Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 10. Perdebatan Para Pangeran


__ADS_3

"Berapa lama lagi kita akan sampai?" Tanyaku pada pengawal diluar kereta.


"20 menit lagi pangeran." Jawab pengawal itu.


"Baiklah." Jawabku lalu menutup tirai kereta.


Aku tidak dapat menahan rasa penasaran yang aku rasakan mengenai gadis itu. Berdasarkan data yang ada dia berusaha 7 tahun. Putri dari Louis Lawrence pemimpin pasukan elit kekaisaran. Aku hanya mengingat sekilas bagaimana penampilannya. Mungkin hari ini aku bisa melihatnya lebih lama.


"Pangeran pertama, kita akan segera sampai." Ucap pengawal diluar.


Akhirnya aku akan bertemu dengan mu, Aurelia Lawrence.



"Hormat kepada bintang kekaisaran, Pangeran Adam Richard." Teriak pengawal di gerbang kediaman Lawrence.


"Hormat kepada bintang kekaisaran." Ucap kepala keluarga Lawrence, Gautam Lawrence.


Saat tiba di kediaman tersebut, aku langsung disambut oleh kepala keluarga Lawrence dan juga gadis kecil disampingnya. Akhirnya aku bertemu denganmu Aurelia Lawrence.


"Pangeran silahkan masuk, kita akan berbincang-bincang di dalam." Ujar Gautam Lawrence.


"Baik." Jawabku berjalan masuk mengikuti Gautam Lawrence.


Sepanjang jalan, mataku tertuju pada gadis yang berada sebelahku. Begitu tenang, tidak seperti nona bangsawan seusianya. Nona satu ini punya kepribadian yang lebih dewasa dari usianya. Mungkin jika aku berada di posisinya aku akan merasa gugup dan panik, meskipun telah memperoleh pendidikan etika kebangsawanan.


"Apakah namamu Aurel?" Tanyaku padanya dalam perjalanan menuju ruangan utama.


"Iya pangeran, perkenalkan nama saya Aurelia Lawrence." Jawabnya dengan gerakan sesuai etika bangsawan.


Saat pertama kali bertemu aku sudah terkagum dengan ketenangannya. Sekarang aku dibuat terkagum kembali dengan etika bangsawan yang dia tunjukkan begitu sempurna.


"Saya Adam Richard." Balasku yang mendapatkan senyum dari gadis itu.


"Mari kita lanjutkan pangeran." Ujar gadis itu mengarahkan jalan mengikuti kakeknya.


Kediaman Lawrence begitu sejuk, berbagai macam tanaman ada disini. Luas kediaman ini juga tidak kalah dengan salah satu istana di kediaman kekaisaran. Jika melihat sejarah keluarga ini, seperti adalah hal yang wajar atas segala kemewahan dan keindahan yang ada.


"Kita telah tiba pangeran." Ucap Gautam Lawrence.


Para pelayan mulai keluar dari ruangan, menyisakan aku, Gautam Lawrence, dan gadis mengagumkan ini. Melihat mereka hari ini, seperti hubungan kakek dan cucu ini sangat baik. Pada umumnya kepala keluarga hanya akan peduli pada keturunan lelaki saja. Tetapi melihat kualitas gadis ini, mendapatkan perhatian dan kasih sayang adalah hal yang wajar dan sangat pantas.

__ADS_1


"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih karena nona telah menyelamatkan saya. Jika kedepannya nona memerlukan bantuan, anda bisa meminta tolong kepada saya." Ucapku menatap gadis yang ada dihadapku.


"Tidak pangeran, saya hanya melakukan apa yang bisa lakukan sebagai kontribusi untuk kekaisaran ini." Balas gadis itu dengan lembut.


"Tidak itu sudah seharusnya saya berikan kepada penyelamat saya." Balasku menolak ucapan gadis itu.


"Baik, terima kasih pangeran." Ujar gadis itu seraya menikmati secangkir teh miliknya.


Kami berbincang-bincang beberapa saat hingga kepala keluarga Lawrence harus pergi untuk menyambut kedatangan pangeran kedua.


"Permisi pangeran, pria tua ini harus menyambut pangeran kedua. Saya izin meninggalkan pangeran." Ucap kepala keluarga Lawrence.


"Baiklah."


Kepala keluarga Lawrence meninggalkan kami berdua di ruang tersebut bersama beberapa pelayan. Mungkin akan terjadi kecanggungan setelah ini. Aku tidak pandai memulai pembicaraan dengan seorang gadis.


"Pangeran apakah anda ingin melihat taman bersama saya?" Ucap Aurel dengan tersenyum.


