
"Yoi, cinta pertama dan terakhir gue." Galaksi dengan rasa gembiranya ingin menghampiri Shiren.
"Panas ya sayang? Mau minum dulu nggak?"
Namun Galaksi harus mengehentikan langkahnya, badannya sulit digerakkan, saat dia melihat Rivalnya-Bryan membuka jaketnya dan menutupi kepala Shiren. Telinga Galaksi ingin menolak panggilan sayang dari Bryan untuk gadis yang ia cintai.
Fakta yang tersaji tiba-tiba, menambah panasnya matahari berkali-kali lipat.
"Lo gebet cewek orang? Parah sih, mana ceweknya Bryan lagi." Bisik Adit yang juga mendengar panggilan Bryan untuk Shiren. Menambah keyakinan Galaksi bahwa ini bukanlah alam mimpi, dia sadar sepenuhnya.
Wajahnya tegang, seolah habis tertampar. Oh ya, dia kan memang baru saja tertampar kenyataan, kan?
"Gue tau lo pengen bersaing sama Bryan dalam hal apapun, tapi bukan berarti lo harus bersaing dalam hal cinta, apalagi sampai merebut ceweknya?" Tambah Adit yang semakin menambah panas cuaca dan suasana.
"Pulangnya kapan?" Shiren harus mendongak menatap kekasihnya, yang kini berusaha menduhkan wajahnya melalui jaket sederhana itu.
"Baru juga sampai, udah minta pulang. Gak mau liat cowok lo beraksi keren?"
"Bodo." Shiren tampak tidak peduli, namun di hati dia juga penasaran dan ingin mendukung Bryan. Namun, dia harus mengendalikan diri, soalnya hari ini dia masih marah pada kekasihnya.
Bryan tidak pernah marah, jangankan marah, kesal saja tidak meski dia diperlakukan dingin oleh sang gadis tambatan hati. Dia malah menganggap segala tingkah laku Shiren itu lucu. Memang, kalau sudah bucin akut, gak tertolong lagi kalau kata Nanta.
"Shi? Ini cowok yang lo maksud?" Galaksi datang, menerobos percakapan manis di antara dua kekasih itu.
Galaksi yang kali ini langsung ke inti pembicaraan, tampak agak aneh. Pasalnya bocah tengil ini kan selalu berbasa-basi dulu sebelumnya, baik soal ketampanannya atau rayuan mautnya. Tapi, dia menghapuskan basa-basi kenarsisannya? Sepertinya cowok tampan itu benar-benae serius saat ini.
Wajar saja, hatinya sudah berdenyut perih, otaknya tidak berjalan untuk mengeluarkan perkataan absurd namun melelehkan. Kinerja otaknya kalah dengan panasnya hati yang membara.
"Loh? Lo di sini? Oh, lo sekolah sini ya?" Shiren menanggapi dengan biasa saja, emangnya dia harus apa?
"Shi? Kenal sama dia?" Bryan menarik Shiren lebih merapat ke dalam pelukannya, genggaman di bahu ia pererat. Bryan tidak tau kenapa, tapi dia punya firasat tidak enak. Yang jelas, dia akan aman jika musuhnya yang satu ini, jauh dari kekasihnya satu-satunya.
"Dia, adik temennya Kak Arfen." Shiren menjawabnya dengan jujur.
"Oh? Gitu." Seperti biasa, mode dinginnya Bryan untuk Galaksi on.
"Bryan ini? Cowok yang lo maksud?" Galaksi masih mencoba menolak fakta, dia berharap bahwa Shiren mengatakan tidak, padahal dia sendiri tau jawabannya.
"Iya, gue cowoknya. Udah Shi, ayo." Bryan langsung menarik Shiren, pergi menjauh meninggalkan Galaksi.
-
__ADS_1
-
-
Saat pertandingan pertama, sekolah Galaksi melawan sekolah Harapan. Keduanya tidak seimbang, Sekolah Harapan kalah cukup telak.
Oh? Dia gak bohong waktu bilang dia jago main futsal? Dia jago sih, kalau bukan dia pasti sekolahnya udah kalah.
Shiren memperhatikannya dengan serius, soalnya Galaksi memang benar-benar jago, dia adalah sayap, ujung tombak, tumpuan sekolahnya. Banyak gadis, bukan hanya dari sekolahnya tapi sekolah lain juga meneriaki Galaksi dan mendukungnya, tidak heran, kemampuan dan wajahnya memumpuni itu semua.
