Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Cukup, Shiren lelah


__ADS_3

Shiren mengernyitkan dahinya saat dapat pesan panggilan sayang bukan dari orang yang dia harapkan.


"Apaan sih anak ini, padahal dia tau gue ceweknya Bryan. Dan dia juga kenal Bryan, pasti tahulah kelakuan di jalanan. Masih aja berani ngechatt gue, bilang itu ini. Bodo ah, blok aja."


Shiren mengklik sana sini hingga akhirnya dia berhasil membuka bloknya.


"Bukanya minggu depan aja deh. Padahal gue balas karna menghargai."


Dia beralih dengan nama Bryan di ponselnya, namun pesan centang dua abu-abu masih tak kunjung membiru, membuat sang gadis gundah menunggu.


Shiren menghela napasnya, bukan dia posesif atau tidak memberi waktu Bryan untuk sendiri. Bukan dia berlebihan tentang kehidupan Bryan. Dia hanya ingin kabar, tapi apa yang Bryan berikan? Harapan kosong.


Dalam sebulan terakhir, bisa di hitung dengan sepuluh jari berapa kali Bryan menjawab pesan Shiren. Ingat ya, itu sudah sebulan. Meski memang sudah berjumpa di sekolah, hanya saja ada yang kurang kan? Apalagi dalam sebulan hanya dua atau tiga kali mereka jalan, atau nyaris tidak pernah bulan ini.


Soalnya saat pergi sekali, petaka sudah menghampiri.


"Tau ah bodo, mending turu."


Shiren menarik selimutnya, kali ini dia mencampakkan ponselnya dimana saja menjauh dari telinganya. Dia sudah kesal bukan main.


-


-


-


Matahari sudah naik, pagi sudah datang, dan sarapan bersama di keluarga Arkasa berjalan dengan baik tentunya.


Semuanya baik-baik saja, hanya ada obrolan ringan atau gombalan Arfen terhadap Thifa yang meramaikan. Dan sukses membuat telinga Shiren panas, padahal Bryan-nya yang dulu adalah orang yang seperti itu, orang yang bisa menceploskan gombalan absurd apa saja dari sesuatu dan suasana di sekitarnya. Tapi semua itu musnah, itu sirna, Shiren tak lagi melihat sisi seperti itu dalam kekasihnya.


"Jadi Shi, kapan Bryan ngelamar kamu? Kapan keluarga dia bakal berkunjung ke sini? Bawa parsel dan lamaran, juga niat baik tentunya."


Semuanya sangat baik-baik saja sebelum Nathan menceploskan pertanyaan itu. Tentu saja dia harus bertanya, karna dia sudah merasa Putri nya serasi sekali dengan Bryan. Apalagi dia juga suka dengan karakter Bryan dan wajahnya yang mengandung bibit unggul.

__ADS_1


"Pa! Shi masih sekolah tau! Masa di tanyain begitu, Papa gimana sih! Papa sama Mama aja gak nikah muda kan?! Kak Arfen sama Kak Thifa juga gak nikah muda, kenapa Shiren harus nikah muda?!"


Tentu saja Shiren protes, meski terkadang khayalan sebelum tidurnya adalah menikah dan punya anak dengan Bryan. Tapi, ini terlalu cepat terlaksana, dia belum siap membangun rumah tangga. Dia belum bisa menjadi istri orang, mengurus dirinya sendiri saja perlu bantuan Sheryl-ibunya, apalagi harus menurus suaminya nanti? Wajah Shiren sudah merah padam, dia malu dan berdebar.


"Papa sama Mama emang gak nikah muda, tapi udah tunangan di masa sekolah. Pas di usia kamu sekarang deh. Dengan maksud dan tujuan menjalin hubungan keluarga yang baik, biar kalian punya komitmen dan gak main-main sama hubungan." Jelas Nathan, dia tidak salah kan? Meski dulu dia ingin menikah secepatnya, namun pada akhirnya mereka menikah dengan usia Sheryl sudah dua puluh empat tahun.


"Kakak sama Thifa juga, masih sekolah udah tunangan. Kalian kapan?" Tambah Arfen menambah panas suasana.


