
"Lo sendiri kenal Galaksi dari mana? Akrab sama dia karna sering tanding futsal bareng?" Shiren cukup penasaran, pasalnya hubungam yang kekasihnya milikki dengan Galaksi, bukan hubungan biasa. Ada yang aneh dan menarik untuk di ulik.
"Sering tanding futsal sih, sering main basket juga. Tapi lebih sering ketemu anak itu pas tawuran, balapan liar, dan ribut di jalanan."
"Apa? Apa maksudnya? Maksudnya Galaksi juga berandal gila yang suka buat keributan?!"
Shiren nyaris tidak percaya dengan ucapan Bryan, bagaimana bisa cowok se-humble Galaksi hobinya mukulin anak orang? Ini benar-benar.
"Dia gak ngaku? Lo dibohongin sih."
"Bukan gak ngaku, cuma dia gak bilang aja, da--"
"Emangnya hubungan kalian sedekat apa sampai dia harus cerita keseharian dia? Hmm? Shi?"
Bryan sudah panas, tentu saja itu semua karna Galaksi.
"Gak sedekat itu Bry, cuma gak nyangka aja."
"Oke, stop bahas dia. Gue sakit kepala."
"Lo marah?" Shiren menatap serius kekasihnya yang sudah mengetatkan wajahnya, dia merapatkan gusinya pertanda dia tengah jengkel dengan situasi saat ini.
"Lo marah gak kalau gue curhat atau akrab sama cewek lain?"
"Gak tuh, buktinya lo akrab sama Alma, sering ganggu dia dan ribut sama dia gue biasa aja."
Shiren tidak salah kan, nyaris setiap hari yang dua ini kerjaannya adu bacot melulu. Entah dari hal yang penting, dan sangat tidak penting juga dibahas, apalagi kalau Nanta udah turun mulut, langkah semut pun bisa menjadi perdebatan.
"Ck! Itu beda cerita Shi! Alma gak pernah gue anggep perempuan! Jangankan anak gadis, gue ragu gue natap Alma sebagai manusia. Alma itu sejenis radio, serius! Kalau lo emang cemburu sama Alma! Gue gak bakal ngomong sama tuh bocah lagi."
"Jangan gitu lah!" Tentu saja Shiren menolak. Sebenarnya pertengkaran Bryan dan Alma terkadang sedikit menghiburnya, walau saat mereka bekerja sama membuat Shiren kesal. Tapi, Shiren suka saat kekasihnya akrab dengan sahabatnya.
Akrab bukan berarti merebut kan? Memang jarang sekali sahabat seperti Alma?
"Gue bisa jauhin Alma dan gak ngomong sama dia kalo lo cemburu. Dan Shi, gue saat ini cemburu sama Galaksi. Jadi? Bisa gak lo jauhin dia dan jangan ngomong sama dia?"
Bryan tampaknya sangat serius dalam mengucapkan itu. Suasana di mobil hening untuk beberapa saat, tekanannya berbeda, Bryan terasa dingin sekarang, sangat jauh berbeda dengan Bryan hangat yang selalu lembut padanya.
"Lo ngekang gue nih ceritanya?"
Bryan tersentak halus. Bukan! Bukan begitu maksud Bryan, dia hanya cemburu dan berharap Shiren mengerti itu. Meski dia memang ingin mengurung Shiren dan memonopoli gadis itu untuk dirinya saja. Tapi, Bryan mengurungkan niatnya itu bahkan setelah mereka menikah nanti, karna itu hanya akan menyakiti Shiren.
"Lo boleh lakuin apa aja, kecuali ninggalin gue." Dengan satu tangannya, Bryan mengelus kepala Shiren. Dia sudah kembali hangat, membuat sang gadis juga kembali nyaman.
Setelah agak lama mobil melaju, akhirnya mobil mewah itu sampai melewati gerbang rumah utama keluarga Arkasa. Mobilnya terparkir rapi di bagasi bersebelahan dengan mobil Arfen, yang artinya Arfen di dalam.
Bryan turun dari mobilnya, dia ingin membuka pintu mobil Shiren, pertanda bahwa dia pria bermanner, tapi sayang Shiren sudah keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Loh? Tumben ikut turun? Gak mau langsung pulang? Biasanya nyucus aja abis nganter."
"Gimana lagi, demi cewek gue, gue berhenti tawuran, dan sekarang gue jadi pengangguran." Bryan merangkul bahu Shiren, menuntunnya masuk ke rumah sang gadis. Siapa pemilik rumah dan siapa yang menyambut.
"Lo jadiin tawuran kerjaan? Maksudnya gimana sih? Lo tawuran demi duit? Lo kurang duit Bry?"
Shiren menatap Bryan sangat serius, pertanda bahwa pria yang ditatap harus menjawab sama seriusnya dengan dirinya.
"Kerjaan sih, bukan berarti kurang duit. Pokoknya ada deh, lo tenang aja, intinya masa depan kita cerah." Bryan mencoba mengalihkan perhatian Shiren dengan mencium ekor matanya. Namun Shiren masih sangat penasaran denga kelanjutan cerita kekasihnya.