Bryan melirik ke arah Shiren yang masih fokus menatap Galaksi, terus meneru, matanya mengikuti dimana Galaksi melangkah. Sakit, perih, pedih yang dia rasa mungkin sulit untuk manusia lain mengerti dan merasakannya.
Cinta Bryan bukan main besarnya, apalagi tulusnya. Tidak bisa seorangpun bayangkan, apalagi ukur.
Shi? Ada hubungan apa lo sama Galaksi? Kayaknya bukan hubungan biasa? Apa gue tanyain lagi.
Bryan memijit keningnya frustasi.
Gak usah, kami baru damai, gue gak mau ribut lagi, apalagi sampai dia minta putus lagi.
Bryan menghela napasnya, dia mencoba menata kembali hati yang sempat gusar.
Shiren mengukur suhu tubuh Bryan dengan tangannya. "Agak hangat sih? Gak usah main ya?"
"Kening gue emang hangat, yang panas hati gue. Jangan natap cowok lain gitu Shi, gue gak bisa, gak kuat gue. Percaya atau gak, gue stress." Bryan menyandarkan kepalanya di bahu Shiren.
Deg
Hati Shiren berdesir, dia suka perasaan mendadak yang baru saja menyapa hatinya. Ah, ini memang perasaan kesukaannya.
"Pfftt, manja banget, cowok siapa sih?"
"Cowok orang."
Keduanya tersenyum tanpa saling menatap, namun keduanya mengerti bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Hati dua orang disana memang sedang berbunga-bunga, tapi apa kabar hati kecil pemain inti di lapangan sana? Sepanas apa hatinya? Sebergetar apa jiwanya? Gadis yang sudah ia anggap takdir dirinya, juga sebagian jiwanya, gadis yang ia percaya membawa tulang rusuknya malah tersenyum bermesraan dengan rivalnya sendiri?
Bunyi peluit menghentikan pemain, wasit langsung menyatakan pemenangnya adalah sekolah Galaksi.
"Gal, lo ja--" Adit baru saja ingin memeluk dan mengapresiasi kerja keras Galaksi yang berhasil membawa mereka ke babak selanjutnya. Namun Galaksi sudah langsung pergi berlari.
__ADS_1
"Kenapa lagi tuh anak?" Adit melirik ke arah Bryan dan Shiren yang sepertinya masih asik sendiri mengobrol. "Ck, lo harusnya nyerah Gal, gak ada peluang buat lo. Apalagi saingan lo berat, itu Bryan loh. Brengsek gila di jalanan."
-
-
-
Bukhhh!!!
Galaksi memukul dinding gudang belakang di sekolahnya, ini adalah tempat sempurna yang ia cari untuk melampiaskan amarahnya. Begitu panas dan sesak dia rasa, kemenangan yang baru di dapatkannya sama sekali tidak bisa menghibur hatinya.
"Lo? Galaksi kan? Ace sekolah Nusantara?"
Tiba-tiba ada suara gadis dari arah belakang Galaksi, menyebut namanya, dia berbalik menatap sang gadis pemanggil.
"Iya gue Galaksi, gue murid sekolah ini, bukan Ace atau semacamnya. Dan lo siapa? Ngapain murid sekolah lain ke gudang sekolah gue? Oh, lo nguntit gue? Gue lagi gak mood buat main-main."
"Gue Lilia, gue emang murid dari sekolah lain, dan gue sampai ke sini karna ngikutin lo itu bener." Lilia memang sengaja mengikuti Galaksi sedari tadi.
"Gue gak tertarik sama lo." Galaksi enggan, dia lebih baik pergi sendiri dibanding ribut dengan murid cewek sekolah lain.
"Gue sahabatnya Shiren, kalau gini, lo tertarik kan?"
Galaksi menghentikan langkahnya, dia menatap Lilia tajam. "Apa maksud lo?"
"Gak usah basa-basi, gue tau lo suka sama Shiren kan? Pas di gerbang depan tadi gue liat semuanya, mata lo mencerminkan segalanya."
"Bukan urusan lo." Galaksi melanjutkan jalannya.
"Tiga puluh kali!"
Galaksi tidak peduli, dia masih berjalan dengan angkuhnya.
"Hampir tiga puluh kali Shiren minta putus sama Bryan beberapa bulan terakhir."
Akhirnya Galaksi menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Lilia. "Apa maksud lo?"
...***...
...Makasih Votenya kakak^^...
__ADS_1