"Shiren kenyang! Mau berangkat sekolah dulu!"


Gadis itu mengusap bibirnya, membersihkan sisa minyak, bangkit berdiri menyalim satu per satu orang yang lebih tua darinya. Dengan wajah kesal tentunya, apalagi saat menyalam tangan Arfen dia juga harus menerima godaan dan usapan di kepala yang membuat tatanan ranbutnya hancur.


Shiren berjalan dengan cepat, sebelum masalah itu di singgung lagi dan lagi. Padahal dia dan Bryan saja sedang kacau saat ini, konon tunangan.


"Tapi keluarga Bryan? Aku belum pernah ketemu walau sekali. Kata Bryan mamanya udah gak ada, dia anak tunggal, jadi gak punya saudara, dan dia cuma punya ayah kan? Tapi aku gak pernah dikenalin deh sama ayahnya. Gimana ya keluarga Bry? Ke rumahnya juga gak pernah. Aduh! Apaan sih! Kali aja dia gak serius?"


"Bodo ah! Buat sakit kepala!"


-


-


-


Shiren sudah berhenti di dekat gerbang sekolah, dia turun agak jauh dari sana karna ada Pak Eky yang sedang adu mulut sama Nanta. Shiren gak mau kena, jadi untuk sekarang menjauh saja.


"Aw!"


Tapi saat dia ingin melangkah pelan-pelan sambil mengulur waktu, lengannya di tarik oleh seorang pria.


Shiren melihat pakaian pria itu berbeda, dia memakai pakaian putih dengan jas abu-abu. Sedangkan sekolah Shiren hari ini memakai batik.


"Loh? Sakit ya?  Sorry gue gak sengaja, habisnya lo di panggil gak noleh."

__ADS_1


"Galaksi?!"


"Iya gue? Apa?"


Ya, pria tidak sopan yang menarik Shiren adalah Galaksi.


"Apaan sih?! Ngagetin aja?! Lo ngapain ke sini? Sekolah kita beda arah!" Shiren menepis tangan Galaksi.


"Cuma mau nanya, lo kok blok  gue sih? Gue galau semalaman gara-gara itu. Gue galau gak jelas. Makanya, bukain dong bloknya."


Itu benar, Galaksi tidak bohong, dia memang uring-uringan kemarin malam saat dia tak lagi bisa bercengkrama ria dengan tambatan hatinya.


"Terus gue harus reaksi apa lagi? Senang tersipu balas stiker lope lope? Lo gak berharap gitu kan Gal?"


Shiren lelah, jengah, dia sudah sakit kepala soal Bryan dan segala teka-teki perubahan sikapnya. Jangan di tambah lagi deh.


"Ya gak juga, tapi langsung nge-blok gue, itu gak sopan tau."


"Gak sopan mana sama orang yang manggil cewek orang lain sayang? Padahal lo udah jelas-jelas tau gue ceweknya Bryan. Masih aja modus, masih aja gombal."


"Lah biarin, lo sama dia kan harusnya udah putus dari beberapa bulan lalu, lo udah minta putus sama dia lebih dari dua puluh kali, bahkan hampir tiga puluh kali. Bryan nya aja yang gak tau diri. Dia yang nahan lo kan? Jadi menurut gue, lo bukan lagi cewek dia. Kalian udah terhitung putus saat lo pertama kali minta putus sama dia. Ada atau tanpa persetujuan Bryan."


Shiren diam, dia hanya terus menatap mata Galaksi lekat-lekat.


"Lo tau ... Lo udah gak sopan." Suara Shiren memelan, namun itu sangat serius.


"Kenapa gak sopan? Gue usaha loh disini Shi."


"Apaan sih, lo ngotot banget, ngeyel lagi! Sok tau soal gue sama Bryan. Belum tentu kan yang lo dengar itu benar."


"Jelas bener dong, gue dengernya langsung dari sahabat lo, siapa sih? Oh ya Lilia namanya. Gak mungkinkan dia bawa berita bohong."


"Apa? Lilia?"

__ADS_1


__ADS_2