Penjara Cinta Sang Badboy

Penjara Cinta Sang Badboy
Lembaran Baru


__ADS_3

8 Tahun sudah berlalu semenjak hari itu, hari dimana hubungan Bryan dan Shiren usai, hari yang buruk untuk Shiren.


***


"Rajin sikat gigi okay? ini hadiah karna Vivi udah berani periksa hari ini." Wanita dewasa itu memberikan sebuah kotak hadiah kepada gadis kecil yang ada di depannya.


"Makasih Dokter peri, Vivi pergi dulu yaaa. emuah." Gadis kecil itu mencium pipi wanita dewasa yang memberinya hadiah, wanita yang cantik dan elegan dengan jas putih dan name tag yang terpasang di dadanya.


"Makasih Bu Dokter, kalau begitu saya permisi yaa." Sang ibu berpamitan dengan sang dokter gigi yang cantik dan elegan.


Kepergian ibu dan anak itu menyisakan Shiren sang dokter gigi yang berdiam diri di kursi kebanggaannya.


Shiren menatapnya, sebuah foto berbingkai, foto dirinya dan Bryan.


Benar.


Sampai hari ini, Shiren harus terpaksa mengakui, dia masih sangat mencintai bajingan yang mengatakan putus dengannya bahkan saat keadannya terluka di rumah sakit delapan tahun lalu.


Bajingan itu masih bersarang lekat di hati Shiren, terlepas dari sikapnya yang egois, meninggalkan Shiren sendiri.


Tepat hari dimana Bryan mendeklarasikan putus dengannya, esok harinya terdengar Bryan keluar dari sekolah, entah pindah kemana, tidak ada yang tau bahkan Nanta teman dekatnya sekalipun.


Bajingan itu seperti lenyap begitu saja di hadapan Shiren, tak lagi terdengar kabarnya saat ini, tapi satu yang pasti, dia pergi meninggalkan Shiren yang tidak bisa melepaskannya.


"Bahkan nggak ada foto perpisahan ya?"


Tidak apa-apa, Shiren sedikit mengusap foto itu, lalu dia kembali menatap beberapa lembar kertas berwarna putih dengan coretan hitam. Itu adalah data pasiennya, dia masih harus bekerja keras untuk menyelesaikan masalah gigi pasiennya.


"Dimana kamu, Bryan? Aku cuma butuh kabar pasti bahwa kamu masih hidup, tolong tunjukkan tanda itu, boleh kan?"


Ah ...


Bahkan 8 tahun bukanlah waktu yang cukup bagi Shiren untuk melupakan Bryan dan perasaannya, 8 tahun adalah waktu yang lama untuk seseorang, meski begitu, itu masih amat kurang untuk membuat Shiren melupakan sosok Bryan.


Katanya cinta remaja itu cinta monyet, apakah dengan delapan tahun kesetiaan boleh Shiren mengatakan ini cinta sejati?


"Permisi Bu Dokter Periii!!"

__ADS_1


Pintu terbuka, suara riang seorang gadis kecil menghampiri Shiren. Dia kenal pemilik suara nyaring yang menenangkan hati itu, itu adalah suara Tania--Keponakannya Galaksi.


"Hey halo Tata yang imut nan gemesin ini, sekarang Tata udah berani yaa? Pinterrr, ngga boleh takut kalo diperiksa." Sambut Shiren dengan suara yang tak kalah riang, sudut bibirnya tertarik menyajikan senyumanan manis yang menenangkan.


Tak jarang, senyuman itu juga meredakan para pasien Shiren selama ini.


Bahkan kali ini, Tania datang dengan Galaksi di sebelahnya, selalu begitu, Galaksi akan selalu menemani Tania rutin pemeriksaan dengan Shiren.


"Hey Shi, udah makan?" Tanya Galaksi ramah.


Shiren tidak menjawabnya, dia hanya menggeleng sembari bermain dengan Tania.


"Mau makan?"


Detik itu juga Shiren langsung mengalihkan pandang menuju Galaksi, pemuda yang tinggi dan tampan itu sudah berdiri dengan senyuman lembut, juga satu tangan terangkat membawa tas yang berisikan bekal.


"Ayo makan bareng Dokter peri." Pinta Tania lagi bahkan sebelum Shiren menjawabnya.


Shiren diam sebentar, dengan senyuman yang merekah setelahnya, pertanda dia setuju untuk makan karna ini memang sudah jadwalnya makan siang, tidak ada pasiennya untuk satu jam kedepan.


