
...*******...
"Bry, usahain jangan ribut sama Galaksi bisa?" Pinta Shiren, ketika dia ada di satu mobil yang sama dengan Bryan. Pada akhirnya Shiren pulang dengan Bryan setelah di gerbang Galaksi berulah kembali.
Shiren juga tidak mengerti kenapa Galaksi bisa berubah sedrastis itu, padahal Shiren menganggap Galaksi bisa menjadi temannya yang baik, soalnya anak itu lucu dan seru.
Tapi Shiren lupa dengan sebuah kalimat, bahwa tidak ada persahabatan tanpa menyimpan perasaan antara pria dan wanita, benarkah begitu?
"Oke, gue usahain buat ga nyari ribut sama dia, tapi kalo dia duluan yang mulai nyari ribut sama gue gimana?" Tanya balik Bryan, soalnya satu hari ini yang cari masalah duluan kan memang Galaksi, Bryan bahkan sudah sangat bersabar menyikapinya demi Shiren tercinta.
"Iya sih itu bener. Tau ah pala gue pusing. Pokoknya usahain jangan ribut, apalagi gegara gue. Gue gak mau nama gue buruk di mata anak sekolah sama guru-guru, tolong ya?" Shiren menatap Bryan serius, artinya permintaan ini benar-benar serius.
Bryan diam sebentar menatap Shiren, lalu pandangannya kembali fokus ke jalan dengan satu tangannya mengusap kepala Shiren lembut. Dengan senyuman tipis, Bryan berkata "Iya, gue janji ga bakal ribut sama dia di sekolah."
Sederhana memang, tapi entah kenapa rasanya Shiren berdebar. Meski begitu, dia berusaha mati-matian menyembunyikannya dengan menatap kembali ke jalanan.
Bryan memang kesal sih mengingat kalau Galaksi datang sebagai tamu tak di undang, bukan hanya dalam hubungannya melainkan di sekolah juga.
Tapi,
Satu yang membuat Bryan tidak begitu marah pada situasi ini, yaitu Shiren yang tidak goyah bahkan dengan ketampanan Galaksi, dengan begitu Bryan merasa lebih percaya diri bahwa Shirennya masih cukup mencintainya, bahkan dengan segala hal yang terjadi sekarang.
Pulang bersama kali ini, Bryan mencairkan suasana dengan menceritakan banyak hal, atau sekadar bercanda. Lolucon sederhana dan gombalan prik yang terdengar alay, namun sialnya itulah yang Shiren rindukan.
Ucapan dan rayuan Bryan di dalam mobil itu terdengar seperti rayuan buaya wanita, antara malu dan berdebar, Shiren bersyukur bahwa Bryan merayunya di dalam mobil dan hanya ada mereka berdua, jika tidak, astaga Shiren tidak tau akan semalu apa dia.
......................
__ADS_1
Di dalam kamar Shiren merebahkan tubuhnya, dia menatap kembali ponselnya dengan sebuah layar yang menampilkan foto berdua, dirinya dengan Lilia.
Dulu ..., Shiren masih ingat bahwa Lilia sering mengganggunya karna dekat dengan Bryan, Lilia dulu sangat menyukai Bryan. Begitu banyak kisah terjadi hingga akhirnya Lilia menyerah, dia bahkan bersahabat dengan Shiren.
Satu tahun berlalu, dan mereka semakin dekat. Rasanya mustahil kalau Lilia yang itu akan merusak hubungannya dengan Bryan, karna Lilia kembali menyukai pemuda yang sama?
Tidak mungkin!
Shiren ingin menolak opini itu sekeras mungkin, dia tidak mau berebut satu pemuda dengan sahabat baiknya. Shiren tidak mau, Lilia sangat berharga dalam hidup Shiren, dia ingin selalu bersahabat dengan Lilia, jika memungkinkan dia ingin bersama lilia seumur hidupnya.
"Tapi apa maksud Galaksi? Apa mungkin galaksi bohong? Bisa aja kan?"
Segala alasan dan jawaban yang tidak jelas itu berputar di kepala Shiren. Masalah Bryan belum selesai, kini datang Galaksi, namun terpaan badai Lilia adalah yang paling menyakitkan.
