
......................
Shiren sampai di apartemennya, dia merebahkan tubuhnya di kasur setelah sibuk bergulat dengan padatnya jadwal hari ini.
Shiren tidak kembali ke rumahnya, dia membeli sebuah apartemen dengan alasan lebih dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi itu tidak sepenuhnya benar, Shiren hanya tidak tega untuk menatap wajah kedua orang tuanya yang selalu memandangnya dengan simpati yang tinggi.
Shiren juga merasa tidak enak pada sang ayah. Mereka terlalu baik, bahkan setelah Bryan pergi tanpa kabar pun, hingga usianya yang menuju 25, tetap tidak ada paksaan dari keluarganya untuk segera menikah, atau buru-buru mencari pengganti Bryan.
Tidak ada satupun anggota keluarganya yang memaksa Shiren untuk melupakan dan membenci Bryan, tidak ada.
Seperti inilah shiren menghabiskan hari-harinya, dia bekerja, selepas lelah bekerja beristirahat di apartemennya.
Ting!
Bel berbunyi, Shiren segera bangkit, ia tau itu adalah pizza yang ia pesan.
Benar saja
Setelah Shiren membuka pintunya, tampak pria berseragam merah seperti di restoran langganannya datang mengantar. Ia memakai masker hitam dan topi merah, dengan kotak pizza di tangannya.
"Ya terimakasih." Shiren mengambilnya, langsung menutup pintunya. Bukan karna Shiren berhati dingin, malas, atau lelah, tapi saat pertama kali dulu pria itu mengantar pizza, dia hanya diam saja tanpa mengatakan apa-apa bahkan 'sama-sama' membuat Shiren jadi enggan untuk menantikan jawabannya.
Sejak dua tahun lalu, sejak Shiren pindah ke apartemen ini, setiap makanan online yang ia pesan dari restoran langganannya, yang mengantar selalu pria yang sama, pria yang tanpa suara dengan masker hitam polos dan topi yang tak pernah terangkat.
Awalnya Shiren takut, penuh curiga, tapi setelah dia tahun dia merasa lebih baik walau tetap waspada kepada pria yang mengantarkannya makanan selama ini.
Dia tidak pernah tersenyum, wajar mungkin terhalang masker. Dia tidak pernah membuka topinya, itu haknya bukan? Dia tidak pernah berbicara, barangkali dia memang enggan berbicara dengan pelanggan manapun.
Shiren kembali menepis pikiran curiganya, dia duduk di depan televisi, menyalakan film apa saja yang mulai menarik sedikit minatnya.
......................
Pagi hari setelahnya, Shiren bekerja seperti biasa, ia keluar dari apartemennya dengan pakaian rapi dan jas putih yang bersih, serta rambut yang terikat anggun. Dia menyapa beberapa tetangga yang berselisih jalan dengannya.
Tepat ketika Shiren ingin membuka pintu mobilnya, sialnya dia melirik pria tua yang baru saja masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Meski tampak kurang yakin, Shiren merasa bahwa pria itu adalah Leon--ayah Bryan.
Meski Shiren hanya pernah bertemu sekali dengannya, dia cukup yakin itu ayahnya Bryan. Dia tidak bertemu lagi dengan Leon karena Bryan menghilang, tentu sang papa juga menghilang.
Lantas sebuah kesimpulan muncul di dalam kepala Shiren, jika Leon kembali, barangkali sang putra Bryan juga kembali kesini bukan?
Shiren masuk ke dalam mobilnya, segera melajukannya untuk mengikuti mobil yang di naiki Leon.
Ah, Shiren tau satu hal sekarang, kenapa dia masih belum bangkit dan tetap terjebak di dalam cintanya Bryan. Karna untuk Shiren kisah mereka belum benar-benar usai, dia merasa putusnya hubungannya dan Bryan tidak semudah itu, dia masih butuh penjelasan, barangkali ada kesalahpahaman, mungkin?
Pasca putus dengan Bryan, Shiren masih mencari alasan sesungguhnya, apakah mereka benar-benar harus berakhir seperti itu? Shiren butuh bertemu dengan Bryan, setidaknya untuk menanyakan alasannya, jikalau pun alasan Bryan masuk akal, maka Shiren akan memaksa dirinya untuk menerima kenyataan mereka sudah putus, dan mencekik dirinya dengan fakta bahwa mereka sudah usai.