"Apan sih! Jelasin yang bener!"
"Pokoknya enam tahun kedepan kita nikah. Dan bakal hidup bahagia, tanpa ada satu penghalang pun." Bryan juga masih kekeuh ingin menyimpannya sendiri, dan tidak berniat membagi. Sekarang cukup mengeluarkan dalih agar Shiren berhenti bertanya lagi.
"Bry!" Suara Shiren meninggi, pertanda ingin di dengar dan di jawab.
"Iya istri ku?" Bryan bahkan sudah menguasai pipi kanan Shiren. Dia mendusel wajah gadis itu. Tapi, panggilannya barusan? Bukankah menggelikan?
"Ehem!"
Celaka bagi Bryan, bisa-bisanya dia begitu dan sangat tidak sadar bahwa di depan pintu sudah ada Nathan-Ayah Shiren yang melihat mereka. Deheman keras di keluarkan sebagai pertanda bagi Bryan untuk melepaskan putrinya.
"Loh? Papa Nathan kapan pulang?" Bukan Shiren, melainkan Bryan yang memanggul pria tua berkharisma itu dengan panggilan papa.
"Pa?!" Shiren mencoba meronta melepas rangkulan Bryan. Namun Bryan masih tidak melepaskannya dan sepertinya tidak berniat melepaskannya.
"Dari mana saja kalian?! Kenapa pulangnya sore sekali?! Ini sudah sangat terlambat."
...***...
Matahari sudah hilang, besok akan datang, dan sekarang kegelapan malam melintang, dengan sinar bulan yang elegan. Dan di bawah langit itu ada satu manusia yang sedang berbaring dikamarnya.
Manusia yang mengaku bagian dari jajaran orang tampan ini, tengah galau meracau menatap handphonenya.
Hatinya gundah, kakinya gatal, tangannya ingin sekali menyambar kunci mobil yang tergantung dan dia ingin turun ke jalanan, bergegas balapan, mengalahkan musuh-musuh yang datang.
Tapi semua keinginan itu terkekang, karna janji yang dia buat untuk dirinya sendiri, agar tobat nakal dan berhenti buat maksiat yang merugikan negara, agama, bangsa dan dunia.
Galaksi menatap banyak spam pesan dari Adit yang memintanya datang dan membantai jalanan. Galaksi sekuat mungkin menahan gejolak darah muda miliknya, demi Shiren, gadis yang dia cintai. Dia menolak ajakan Adit.
Aditing:
Ayolah sini, ga ada lo ga asik.
Anak - anak udah ngumpul.
(Pict Adit dan lain-lain)
__ADS_1
...Anda telah memblokir kontak ini, silahkan ketuk untuk membukanya. ...
Galaksi sudah kesal terus di ajak dan dipaksa begitu, godaannya bukan main.
"Mending blok ae lah, besok baru di buka." Gumam pria yang kini hanya memakai boxer merah dan kaos hitam.
Galaksi memainkan handphonenya lagi. Dia menatap nomor Shiren. Sebenarnya Galaksi sudah mendapatkannya sejak awal dari Leon yang memintanya dari Arfen. Tapi, Galaksi selalu mengurungkan niatnya mengirim pesan pada gadis itu, takut dia tidak nyaman.
Tapi sekarang Galaksi butuh Shiren sebgai penebus kebosanan yang dia rasakan demi Shiren juga.
Nama yang diberikan absurd banget, bisa-bisanya dia memberi label pada Shiren sebagai gebetan saat statusnya masih pacar orang.
Shi/Gebetan:
^^^Save gue, Galaksi, sekarang sih bukan calon lo. Kali aja berjodoh.^^^
Maaf, format anda salah, silahkan ganti dan coba lagi.
^^^Njer, mbak-mbak! Btw Gue Galaksi. Mau telepon gak? Video call aja dah, gue kangen. ^^^
Tekan 1 jika anda ingin melanjutkan pesan ini.
^^^Gue Galaksi, gak usah main-main bisa? Save dong!^^^
Terima kasih dan mohon tunggu, permintaan anda sedang di proses.
^^^Permintaan gue di proses sebagai calon suami masa depan yang kaya dan mapan, masa depan lo terjamin dan aman. Alhamdulillah.^^^
Masalah sambungan atau kode MMI tidak valid.
^^^Dih, oy...! ^^^
Masalah sambungan atau kode MMI tidak valid.
^^^Shi sayang? Bisa berhenti bercanda kan? ^^^
...Hening....
...Tidak ada jawaban dari Shiren lebih dari sepuluh menit. Membuat tangan Galaksi gatal dan ingin mengirim pesan lagi pada sang gadis pujaan hati. ...
^^^Shi? ^^^
^^^Hey? Shiren! ^^^
^^^Oy! ^^^
"Dih, centang satu, pp Shiren ilang? Gue di blok nih? Seriusan di blok?"
__ADS_1
Galaksi bangkit duduk sangking terkejut dan tidak percaya. Padahal barusan dia senyum-senyum simpul bercahaya.
...***...