Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Murid Pertukaran Pelajar


__ADS_3

"Ya Allah, pengen ayang juga, dekatkan lah jodoh Alma ya Allah." Alma menengadahkan tangannya, seraya berdoa seperti doanya sangat penting.


"Diem deh lo, ayang ayang mulu, gue ikat tuh juga tuh mulut." Celetuk Nanta yang saat ini juga sudah duduk di sebelah Alma.


"Apaan sih lo?! Ngapain di sini! Jauh sana! Dempet-dempetan lagi."


"Kan lo yang bilang, supaya di dekatkan sama jodoh lo." Sahut Nanta enteng.


"Bry! Temen lo sakit jiwa!" Alma segera berdiri, menjauh dari Nanta yang menurutnya gelagatnya menggelikan dan sangat aneh.


"Memang, lo baru tau?" Sahut Bryan enteng, menyetujui pernyataan Alma. "Sayang, minjem hp." Bryan mengulurkan tangannya pada Shiren.


"Buat apa?" Meski Shiren bertanya dan agak ragu, dia tetap memberikan hpnya. Bryan segera menerimanya dan mengotak-atik isinya.


"Al, ayo kantin. Eneg gue di sini." Nanta ingin bangkit berdiri menghampiri Alma yang sudah menjauh.


"Please Bry, temen lo agak gak normal sekarang." Alma begidik ngeri. Dia memegangi lengannya sendiri.


"Bukan agak sih, emang udah gak normal." Meledek Nanta adalah hal yang cukup Bryan senangi.


"Ayo kantin ailah, lo makan gue bayar!" Nanta akhirnya mengeluarkan kalimat legend, yang siapapun mendengarnya pasti suka.


"Nanta mendadak waras Bry, hebat! Btw ayo kantin, lo yang bayar kan?"


Bukan Nanta, tapi kini Alma yang menarik cowok rese itu. Pasalnya makanan gratis memamg kesukaannya. Kalau makan gratis itu, entah kenapa lebih nikmat.


Nanta menerima uluran Alma, hingga keduanya berdiri sejajar. "Lo gak mau perintambangin jadi menantu nyokap gue? Gue bayarin makan seumur hidup, dan keperluan lo semaunya. Makanan gratis setiap hari gimana?"


Alma tampak berpikir sebentar. "Bener juga ya, gue kalau nikah sama lo pasti makan, skincare, dan segalanya di bayarin. Everything is free. Nikah yu, abis lulus sekolah."


"Oke gas! Lulus SMA kita nikah! kuliah, makan, skincare, kuota gua bayarin."


"Oke sip, sekarang kita ke kantin dulu." Nanta merangkul Alma berjalan ke luar kelas.

__ADS_1


Shiren menatap keduanya tak percaya, mereka tidak menjalin hubungan apapun, tidak terikat komitmen dan janji seperti apapun, apalagi saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


Tapi, keduanya yang begitu, yang tampak asing,  dengan enteng nya membicarakan pernikahan setelah lulus sekolah?


"Agak sakit kayak nya temen-temen lo." Shiren menggelengkan kepalanya, kedua keluarga belum saling mengenal, dan dua anak kecil itu sudah dengan ringannya mencoba membuat ikatan suci pernikahan.


"Kenapa? Lo mau nikah juga? Nanti ya sayang, kalau habis lulus gue gak bisa. Tunggu agak dewasaan lagi. Bukan gue gak cinta, pokoknya tunggu ya sayang." Celetuk Bryan yang masih sibuk mengotak atik ponsel Shiren.


Gue sih emang gak mau nikah muda apalagi lulus sekolah. Kalau bisa sih jangan dulu, tapi kenapa Bryan ngomongnya gini? Bukannya dia cinta ke gue? Kalau iya, harusnya dia mau kan? Toh ekonomi keluarga dia dan keluarga gue mendukung, kenapa dia gak mau? Dan apa maksudnya di tunda sampai lebih dewasa?


Batin Shiren yang mulai bertanya-tanya, dan semakin curiga atas segala tingkah laku Bryan. Dia memang tidak mengharapkan nikah muda, tapi kalau Bryan menundanya? Masalah apa yang sedang di tanggungnya?


