
Bryan sudah duduk di kursinya dengan gelisah, sudah lebih dari lima belas menit dia menggoyang-goyang kursi Shiren tanpa penghuni itu.
Pagi ini dia sudah sampai di sekolah lebih cepat, dia ingin melihat dan memastikan keadaan kekasihnya baik-baik saja, tapi gadis yang di tunggu tak kunjung datang.
Alma yang baru datang langsung menuju ke arah Lilia. "Lilia! Lo kan sekretaris kelas, nih surat Shiren, dia sakit."
"Loh? Dia sakit apa? Kok gak ngabarin gue?" Lilia menerima suratnya, dan langsung mengisi absen Shiren dengan huruf S keterangan sakit.
"Dia jatuh dari motor, kepalanya lecet. Nanti pulang sekolah kesana ya?"
"Duh, kasihan banget, Parah gak lukanya?"
"Kata Kak Arfen yang nganter suratnya tadi, gak terlalu parah, cuma Shiren sakit kepala aja. Cuma kepalanya kok yang luka."
"Ya udah nanti kita kesana."
Bryan yang sudah mencuri dengar obrolan kedua sahabat kekasihnya, mengepalkan tangannya erat. Dia adalah dalang akibat terlukanya Shiren, sudah semalaman dia terus menyalahkan diri sendiri, dan stress sendiri.
Dia ingin segera pergi ke tempat Shiren, namun ditahan oleh Nanta.
"Lo mau ke tempat Shiren?" Nanta tak melepas genggaman tangan itu, meskipun Bryan sudah menajamkan matanya pada dirinya.
"Kalo lo udah tau, mending lepas deh." Bryan tak ingin basa-basi lagi, dia hanya ingin pergi menemui sang kekasih.
"Menurut lo, apa Shiren bakal bahagia, seneng dan terharu, melebarkan tangannya menyambut kedatangan lo ke rumahnya? Bry, masih jam sekolah. Shiren lebih suka kalau lo kesana, pas udah pulang sekolah."
"Ck!" Bryan berdecak kesal, dia geram tak bisa langsung menemui kekasihnya. Tapi dia lebih kesal karna analisis Nanta benar.
"Bener tuh Bry, ada juga Shiren malah benci sama lo. Mendingan nanti aja, pulang sekolah, bareng kita." Timpal Alma yang memang masuk dalam tim Bryan, berkebalikan dengan Alma, Lilia malah berharap Bryan tidak ikut sama sekali.
"Tuh lah lo sibuk sampai cewek lo jatuh aja lo gak tau kan?!" Lilia tak ingin melewatkan kesempatan untuk menyudutkan Bryan.
"Gue tau, Shiren jatuhnya sama gue." Bryan juga mengikuti drama jatuh dari motor yang Shiren ciptakan.
"Apa?!" Alma dan Lilia sama-sama terkejut, mereka mendekati Bryan dan mencoba menggali informasi kejadian.
Bukan Bryan, tapi Nanta yang menjelaskannya, karna Bryan tidak tertarik berbicara apa-apa lagi. Nanta sungguh pendongeng handal.
Bryan berusaha keras menenangkan dirinya, dan kembali duduk dengan frustasi. Dia tidak bisa konsentrasi karna kepalanya hanya membayangkan Shiren dan Shiren.
...-...
__ADS_1
...-...
...-...
Tok tok tok
Suara ketukan memaksa Shiren untuk bangkit. Sebenarnya dia bisa saja sekolah hari ini, tapi dia enggan sekali harus bertemu Bryan.
Shiren membuka pintunya, dia enggan bertemu Bryan, tapi Bryan memaksa untuk bertemu dengannya, terbukti dari Bryan yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Tentu saja bukan hal yang sulit untuk Bryan masuk ke sini karna dia sudah mengantongi seluruh restu keluarga, jadi akses bebas masuk ke rumah Arkasa sudah dia dapatkan.
"Lo?!"
Dia tidak tau perasaan dihatinya jenis apa itu, tapi yang jelas, Shiren tidak ingin melihat Bryan saat ini, apalagi berbicara dengannya.
Shiren ingin menutupnya dengan segera, namun dengan cepat Bryan menahannya, dan memaksa masuk ke kamar itu.
"Mau apa lo--"
Bryan langsung memeluk Shiren dengan erat, sangat erat dan hangat, menumpah ruahkan segala kekhawatiran yang semalaman ini dia rasa. Melihat Shiren masih bisa marah, dia yakin Shiren cukup baik kesehatannya.
"Menjauh dari gue! Gue gak mau kete--"
"Apa maksudnya?" Wajah Shiren sudah sangat dingin, intonasinya sudah tidak bersahabat.
