
......................
"Tadi, Papa ada bilang apa aja?"
Bryan mencoba tenang, mengatur kata dan nafas agar Shiren tidak curiga, meskipun kenyataannya Bryan masih emosi. Dia melirik sekilas luka di lutut dan sikut Shiren, tidak mungkin kan bahwa itu tidak disengaja? Bryan yakin, bahwa papanya yang seperti antagonis itu pasti melakukannya dengan sengaja.
"Ngobrol-ngobrol doang, ngobrolin Lo, rumah, hubungan kita, gitulah kira-kira." jawab Shiren seadanya.
"Menurut lo papa gimana orangnya?"
"Baik bangetttt!! seru diajak cerita, pokoknya ngobrol sama Om Leon gak bakal habis topik, udah gitu obrolannya lebih nyambung dibanding papa gue."
"Padahal menurut gue, asikan calon mertua gue."
"Yeee, Om Leon itu asik tau, kenapa dari dulu Lo ga kenalin gue ke beliau?"
"Beliau sibuk, baru-baru ini aja balik ke indo."
"Ohh cem tuh, oke oke paham, sebagai gantinya sering-sering ajak gue main ke rumah, gue mau lebih kenal bokap Lo biar kami jadi lebih akrab."
"Ya, kalau beliau ga sibuk."
Gak bakal, gak lagi, gak akan!
Tambah Bryan dalam hati, mana mungkin dia akan dengan sengaja membawa Shiren ke kandang srigala itu. Tidak akan! Kecelakaan seperti ini tidak akan terjadi lagi.
__ADS_1
Bryan lah yang paling tau, bahwa Shiren yang akan terluka jika terus bertemu dengan ayahnya, bahkan hari ini, Bryan yakin pertemuan itu disengaja, dan luka Shiren juga disengaja.
Meskipun begitu, Bryan tak kuasa mengatakan pada Shiren bahwa ayahnya orang yang jahat, bahwa ayahnya adalah dalang utama penghalang hubungan mereka, Bryan tidak bisa mengakui bahwa sang ayah adalah penyebab utama Bryan berubah drastis.
Apalagi melihat wajah Shiren yang berseri bahagia, mata yang berbinar kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan ketika dia percaya diri bahwa dia bisa akrab dengan ayah Bryan. Bagaimana mungkin Bryan bisa mengatakan pada Shiren bahwa sang ayah yang tadi Shiren temui adalah sifat palsunya, karna aslinya dia sangat membenci gadis itu.
Bryan tidak bisa, dia tidak sanggup mengatakannya dengan bibirnya sendiri.
......................
BRAK!!!
Bryan mendobrak kasar pintu ruang kerja sang ayah. Tampak Leon sedang sibuk di depan laptopnya memakai kacamata, jari-jemarinya terus bergerak menekan huruf demi huruf di laptopnya.
"Apa maksud Papa?! Kenapa papa celakain shiren gitu? gimana kalau itu luka besar. Jangan pernah ganggu Shiren Pa! Bryan udah turutin kemauan Papa! Bryan udah balapan, ribut, nyari masalah seperti yang papa inginkan! Bryan udah jadi berandal jalanan yang gak punya moral kayak mau papa! Papa aneh tau gak?!!! Bryan udah lakuin semuanya, dulu papa sendiri yang bilang kalo papa gak akan ganggu hubungan Shiren dan Bryan kalau Bryan turutin maunya papa!"
"BRYAN UDAH TURUTIN SEGALA KEMAUAN PAPA!"
"Papa yang janji bakal kasih restu buat kami, kalo Bryan jadi sesuai keinginan Papa. Semuanya udah Bryan lakuin! Kenapa Pa? Kenapa Papa juga harus ganggu Shiren?! Bahkan sampai nyelakain dia secara fisik?!"
"Apa sih Pa?! Semenjak Mama gak ada, Papa aneh! Mental Papa udah gak sehat semenjak ditinggal Mama!"