Demi apapun! Shiren harap Lilia punya alasan tertentu, yang baik untuk Shiren, dan baik untuk persahabatan mereka.
......................
Malam itu Bryan kembali ke dalam rumahnya, dengan kondisi baju yang sudah lusuh, wajah kusam, dan rambut yang acak dengan jaket hitam yang menggantung di pundaknya.
"Putuskan Shiren sekarang juga!" Suara dingin dengan desakan yang benar-benar sama sekali tidak Bryan mengerti, kenapa dia selalu keras pada hubungannya dengan Shiren.
Bryan menatap pria paruh baya itu, yang duduk di sofa sendiri, dengan lampu penerang seadanya, seolah tenggelam dalam kegelapan. Dia adalah ayah Bryan.
Bryan selalu bingung, kenapa? Kenapa sang ayah terus saja menghalangi hubungannya dengan Shiren. Kenapa sang ayah terus bersikeras agar Bryan mengakhiri hubungannya dengan Shiren. Kenapa? Kenapa kebahagiaan Bryan harus direnggut begitu?
"Cukup Pa, Bryan cape, mau istirahat." Bryan lelah, setiap hari yang sang ayah katakan ketika melihat Bryan adalah mendesaknya untuk mengakhiri hubungannya dengan Shiren.
__ADS_1
"Kamu bisa beristirahat dengan tenang kalau putus dengan anak itu. Masih banyak gadis lain! Cari yang lain! Cari yang lain selain dia!"
"Gak mau, Bryan maunya Shiren. Bryan gak peduli apa yang papa bilang, terserah papa, Bryan selalu turutin kemauan Papa sejak kecil, tapi untuk yang satu ini gak bisa Pa. Karna Bryan merasa punya rumah yang damai kalau punya Shiren."
"Kamu bakal menyesal gak dengerin perkataan Papa!"
"Terserah Papa, Bryan cape."
"Kenapa kamu jadi anak pembangkang begini? Kamu benar-benar menjadi pembangkang setelah kenal dengan anak itu! Ka--"
"Papa gak nikah lagi karna mama kan? Karna Papa memang secinta itu sama mama? Artinya papa tau kan arti cinta itu, Papa tau kan sebesar apa cinta itu mempengaruhi hidup dan keputusan yang kita ambil. Papa tau kan? Kalau tau kenapa masih harus suruh Bryan buat ninggalin Shiren?" Bryan kembali melangkah meninggalkan sang ayah yang sendirian di sofa itu, karna sang ibu sudah tiada cukup lama. Ayah Bryan jadi sendirian.
Bryan menghela napasnya, dia benar-benar lelah saat ini. Barangkali jika menelpon sang kekasih dia jadi lebih baik, tapi mana mungkin Bryan akan mengganggu tidur cantik kekasihnya itu, karna ini sudah pukul 1 pagi. Sudah pasti Shiren telah tidur.
Tidak apa-apa, Bryan akan menahan rindu itu sekuat tenaga sampai pagi, sampai dia melihat mataharinya lagi di sekolah.
Bryan masuk ke dalam kamarnya, tergantung gitar, dengan disebelahnya begitu banyak fotonya dengan Shiren, atau foto Shiren sendiri.
Dunia tanpa seorang ibu ini membuat Bryan lelah, tapi foto matahari dengan senyuman tulusnya membuat Bryan merasa kembali pulang ke rumah.
Dunia terlalu hampa untuk ditinggali Bryan sendiri, syukurlah Tuhan menciptakan Shiren, Bryan jadi memiliki motivasi lebih untuk bertahan di dunia yang kejam ini.
Bryan langsung tersenyum begitu dalam ketika menatap foto Shiren, ia memegang ujung bingkai foto itu. Ditatapnya lekat-lekat sang gadis manis.
Drrttt!!
Ponsel Bryan bergetar, dia kesal waktunya dengan foto Shiren diganggu.
__ADS_1
Tapi sepertinya kekesalan itu terhempas ketika melihat nama sang pemanggil adalah sang kekasih.
Walau senang, Bryan juga sedikit tegang, ada hal penting apa sampai kekasihnya yang selalu patuh pada jam malam ini malah menelponnya di tengah malam begini? Apakah ada hal yang begitu penting?