Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Kenapa Lilia?


__ADS_3

"Lo pergi dari sini sekarang!"


Shiren tidak lagi peduli pada apapun, dia menjauh dari Galaksi seketika.


"Hei, tunggu dong!" Galaksi masih ingin mengehentikan langkahnya, namun dihempas oleh Shiren.


"Gue udah telat! Gak usah ganggu-ganggu lagi!"


Shiren berjalan cepat, matanya gatal untuk menangkap Lilia seketika. Ada banyak pertanyaan beruntun dikepalanya yang siap dia lontarkan pada sahabat sekaligus sekretaris kelas itu.


Kepala Shiren terus berputar, dia kembali mengingat masa lalu saat awal kepindahannya, sahabatnya Lilia memang pernah menaruh rasa pada Bryan. Bahkan dulu, Lilia menjadi salah satu penghalang besar untuk Shiren dan Bryan bersatu.


Lilia adalah amatagonis di masa itu, tapi itu dulu, dulu sekali, jauh berbulan-bulan lamanya. Dan Lilia sudah berubah, dia sekarang sudah menjadi baik. Bahkan menjadi sahabatnya Shiren.


Lilia bilang bahwa dia lebih menyayangi Shiren dibanding Bryan.


"Lo bilang, lo sahabat gue. Dan lo bilang, lo sayang sama gue. Gue percaya itu Li, dan tolong jangan khianatin kepercayaan gue."


Tidak ada yang lainnya selain Lilia yang dia pikirkan. Namun, semua pemikiran soal Lilia terhempas saat dia melihat kekasihnya sudah berdiri di depan gerbang menantinya.


Dan yang paling menyebalkan dari apa yang terjadi pagi ini ialah Bryan dengan memar biru di sudut bibirnya.


"Bryan? Apa ini? Kenapa lagi sih lo? Jangan bilang lo melanggar kesepakatan kita, lo gak berantem kan?"


Shiren mendekat, dia menyentuh lebam itu perlahan. Bryan menarik tangan Shiren, mencium telapak tangannya dengan lembut.


Shiren memerah, dia melihat kanan kiri syukurlah sepi. Tentu saja sepi karena bel sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.


"Loh? Yang jaga gerbang siapa? Tadi ada Pak Eky ribut sama Nanta? Kemana beliau?"


Itu benar, padahal kayaknya tadi dia lihat ada Pak Eky disana menjewer telinga Nanta. Tapi sekarang sudah sepi? Sebenarnya selama apa waktunya Galaksi sita?


"Udah masuk, ada rapat guru. Mending kita masuk sekarang sebelum di tangkap bu Lolita. Ayo, sayang." Bryan merangkuk gadisnya dengan hangat.


"Lo kok nungguin gue?"

__ADS_1


Apa yang Shiren tanyakan? Tentu saja Bryan akan melakukan banyak hal untuk gadisnya, apalagi cuma menunggu sampai terlambat, itu sih kecil.


"Ya pengen jalan bareng lah."


"Jadi tadi lo tau gue ngobrol disana?"


"Tau, sama Galaksi kan? Kayaknya pembicaraannya penting, jadi gue gak kesana dan mutusin buat nunggu lo di sini. Keputusan gue salah? Lo mau di jemput tadi?"


"Gak penasaran kami ngomongin apa?"


"Mending gak tau apa-apa, daripada kita ribut lagi. Gue gak bisa ribut mulu sama lo."


Shiren diam, jantungnya berdebar, sudah dua tahun lebih berpacaran tidak pernah membuat debaran itu hilang, atau bahkan melemah. Perjalanan menyenangkan ke kelas datang bersama.


"Eh tunggu! Kita lupain satu hal!" Shiren menghentikan langkahnya, menatap langsung retina kekasihnya. "Itu tadi belum di jawab, ini kenapa? Kenapa lebam? Lo berantem? Gak nepatin janji?"


"Ya ini karna nepatin janji lah, siapa coba yang nyuruh gue jangan berantem? Ya makanya pas di pukul gue cuma ngehindar dan gak mukul balik. Hasilnya gini." Bryan menunjuk sudut bibirnya yang lebam.


Deg


Shiren merasa bersalah, dia mulai menanyakan keputusannya benar atau salah, meminta Bryan menahan diri seperti itu.