...Karnanya...
...Karna itu, Bry ......
...Aku harus ketemu kamu, seenggaknya buat tanya sekali lagi, mungkinkah kita memang bener-bener udah usai?...
...Setidaknya aku butuh alasan kuat kamu, buat diri aku bangkit dari jeratan ini....
Telpon berbunyi, sebuah panggilan dari rumah sakit, Shiren segera mengangkatnya.
"Bu, tolong, ada anak kecil yang datang, dia habis jatuh, giginya ada beberapa yang patah, ia menangis sesegukan, saya kasihan banget Bu, boleh segera datang? walau jadwal ibu masih jam sembilan nanti, tolong Bu."
Ah, suara lirih permintaan sang suster cukup menggoyahkan tekad Shiren. Sang suster saja yang melihat anak itu sudah berbicara sangat getir, apalagi sang anak yang merasakan sakit gigi itu.
Shiren menghela napasnya panjang, ia memelankan laju mobilnya, hingga perlahan mobil yang dinaiki ayah Bryan hilang ditelan keramaian.
"Iya, saya segera kesana."
Shiren mematikan teleponnya, dia mencari tempat perputaran arah.
Shiren sekali lagi menghela napasnya, mencoba mengikhlaskan takdir ini, dan pilihan yang baru dia buat, memilih meredakan sakit anak itu dibanding terus mengejar ayah Bryan yang memungkinkan dapat menjadi petunjuk keberadaan Bryan.
Shiren tidak apa-apa, mungkin saja semesta tidak merestui pertemuan Bryan dan Shiren hari ini, membuat Shiren kembali menunggu, tidak apa-apa, setidaknya Shiren tau Leon masih hidup dan ada disini.
__ADS_1
Dia tidak menyesalinya, soalnya anak-anak yang kembali tersenyum setelah menangis karna sakit gigi sekarang untuknya juga salah satu kebahagiaannya.
......................
Shiren duduk di sebuah taman, sendirian, menatap ponselnya. Dia sudah selesai bekerja hari ini.
"Kenapa manggil kakak?" Sapa pria yang mungkin sudah berusia 30-an itu, dengan setelan formal, dia terlihat tampan. Dia adalah Arfen--kakak Shiren. Arfen duduk di sebelah Shiren, menatap arah yang sama dengan gadis itu.
"Kangen yaa? bener sih, manggil kakak gak perlu alasan, kalo manggil kakak artinya kamu mau ketemu sama kakak bahkan tanpa alasan." Lanjutnya lagi dengan senyum yang mengembang dari wajahnya.
Ah, Arfen ingat, semenjak ditinggal pergi Bryan, senyuman Shiren berubah, itu bukan lagi senyuman tulus yang biasanya.
Arfen itu peka, kan?
"Dia mungkin sudah kembali." Ucap Shiren setelahnya dengan nada yang datar.
Detik itu juga Arfen terdiam. Dia memfokuskan pandangannya pada wajah sang adik yang tak berubah, datar.
"Maksud kamu Bryan?" Ulang Arfen, memastikan orang yang Shiren maksud. Bohong jika Arfen bilang ia tidak membenci Bryan, dia sangat membenci bajingan yang memudarkan senyuman adiknya.
Namun sialnya Arfen juga menyadarinya, bahwa bajingan itu juga yang bisa mengembalikan senyum sang adik.
Lantas, jika mungkin Bryan kembali? Apa yang akan terjadi?
"Iya, mungkin dia juga kembali."
"Maksudnya mungkin?" Ulang Arfen lagi, soalnya pernyataan adiknya ambigu, terdengar tidak yakin, tapi tatapan matanya penuh harap, Bryan tau itu. Adiknya tidak yakin Bryan kembali, tapi dia berharap Bryan kembali.
Sial!
"Aku liat ayahnya Bryan tadi pagi, ada di sekitar apartemen aku. Pas mau aku ikutin, aku dapat panggilan kerjaan, jadi aku kehilangan jejaknya." Lanjut Shiren perlahan.
"Jadi kamu manggil kakak buat minta tolong, pastiin tuh bajingan ada di kota ini nggak?"
"maaf ngerepotin kakak, tapi itu emang yang aku mau dari kakak sekarang."
__ADS_1