Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Love u


__ADS_3

......................


Bryan berjalan di tengah kegelapan malam, sendirian, dengan pakaian yang lusuh, berjalan di tempat yang sepi dan gelap tanpa satu orang pun lewat, entah dimana tempat itu, yang jelas tempat itu terbaik untuk Bryan sekarang, yang ingin menyendiri.


Bryan masih mengingat jantungnya yang hampir copot ketika dia mendapat kabar dari Arfen, bahwa gadis tercintanya masuk ke rumah sakit, ditabrak oleh orang, bahkan hampir diculik.


Bryan bahkan masih ingat, betapa takutnya dia seolah dunia akan runtuh jika manusia favoritnya itu terluka.


Tapi, jantung yang berdegup kencang itu, mendadak kembali tenang, ketika dia melihat sang gadis yang duduk di ranjang rumah sakit dengan mata yang terbuka, Shiren masih hidup walau tidak sehat.


Satu dua langkah kakinya berjalan, tapi hatinya yang teriris melihat segala alat medis melekat di tubuh Shiren, belum lagi melihat luka di sudut keningnya, apalagi luka di tangan Shiren.


Bryan ingat penjelasan Arfen dan supirnya, kalau mereka diserang setelah kembali dari rumah Bryan. Ah, pemuda itu sudah menduga, bahwa gerombolan orang-orang itu bukan musuh dari Nathan maupun Arfen, tapi musuh dari keluarga Cakrawala.


Fakta itu memberi tamparan keras untuk Bryan, bahwa jelas jika Shiren ada disisinya, Shiren akan selalu terluka dan dalam bahaya.


Satu malaman kemarin dia memutuskan untuk meneruskan organisasi yang diwasiatkan sang ibu, tapi Bryan masih mencari cara untuk mempertahankan Shiren juga. Keserakahan itu membawa petaka, itulah yang Bryan pelajari, dia yang ingin mempertahankan keduanya, tapi sayang Shiren terluka karna itu.


Rasa sakit yang teramat sangat dia rasakan, bibirnya bergetar hebat ketika dia mengatakan permintaan putus pada Shiren tadi.


Seumur hidupnya, Bryan tidak pernah membayangkan akan meminta putus dari gadis yang begitu dia cintai dengan hebatnya.


Tidak pernah Bryan bayangkan, dia akan meminta putus dari gadisnya, tapi mau bagaimana lagi, Bryan tau kalau keserakahan adalah kesalahan, dia harus memilih satu, dia tidak bisa memilih keduanya.


Dan pilihan Bryan kala itu adalah, putus dengan Shiren demi menjaga gadis kesayangannya, dan menerima wasiat sang ibu untuk meneruskan organisasinya nanti ketika dia sudah lebih dewasa.


Tapi, Shiren yang ada di sisi Bryan hanya akan mengalami masalah.


Melepasnya bukan hal yang mudah, tapi gue lakuin itu, semoga lu bahagia dah, sampai kapan pun, lu masih jadi gadis favorit gue.

__ADS_1


Sampai sekarang pun, gue harap rumah tempat gue pulang itu masih lu, tapi kayaknya ga bisa lagi ya?


Soalnya lebih sakit liat Lo yang luka-luka di rumah sakit, toh gue masih bisa liatin lu kan, walau lu ga izinin gue ngobrol sama lu?


Bryan menghela napasnya, dia menepis air mata yang tadi menetes, dia segera pulang.


"Pilihan gue udah bener, gue gak salah, ini yang terbaik buat kita berdua, dengan begitu Shiren gak bakal luka, dan mungkin dia bisa nemuin orang baru yang lebih ba--"


"****!"


Ketika menggumamkan itu, Bryan langsung mengingat Galaksi dan wajah tengilnya. Benar, sejauh ini jika rival soal cinta Galaksi yang bisa diandalkan, tapi untuk meminta galaksi menjaga Shiren? Ah Bryan tidak bisa mengatakannya dengan mulutnya sendiri, karena jauh di dalam lubuk hatinya dia masih ingin Shiren, dia masih ingin menjadi pahlawan yang menjaga gadisnya, walau kenyataannya dia adalah penyebab utama luka hati dan fisik gadis itu.


Shiren, Love you.