"Gak apa-apa, asal di obatin sama ayang semuanya baik-baik aja."


Bryan mengusap pipi gadisnya pelan. Siapapun perempuan yang melihat Shiren, dijamin iri.


"Nanti ke UKS ya?"


"Sip! Calon istri emang beda."


-


-


-

__ADS_1


Shiren dan Bryan sudah sampai di kelas, dia langsung mengedarkan pandangannya, menangkap dan mencari keberadaan sahabatnya yang sempat dia lupakan sesaat.


Shiren maju selangkah demi selangkah, dan dia belum menemukan keberadaan Lilia sahabatnya. Padahal sudah banyak sekali yang ia dia tanyakan, dia ingin menyangkal dan menepis opsi buruk soal Lilia di kepalanya. Shiren tidak ingin memikirkan itu, dia ingin percaya dan terus percaya pada Lilia.


Namun, ketidakhadiran Lilia kembali menggoyahkan dirinya.


"Al? Lilia mana?" Tanya Shiren meletakkan tas nya, dia berjalan ke depan duduk di sebelah Alma yang juga udah duduk di lantai memegang ponsel kecil miliknya.


"Gak tau, belum datang dari tadi. Pas gue chatt gak di balas. Tunggu aja." Sahut Alma tanpa melirik ke arah Shiren, dia masih sibuk dengan benda kesayangannya, yang mampu menguras waktu nya dengan deras.


Shiren mengehela napasnya, dia tidak tenang, sampai kapan dia harus menahan gejolak di hatinya. Hatinya resah, dia tidak tenang. Dia mungkin akanĀ  tenang jika melihat dan bertanya sendiri pada Lilia. Dan mungkin dia akan percaya alasan apapun yang Lilia lontarkan. Karna memang seerat itu kasih sayang yanh Shiren punya untuk Lilia.


Shiren melirik ke arah Alma. "Dia belum balas chatt lo?"


"Ck." Alma melirik datar ke arah sahabatnya. "Lo tau gak? Gue kesel, dan gue laper sekarang. Mending kita go to kantin." Alma sudah ingin bangkit berdiri, dia bersiap menarik tangan sahabatnya.


Namun sudah ada tangan Bryan yang melepaskan genggaman Alma pada Shiren. "Ke kantin aja sendiri, ngapain ngajak cewek orang." Bryan menahan Shiren, dan dengan santainya tidur di pangkuan sang gadis. Sembari memainkan ponselnya.


Murid mana lagi yang seenak mereka, tidur di sembarang tempat. Agak ragu kalau melihat mereka sekarang ternyata adalah anak dari jajaran orang kaya, ngelesotan di lantai begitu.


"Gue laper ailah, ayolah kantin. Bryan ayo, lo juga ikut deh. Baik kan gue, gue ajakin?" Alma masih merengek menarik Shiren.


"Masih pagi, lo udah ke kantin aja? Ntar lah siangan." Shiren menolak, tentu saja, ini masih pagi, mereka baru datang dan sudah mau menhilang ke kantin saja.


"Ish, gue gak makan malam tau, gue gak sarapan juga, gue sekarang laper banget. Hoam ..." Alma menguap menyebalkan tepat di kata terakhirnya.


"Ya lo kenapa gak makan? Itu sih salah lo."


"Gak makan, gak di ingetin sama ayang. Telat tidur, begadang terus, gak di suruh sama ayang. Enaknya punya ayang, orang pamer foto ayang gue gak bisa tenang." Alma kembali duduk di sebelah Shiren menghela napasnya berat.


"Lupa minum obat ya?" Shiren menaikkan sebelah alisnya menatap sahabatnya yang kayaknya penyakitnya lagi kambuh.


"Ya Allah, pengen ayang juga, dekatkan lah jodoh Alma ya Allah." Alma menengadahkan tangannya, seraya berdoa seperti doanya sangat penting.


"Diem deh lo, ayang ayang mulu, gue ikat tuh juga tuh mulut." Celetuk Nanta yang saat ini juga sudah duduk di sebelah Alma.

__ADS_1


"Apaan sib lo?! Ngapain di sini! Jauh sana! Dempet-dempetan lagi."


"Kan lo yang bilang, supaya di dekatkan sama jodoh lo." Sahut Nanta enteng.


__ADS_2