Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 8. Ayah, Aurel Ingin Latihan Pedang!


__ADS_3

Hari ini matahari bersinar begitu hangat di kediaman Lawrence. Setelah 10 hari beristirahat akhirnya kesehatanku berangsur-angsur pulih. Kini perlakuan para pelayan semakin baik padaku. Berita tentang auroraku sudah menyebar di seluruh kekaisaran. Bahkan tetua aula putih sampai datang untuk menemuiku sendiri.


"Apakah anda nona Aurelia Lawrence?" Tanya seorang pria seusia kakek dengan jubah putih khas aula putih.


"Iya benar itu saya." Ucapku sambil duduk ditempat tidur karena kondisi yang belum sepenuhnya pulih.


"Perkenalkan saya Reynald Apollo, tetua aula putih." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Nona bisa tolong pakai gelang ini, saya hanya penasaran dengan tingkat aurora nona." Ujar bapak tetua itu.


Gelang berwarna putih dengan ukiran tersebut terpaksa di pergelangan tanganku. Alat ini akan digunakan untuk mengetahui tingkat aurora dalam tubuhku.


"Apakah ini tidak akan berbahaya untuk Aurel, Reynald?" Ucap kakek khawatir.


"Tenanglah Gautam, semua akan baik-baik saja." Jawab tetua pada kakek.


Beberapa detik setelah gelang itu terpasang di tanganku. Tiba-tiba terjadi hal yang tak pernah kuduga.


Krekk..


"B-Bagaimana hal ini bisa terjadi!?!" Ucap tetua terkejut.


Melihat hal itu kakek langsung memeriksa pergelangan tanganku. "Aurel apakah ada yang sakit."


"Aurel, kamu tidak apa?" Tanya ayah khawatir.


"Aurel tidak apa-apa." Ucapku untuk menenangkan mereka.


Gelang yang ada di tanganku rusak. Peristiwa itu membuat seisi ruangan terdiam, begitupun aku juga merasa terkejut. Aku tahu tubuh ini memiliki kekuatan yang besar, tapi aku tidak pernah menduga akan sebesar ini.


"Saya akan merapatkan kejadian ini bersama para tetua yang lain." Ucap tetua berusaha untuk tetap tenang.


"Baik, maaf atas kerusakan alat tersebut." Sahut ayah kepada tetua.


Semenjak peristiwa itu, ayah terus melatihku secara berkala hingga hari ini. Kakek membelikan beberapa batu aurora dan atribut aurora yang langka, meskipun kakek tahu itu tidak akan membantu banyak.


Berdasarkan hasil rapat para tetua aula putih, aku akan diharapkan dapat mengikuti pelatihan selama 6 bulan disana setelah kesehatanku sepenuhnya pulih. Namun dapat ditebak bahwa kakek dan ayah sangat tidak suka akan hal itu.


"Apa enam bulan!?!" Bentak kakek tidak terima.


"Putriku tidak boleh masuk ke dalam alua putih. Keluarga Lawrence mampu untuk mengajarkan pemahaman aurora padanya." Ucap ayah begitu emosi

__ADS_1


"Kalian pikir kalian siapa bisa seenaknya menarik nona keluarga Lawrence." Sahut kakek.


Berkali-kali para tetua berusaha untuk membujuk ayah dan kakek. Namun mereka selalu gagal, seakan hati kakek dan ayah terbuat dari batu yang sangat sulit diluluhkan.


"Aurel.." Panggil seseorang yang menghancurkan lamunanku.


Saatku menoleh ke belakang terlihat dua orang anak laki-laki berlari mendekatiku. Itu adalah Gerald dan Griffin yang telah usai latihan pedang. Keringat bercucuran dari tubuh mereka, namun mereka masih sangat bersemangat. Hal seperti itu mungkin bukan hal yang mengejutkan, latihan pedang merupakan hal yang paling mereka tunggu.


"Aurel, kami telah selesai berlatih pedang." Ucap Griffin sambil mengangkat pedang kayu miliknya ke atas.


"Kedepannya kami akan semakin kuat dan melindungimu." Balas Gerald begitu semangat.


"Apakah Aurel ingin belajar pedang?" Celetuk Griffin yang langsung dipukul Gerald.


Tuk..


"Apa maksudmu, Griffin? Apakah kamu ingin tangan Aurel menjadi kasar? Apakah kamu tega melihat terluka karena terkena pedang kayu saat latihan?" Ujar Gerald emosi.


"Ahh maa.." Balas Griffin belum usai, namun sudah kupotong.