"Satu bulan gue gak bakal tawuran, dengan syarat kita damai ya? Jangan ribut lagi, oke?" Bryan tidak ingin basa-basi lagi, dia tau bahwa Shiren sudah sangat marah padanya, dan itu serius.
Shiren diam, dia tampak berpikir sebentar, matanya tajam menatap mata sang kekasih. "Beneran gak bakal tawuran selama sebulan?"
"Iya, janji! Kalau gue tawuran sebulan ini, kita putus, kalau gak? Kita gak putus, gimana?" Bryan sudah mempersiapkan diri untuk tawaran besar pada kekasihnya, mahal memang harga yang harus dia bayar demi mendapat maafnya Shiren. Tapi tidak apa-apa, Bryan akan berusaha semaksimal mungkin jika peluang itu akan membawanya pada Shiren.
Kalau dia bisa berubah sedikit demi sedikit? Bryan yang dulu, bakal balik kan?
"Shi? Sayang? Gue janji oke, jangan marah, gue paling gak bisa kalau lo diemin gini."
"Hm ...," Shiren mengangguk, namun dia juga masih menjaga gengsinya. Dia yang seperti itu terlihat sangat menggemaskan dimata Bryan.
Bryan tidak bisa berkata-kata, dia hanya langsung memeluk gadisnya. Terbukti, bahwa memang Shiren masih menaruh rasa yang sangat besar untuk Bryan.
"Kan udah gue bilang, kalian meski ribut-ribut gitu, kayaknya sampai ke pelaminan." Celetuk Alma yang sudah nongol di depan pintu kamar Shiren, bersama dengan Nanta, Arga dan Lilia.
"Pelaminan masih jauh, masa depan juga gak ada yang tau." Timpal Lilia yang masih belum restu.
__ADS_1
"Dua hari lagi, gue ada adu futsal, di sekolah lain, pertandingan antar delapan sekolah, lo nonton ya?" Bryan mulai mencairkan suasana antara dirinya dan kekasihnya.
"Ogah." Shiren malas.
"Ayolah Shi, gue kepo, ayo ayo!"
Jengukan itu berakhir dengan mereka yang mencoba membujuk Shiren ikut menyemangati Bryan dalam pertandingan futsal itu. Entah Shiren mau atau tidak.
...***...
"Panas banget sumpah dah hari ini, ngomong-ngomong, pertandingan pertama kita lawan siapa?" Tanya Galaksi yang sedang nongkrong ria dikantin sekolahnya bersama teman-teman se-gengnya.
"Kita lawan sekolah Harapan," Jawab Adit, sahabat baik Bryan yang selama ini selalu menemaninya. "Btw Gal, ke gerbang depan noh, sambut Tim-tim lain, kita harus punya martabat sebagai tuan rumah."
"Kenapa harus gue? Ogah banget, panasan gini, lo mau gue jemur diri?" Tentu saja Galaksi menolak, panas matahari sedang tidak baik-baik saja hari ini.
"Karna lo ganteng, pergunakan kek kegantengan lo buat nyambut tamu, ayo berdua deh sama gue."
Galaksi langsung menyisir rambutnya, bergaya bak cowok paling ganteng. "Oke, karna gue ganteng, gue setuju. "
Adit dan Galaksi keduanya berjalan ke arah gerbang, hari ini adalah harinya, pertandingan futsal antara sekolah yang mereka adakan, baik Negri, maupun Swasta. Dan sekolah Swasta Adidaya milik mereka menjadi Tuan rumahnya, karna fasilitas yang bagus dan sangat memadai.
"Loh? Shiren?"
Galaksi yang mulanya letoy, berjalan gontai dan malas, mendadak berdiri penuh semangat, seolah jiwanya terbasuh air sungai yang segar.
Dia melihat Shiren berdiri sendirian di gerbang sekolahnya. "Btw, lo liat kan Dit? Gue gak halu kan ini?"
"Iye gue liat kok, lo gak halu.
Btw, itu cewek SMA Merah Putih yang lo taksir?"
"Yoi, cinta pertama dan terakhir gue." Galaksi dengan rasa gembiranya ingin menghampiri Shiren.
"Panas ya sayang? Mau minum dulu nggak?"
Namun Galaksi harus mengehentikan langkahnya, badannya sulit digerakkan, saat dia melihat Rivalnya-Bryan membuka jaketnya dan menutupi kepala Shiren. Telinga Galaksi ingin menolak panggilan sayang dari Bryan untuk gadis yang ia cintai.
...***...
...Votenya kakak, biar author lebih semangat^^...
__ADS_1