"Kenapa Bry? Kenapa gak mau nikah muda?" Shiren kali ini mencoba merayu, dengan meletakkan tangannya di kening Bryan yang sedari tadi berbaring di pangkuannya.


Deg


Bryan tersentak halus, sejak dia berubah dia sadar bahwa Shiren semakin lama semakin dingin, dan jarang perhatian, dan Bryan masih mencoba bertahan dengan itu semua. Tapi kali ini, saat ini, Shiren lebih hangat pada dirinya?


"Lo mau nikah muda?" Bryan menggenggam tangan Shiren, dia mengalihkan pandangannya dari ponsel dan fokus menatap mata sang kekasih.


"Gitu ya, jadi ternyata lo mau nikah muda. Oke,  bakal gue usahain. Tapi gue gak janji ya."


Bryan tidak kuasa menatap wajah kekasihnya yang kini terlihat jauh sangat cantik dari biasanya, dengan kalimat nikah yang selalu di ucapkan. Bryan menolehkan wajahnya membelakangi Shiren.


Deg


Jantung Shiren semakin berdebar saat dia sadar telinga Bryan sudah memerah saat ini. Awalnya Shiren agak malu, tapi melihat Bryan yang lebih malu-malu, membuat Shiren semakin antusias ingin terus membahas pernikahan ini.


Shiren ternyata mau nikah muda sama gue, mau nikah secepat-cepatnya. Gue gak nyangka, sayang banget gue gak bisa nepatinnya. Gue harus berusaha lebih keras, yakinin Bokap kalau Shiren adalah yang terbaik buat gue. Biar gue gak perlu lagi main-main di jalanan kayak gini.


"Gak bisa di pastiin ya?" Shiren semakin lama semakin berani, dia ingin terus membahasnya.


"Gak bisa pasti, cuma gue janji bakal usahain." Bryan menarik napasnya, dia tidak bisa membahas ini lagi karna merasa bersalah tidak bisa menepati segala keinginann sang kekasih.

__ADS_1


"Oh ya sayang? Ini nomor siapa yang baru kemarin di blok?" Bryan mencoba mengalihkan topik dengan membahas hal lain. Sebenarnya dia agak cemburu dengan isi percakapan itu. Dimana sang kekasih menyamar menjadi coatumer service, Ya wajar, Bryan cemburu soalnya dia jarang sekali bertukar pesan pada Shiren.


"Galaksi."


Untung pesan terakhir udah aku hapus, kalau gak mereka bakal ribut lagi.


Bryan langsung terduduk. "Lo blok Galaksi? Demi gue? Lo yang terbaik!" Bryan langsung mengecup pucuk kepala sang kekasih.


Dia sangat senang, dia pikir Galaksi dan Shiren memiliki hubungan pertemanan yang erat. Tampaknya tidak begitu juga.


"Ya iya gitu deh."


"Ngomong-ngomong, buat apa jadi costumer service orang. Service-in gue aja, seumur hidup."


Bryan dengan kebagian yang terpancar dari seri wajahnya, juga senyuman yang tak mudah pudar mengunyel pipi Shiren.


"Ehem! Dilarang pacaran di sekolah tau!"


Deheman yang berasal dari pintu mengalihkan perhatian Bryan dan Shiren. Keduanya yang cukup kaget, melihat ke arah asal suara.


Sudah berdiri pria yang keduanya sangat kenal, ya Galaksi Tri Atmajaya adalah nama lengkap cowok itu. Dia dengan santai bersender di tepi pintu, sembari menatapi Bryan dan Shiren yang duduk di lantai.


"Apaan sih? Lo kok di sini! Lo ngapain di sini?" Tanya Shiren yang cukup terkejut.


"Nemuin lo lah, ya kali nemuin dia." Galaksi melirik ke arah Bryan.


"Mau cari ribut?" Bryan menaikkan sebelah alisnya.


"Ribut normal aja, nanti siang adu basket gas?!"


"Oke."


"Tunggu, lo kenapa di sini Gal?!" Shiren menanyakan ulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Oh gue di sini ya? Hem, murid pertukaran pelajar, awalnya sih bukan gue yang di pilih. Tapi, gue berusaha semaksimal mungkin biar gue yang pergi." Sahutnya enteng, tanpa dosa, merasa yang dilakukannya adalah hal yang benar.


__ADS_2