"Boleh, kalau kalian tidak sibuk." Jawabku sambil tertawa lucu melihat mereka berdua.


"T-Tapi.. Aurel nanti kamu terluka." Ucap Griffin mengkhawatirkanku.


"Aku akan baik-baik saja." Balasku berusaha menenangkan dua anak dihadapanku yang hampir menangis itu.


Setelah perdebatan tersebut kita menghabiskan waktu bersama. Mereka mengajakku bermain dan bercerita bersama. Banyak hal yang mereka cerita. Mulai dari Patrick yang terpeleset di tangga, wajah Paman Eric yang kesakitan karena memukul meja, pelayan baru yang tidak dapat membedakan mereka, dan juru masak yang ketiduran hingga kue buatannya gosong.


Setelah menghabiskan waktu bersama Gerald dan Griffin, aku segera menuju ke ruang kerja ayah untuk menemaninya minum teh.


"Ayah bagaimana hari ayah?" Tanyaku penasaran.


"Baik, semua berjalan lancar." Jawab ayah sambil menikmati teh miliknya.


"Kalau Aurel bagaimana?" Tanya balik ayah.


"Hari ini menyenangkan, Aurel menghabiskan waktu bersama Gerald dan Griffin setelah mereka selesai latihan pedang." Jawabku penuh semangat.


"Ayah apakah Aurel boleh berlatih pedang?" Tanyaku ragu.


Huk..Huk..Huk..

__ADS_1


"Ayah, apakah ayah tidak apa-apa?!?" Ucapku yang terkejut karena ayah tiba-tiba tersedak.


"Iyaa, ayah baik-baik saja." Jawab ayah dengan suara serak.


Sepertinya aku salah telah bertanya kepada ayah mengenai hal itu. Pada umumnya nona bangsawan tidak akan berlatih pedang meskipun mereka berasal dari bangsawan dengan latar belakang militer.


"Kalau Aurel mau, ayah akan carikan guru terbaik untukmu." Ujar ayah dengan tersenyum padaku.


"Benarkah ayah???" Tanyaku kembali.


"Kalau itu yang Aurel mau, ayah akan kabulkan. Dengan syarat ayah akan mengirimkan krim tangan dan sarung tangan yang wajib digunakan." Ucap ayah menegaskan.


"Baik ayah, Aurel setuju." Jawabku begitu senang.


Sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa ayah akan menyetujui hal ini. Kupikir ayah akan menolak mentah-mentah permintaanku ini. Aku merasa senang dapat berlatih pedang. Kedepannya kemampuan ini akan kugunakan untuk mengokohkan posisiku sebagai nona keluarga Lawrence.


"Aurel ingin memulai kelas kapan?" Tanya ayah padaku.


"Aurel mengikuti ayah saja." Jawabku sambil tertawa kecil.


"Bagaimana dengan minggu depan?" Tawar ayah padaku.


"Boleh yaaa, Aurel setuju." Jawabku sambil mengacungkan ibu jari.


.


.


.


.


Seharian ini aku begitu sibuk, akhirnya dapat berbaring ditempat tidur. Sepanjang hari ini aku tidak bertemu kakek. Apakah kakek sedang sibuk? Kalau mendengar dari gosip para pelayan, sebentar lagi akan ada kunjungan istana ke kediaman Lawrence. Kira-kira ada apa anggota kekaisaran ingin datang kemari? Para pelayan menduga kunjungan tersebut adalah untuk pernikahan politik demi menguatkan posisi salah satu pangeran, tapi menurutku bukan itu. Mungkin anggota istana ingin berterima kasih karena peristiwa beberapa saat yang lalu, itu lebih masuk akal.


"Pasti berat tinggal di istana." Gumamku karena kasihan setelah mengingat peristiwa pangeran pertama yang diracuni.


"Apakah untuk mendapatkan kursi kaisar perlu melakukan hal sejahat itu?" Tanyaku pada diriku sendiri.


Kalau membayangkan hal yang terjadi di kehidupanku yang lalu, semua jadi masuk akal. Faktanya tidak ada yang bersih di kekaisaran ini. Kekaisaran ini mirip kubangan lumpur, siapapun yang masuk pasti akan terkena lumpur itu.


Kuharap dengan aurora yang kumiliki dapat merubah sedikit kekaisaran ini di masa depan. Mungkin tidak akan merubah banyak hal, tapi perubahan kecil akan sangat berarti.

__ADS_1


"Semoga semuanya menjadi semakin baik." Ucapku sebelum tertidur lelap.


__ADS_2