue ikut gak tenang kan."
"Hukum Newton ketiga berbunyi, Ketika suatu gaya aksi diberikan pada suatu benda, maka benda tersebut akan memberikan gaya reaksi yang sama besar dan berlawanan arah dengan gaya yang diberikan." Celetuk Shiren yang memang sudah hapal semuanya, maklum saja, turunan Nathan.
"Asli, gak paham gue." Alma menatap Shiren datar, sembari mengangkat kedua tangannya.
"Gini loh, misalnya, lo dayung sampan, lo kasih gaya aksi dorongan kebelekang, reaksinya lo maju ke depan. Aksi reaksinya lawanan arah gitu." Shiren memperjelas perkataannya dengan bahasa sesederhana mungkin.
"Hampir paham." Sahut Nanta polos, yang artinya dia tidak paham sempurna.
*Cup
Bryan mengecup kening Shiren di pucuk kepalanya, dan
*Bukh!
Satu pukulan Shiren berikan sebagai respon seketika.
"Gini, gue nyium dia itu aksi, dia mukul gue itu reaksi, udah?" Jelas Bryan sudah turun tangan, entah benar atau tidak argumennya yang aneh ini.
"Oh gitu! Itu sih gue paham!"
"Ngerti gue."
__ADS_1
Jawab kedua manusia yang sedari tadi fokus mendengarkan.
"Agak sakit keknya otak kalian." Shiren menahan kekesalannya yang hampir memuncak.