.....


Tanpa sengaja Galaksi melirik sebuah foto berbingkai yang ada di meja kerja Shiren, di sebelah foto keluarganya, masih terpampang jelas foto Bryan dan Shiren yang masih remaja disana. Tersusun indah dan rapi.


Galaksi menarik senyuman manisnya. Kenapa?


Tentu karna dia sudah menyerah.


Mungkin benar, dulu Galaksi sempat berpikiran bahwa Shiren adalah gadisnya, miliknya, takdir hidupnya. Apalagi setelah tau berita resmi putusnya Shiren dan Bryan, Galaksi maju paling depan untuk mengemis cinta Shiren, mencoba merebut posisi Bryan.


Kesempatan itu terlihat semakin jelas dan terang, tatkala Bryan pergi dan kabar, yang artinya itu adalah kesempatan emasnya tanpa penghalang.


Tapi sayang, tahun ke tahun ia berjuang, yang datang selalu saja penolakan dari gadis tercinta. Penolakan yang berulang, membuat perasaan itu pun perlahan menghilang.


Awalnya Galaksi masih ingin berjuang, jikalau benar isi hati sang pujaan hati masihlah kosong. Tapi apa daya? Hati Shiren masih dipenuhi Bryan, sang bajingan yang menghilang tanpa jejak, tanpa alasan, tanpa meninggalkan apa-apa kecuali derita.


Galaksi kagum, cinta Shiren abadi, tidak terganti. Posisi Bryan bahkan tidak tergeser barang untuk satu milimeterpun. Tapi itu juga membuat Galaksi iri, kenapa bajingan seperti Bryan malah bisa mendapatkan cinta yang begitu tulus luar biasa dari Shiren?

__ADS_1


Dia sempat bertanya, pada siapa saja yang mengetahui kisahnya, kenapa tidak dia saja yang ada di posisi Bryan, yang dicintai oleh Shiren begitu hebatnya. Bahkan sampai sekarang pun, Galaksi tidak menemukan jawabannya.


Galaksi sudah menyerah akan Shiren, cintanya sudah berubah, ia bukan lagi pangeran yang sedang jatuh cinta pada tuan putri, tapi dia adalah sosok ksatria yang ingin melindungi tuan putrinya.


Yang membuatnya berubah bukan rasa lelah atau ego karena selalu ditolak, ia menyerah karna dia tau cinta Shiren tak terganti, cinta Shiren terlalu luar biasa tulus hingga membuat Galaksi tak lagi ingin mengganggunya.


Meski begitu, meski Galaksi sudah mengikhlaskan Shiren, dan berhenti mengejar cintanya, bukan berarti Galaksi memaafkan Bryan.


Tidak!


Bryan, bajingan itu adalah manusia yang paling Galaksi benci.


"Lelaki harusnya tidak egois, dia seperti banci yang kabur dari Medan perang, aku paling membenci pria yang sukanya melarikan diri."


Shiren langsung terdiam, tangannya terhenti ketika dia ingin memberikan suapan terakhir untuk Tania.


"Bahkan jika dia seorang pecundang pun, aku akan tetap mencintainya." Shiren memberikan suapannya pada Tania.


"Kenapa?"


"Tentu karna aku bodoh."


Memang mau jawab apa lagi?


Jawaban mendalam apa yang memang Galaksi harapkan?


Pada dasarnya Shiren juga menyadarinya, bahwa dirinya memang terlalu bodoh, jatuh cinta terlalu dalam dengan Bryan. Bahkan hingga saat ini.


Bryan melakukan banyak kesalahan, kesalahan terbesarnya adalah meninggalkan Shiren.


Tapi, dari semuanya, dari segalanya, percaya atau tidak, Shiren tidak pernah menyesal bertemu dengan sosok Bryan dalam hidupnya.


Bahkan jika dia bisa mengulang 10 kehidupan, dia akan tetap memilih mengenal dan mencintai Bryan, walau akhir kisah mereka begitu tragis.


Tidak apa-apa, asal semesta tau, perasaan Shiren untuk Bryan adalah tulus adanya.


"Ha, mau gimana lagi, karna kamu bodoh, setidaknya kamu harus punya aku yang pintar ini sebagai teman mu." Galaksi menghela napas kasar, dengan senyuman lega setelahnya.

__ADS_1


"Iya mungkin memang sudah begitu seharusnya." Shiren jugaa tersenyum tipis tanpa bantahan.


__ADS_2