Bryan sangat marah, dia tidak lagi bisa menahannya, dia tau ini tidak sopan, dia tau bahwa ini tidak benar, membentak sang ayah sampai mengatakan ayahnya terkena penyakit mental bukanlah hal baik.
Bryan juga tidak mau mengatakan ini, bagaimanapun Leon itu adalah ayahnya, ayah yang dulu sangat dia kagumi, ayah terbaik yang dia punya, ayah yang hebat, dan panutan nya untuk menjalani kehidupan, hanya saja semenjak ditinggal sang istri, sang ayah tampak tidak sehat seakan-akan terobsesi pada sesuatu.
__ADS_1
"Memang benar, mungkin iya, Papa memang sudah gila." Jawab Leon enteng tanpa beban.
"Pa...?" Bryan mengernyit pedih, dia benar-benar sakit, dunianya benar-benar hancur ketika ibunya pergi, sang ayah mulai tak terkendali. Dia kembali menemukan kedamaian ketika Shiren datang, Shiren pun menjadi rumah untuk Bryan pulang.
Dan setelah semua itu, kini sang ayah meminta Bryan melepaskan Shiren? Mana mungkin kan?
"Dhiyel, organisasi yang papa jalankan, ah bukan yang mama mu jalankan, itu adalah organisasi yang Jia dirikan, dan itu akan dia wariskan pada mu. Aku tidak membenci Shiren, aku hanya tidak setuju dia menjadi pendamping mu. Dhiyel bergerak diatas kekejaman, Shiren yang kau cintai itu tidak cocok menjadi istri mu yang akan menjadi pemimpin Dhiyel. Dhiyel sepenuhnya akan diwariskan pada mu." Jelas Leon, penjelasan yang selama ini Bryan nantikan. Leon menjelaskan secara detail akhirnya.
Bryan diam mematung, dia tidak tau harus berkata apa, tenggorokannya terasa tercekat, dan dia hanya terus mendengarkan sang ayah bercerita panjang, tentang masa lalu, alasan, peninggalan, warisan dan permintaan almarhumah ibunya.
"Dan usaha ku saat ini, hanya untuk mewujudkan keinginan terakhir mendiang istri ku, untuk memberikan Dhiyel pada mu dan merawatnya sebaik mungkin, dan Shiren bukan pendamping yang tepat." Leon menggenggam foto sang istri yang ada di dalam bingkai, dia sentuh dengan lembut. Tatapan matanya pada foto itu penuh cinta.
"Tapi tenang aja, Dhiyel masih akan diwariskan pada mu sepuluh tahun lagi, sampai saat itu, Aku sendiri yang akan memimpin dan menjaga Dhiyel peninggalan istri ku." Tambah Leon lagi, dia menatap tajam putranya yang diam.
Bryan merasa lesu, badannya kaku, bibirnya kelu.
"Shiren memang gadis yang baik, dia cantik, dia ceria dan penyayang, dia lembut dan baik hati, dia dari keluarga terpandang dan cemerlang, dia dari keluarga jajaran atas yang bersih, dia juga memiliki hati yang lembut. Aku sudah mengawasinya selama ini dan mencari tau tentangnya."
"Dia melarang mu untuk balapan kan?" Leon menaikkan sebelah alisnya, dia menatap sang putra yang tampak kaget.
Bryan diam, dia tidak menjawab apapun karna itu benar, percuma juga bohong, ayahnya pasti akan tau.
"Karna itulah, dia tidak cocok menjadi pendamping mu. Dibanding perasaan mu semakin dalam padanya, maka akhiri saja disini. Pohon akan sulit dicabut jika dia sudah dewasa, tapi beda cerita kalau masih tunasnya saja." Lanjut Leon mengatakannya tanpa rasa bersalah.
Bryan terdiam, dia tidak tau kalau ternyata kehidupannya serumit ini, ini terdengar tidak masuk akal, sejak kapan sang ibu dan ayah adalah pemilik sebuah organisasi aneh? Bryan tidak tau menau soal itu, sejak awal hidupnya memang sudah tidak biasa, kah?
__ADS_1