"Boleh, tolong arahkan jalannya." Balasku dengan sopan.


Kami berjalan bersama diiringi beberapa pelayan yang ada di belakang kami. Kupikir akan mengalami situasi canggung setelah kepergian Gautam Lawrence, ternyata gadis ini pandai bersosialisasi.


"Taman ini adalah taman utama kediaman Lawrence. Taman ini ditumbuhi bunga lili yang sangat cantik." Jelas gadis memperlihatkan hamparan tanah luas dengan dipenuhi bunga lili.


"Iyaa." Jawabnya bersemangat.


Jika dilihat-lihat gadis ini sangat mirip dengan bunga lili. Rambut putih berkilau mirip dengan kelopak bunga yang aku lihat itu. Mata keemasan seperti berisi nektar yang manis.


"Apakah nona sering menghabiskan waktu disini?" Tanyaku ingin tahu.


"Iyaa, setelah jam makan siang saya sering menghabiskan waktu disini. Terkadang saya menghabiskan waktu bersama sepupu saya." Jelas Aurel dengan pandangan tetap tertuju ke taman.


"Cantik.." Gumamku dengan senyuman kecil.


"Apakah anda menyukai taman ini juga?" Tanya Aurel polos.


"Iya, dan ka.." Jawabku yang terpotong dengan kedatangan pangeran kedua serta kepala keluarga.


"Aurel.." Panggil Gautam Lawrence yang memotong pembicaraan kami.


"Halo nona, saya Darius Richard. Senang bertemu dengan nona." Ucap pangeran kedua yang membuat ku sedikit kesal.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Aurelia Lawrence, senang dapat bertemu anda pangeran kedua." Ucap Aurelia dengan sopan.


"Aurel apakah kamu mau bermain dengan para pangeran? Kakek harus berbicara dengan utusan istana." Tanya Gautam.


"Bisa kakek, kakek tenang saja." Ucap Aurel dengan tenang.


Sepertinya yang kuduga gadis ini dapat diandalkan. Terlalu muda untuk dapat diandalkan dalam hal ini.


"Pangeran, bagaimana kalau kita mengunjungi perpustakaan?" Tawar Aurel pada kami.


"Iya, boleh." Jawab pangeran kedua.


"Baiklah." Jawabku kesal karena kedatangan tamu tak diundang itu.


Sepanjang perjalanan aku merasa sangat kesal melihat tingkah laku pangeran kedua yang selalu mengajak Aurelia berbicara. Kenapa orang satu ini datang kemari? Apa yang permaisuri rencana sebenarnya?


"Aurel buku yang kamu suka?" Tanya pangeran kedua.


"Sejarah. Pangeran menyukai buku apa?" Ucap Aurel dengan sopan.


"Sastra." Jawab pangeran kedua yang tak sengaja bersamaan dengan aku. "Ilmu pedang."


Mendengar jawabanku terlihat wajah tidak suka dari pangeran kedua.


"Sepertinya pangeran pertama kurang mendapat pendidikan etika, sehingga memotong pembicaraan orang lain." Ujar pangeran kedua merendahkanku.


"Bukankah nona Aurel bertanya apa buku yang pangeran suka? Bukankah saya juga pangeran?" Jawabku dengan santai.


"Sifat mencampuri pembicaraan orang lain, sangat tidak cocok untuk menjadi seorang kaisar." Jawab pangeran kedua dengan muka tidak suka.


"Bukankah kita tidak tahu siapa yang layak diantara kita? Bisa saja sifat anda jauh tidak cocok menjadi seorang kaisar." Balasku dengan nada menekankan.


"Maaf pangeran, seperti ini salah saya. Saya mohon maaf." Ucap Aurel karena tidak enak membuat kami berdebat.


"Tidak Aurel ini bukan salahmu." Ucap pangeran kedua seraya mengubah raut wajahnya.


"Itu bukan salahmu, tidak perlu minta maaf" Jawabku untuk menenangkannya.


"Baik, mari kita teruskan perjalanannya." Ujar Aurel mengarahkan jalan menuju perpustakaan.


Sepanjang jalan Aurel hanya diam, mungkin dia merasa tidak enak atas apa yang terjadi tadi. Sebenarnya itu adalah salahku dan pangeran kedua, bagaimana bisa kami berdebat di depan Aurel? Sikap tersebut tentu akan membuat Aurel merasa tidak nyaman. Di belakang kami juga terdapat para pelayan, sikap tadi sangat tidak pantas aku lakukan. Jika hal ini sampai ke istana mungkin akan mencoreng nama kaisar.

__ADS_1


"Kita sudah sampai pangeran." Ucap Aurel mempersilahkan kami masuk.


__ADS_2