Ah, ternyata hari ini datang juga, hari dia putus resmi dengan Shiren, tapi kali ini bukan Shiren yang memintanya, melainkan Bryan sendiri.


"Gimana keadaan Lo?" Kini Lilia bertanya pada Shiren, sembari meletakkan buah tangan yang ia bawa di meja.


Sore ini, setelah pulang sekolah, Lilia dan Alma bergegas menjenguk Shiren. Awalnya Galaksi ingin ikut, tapi Alma menolaknya mentah-mentah, karna dia kan pendukung Bryan Shiren garis keras. Syukurlah Alma bisa menolaknya dengan dalih ingin melakukan pertemuan antar sahabat, jadi tidak ada orang yang boleh datang lagi, kalau mau menjenguk Shiren esok hari saja, karena hari ini adalah harinya mereka bertiga.


"Lumayan lah." Jawab Shiren seadanya, matanya agak hitam, wajahnya lesu, mau bagaimana lagi, hampir satu malaman kemarin Shiren terus menangis, bahkan jika tidak ada Lilia dan Alma, kini ia juga ingin menangis. Rasa sakit ditinggal Bryan itu benar-benar teramat sangat.


"Lu kecelakaan atau begimana?"


"Kecelakaan, ya namanya juga kecelakaan kan, musibah." Sesuai perintah sang ayah, sampai semua dalang ini jelas, Shiren harus menjawab pertanyaan seputar kejadian dengan kecelakaan biasa, termasuk pada Lilia juga Alma.


"Ya Alhamdulillah deh lu gak parah-parah banget, masih selamat, panjang umur ye cepetan sehat dah." Lilia mengelus kepala Shiren, dia sama sekali tidak curiga kenapa mata Shiren kelihatan sembab dan wajahnya lesu, dia kira itu semua efek sakit saja.


"Bry mana Shi? Gak jengukin Lo? Dia sakit apa sih? Tumben ngirim surat segala, biasanya juga kalo dibuat alpha terima-terima aja?" Celetuk Alma santai sambil memakan apel yang sudah di kupas khusus untuk Shiren harusnya, tapi karna Alma tidak tau diri dan lapar, jadi dimakan saja.

__ADS_1


Shiren terdiam.


Dia bahkan belum menceritakan pada keluarganya bahwa dia dan Bryan sudah putus. Kenapa? Ah, Shiren sadar, jauh di dalam lubuk hatinya dia masih berharap Bryan kembali dan mau mengulang kisah mereka dengan dia yang berubah, makanya dia tidak memberitahu keluarganya.


Ah, tapi itu hanya angan belaka kan? Bahkan sampai saat ini, Bryan tidak menanyakan kabar Shiren lagi bahkan dari telepon. Biasanya pemuda itu akan khawatir setengah mati jika Shiren terluka sedikit saja, tapi bahkan saat Shiren terluka separah ini, sepucuk pesan tak kunjung datang.


Mungkinkah perasaannya hilang semudah itu?


"Udah putus."


*Uhuk!!


Alma langsung tersedak seketika.


"Shi? What? Lo--"


Awalnya Lilia kaget, namun sepersekian detik kemudian dia menarik senyuman tipis, untuknya yang mendukung Galaksi Shiren ini berita bagus kan?


"Shi? Lu putus? Sama Bryan? Emang dia mau putus? Biasanya dia nolak kan?" Tanya Alma yang semakin mendekat. Dia penasaran dan juga sangat kaget, jujur di sudut hatinya seperti ada yang pecah, dan serpihan pecahan itu menusuk bagian hati lainnya.


"Dia yang mutusin gue, dia datang kemarin dan ngajak gue putus. Gue, aslinya ga mau, gue aslinya masih cinta bangett sama dia. Gu---"


Alma langsung sigap memeluk Shiren yang tampak lesu, menangis sesegukan, dia memeluk sang sahabat yang tampak begitu rapuh.


"Pelan-pelan aja oke? Lu boleh cerita kapan aja kalo lu dah siap."


Shiren menangis sejadinya di pelukan Alma, dia merasa Alma mungkin bisa merasakan kepedihan hatinya saat ini.


"Gue masih sayang bangett sama dia."

__ADS_1


__ADS_2