
“Sayang, jepit rambut itu cocok sekali untukmu.” Ucapku terpesona dengan gadis berambut coklat dihadapanku.
“Benarkah? Aku juga menyukainya.” Sahut gadis itu dengan pandangan terus tertuju pada cermin dihadapannya.
“Sebegitunya kau menyukai merak?” Balasku seraya memeluknya dari belakang.
Wanita itu tertawa kecil, membuatku semakin mencintainya. Sepertinya aku bisa jatuh cinta pada setiap hal yang dia lakukan.
“Apakah aku cantik mengenakan ini, Guatam?” Tanya gadis itu.
“Kau selalu cantik.” Jawabku dengan terus memeluknya dari belakang, sesekali menempelkan wajahku di pundaknya.
“Bagiku merak adalah hewan yang cantik, entahlah aku suka melihat dan memperhatikan mereka.” Jelasnya, lalu membalikkan badan untuk memelukku balik.
.
.
Mendengar apa yang Aurel ucapkan membuatku teringat kepadamu Chloe. Kini aku sangat merindukan dirimu. Andai kau bisa melihat cucu kita tumbuh, kau pasti akan sangat bahagia bermain bersamanya.
.
.
.
Usai berlatih, sore itu kakek mengajakku ke suatu tempat yang asing bagiku. Kereta kami berhenti, kini dihadapan kami terdapat sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Rumah itu tidak terlalu besar, tergolong sangat sederhana dan sepertinya hanya ditempati satu orang saja. Dari dalam terdengar suara orang yang sedang menempah logam.
Ting…Ting..Ting..
Disamping pintu masuk terdapat rak berisi berbagai pedang dengan berbagai ukuran. Kakek duduk dengan santai di kursi kayu yang berada di depan rumah itu tanpa memanggil sang pemilik rumah. Aku yang bingung hanya dapat mengikuti apa yang kakek lakukan. Aku berpikir bahwa kita sedang berada dirumah sang pengukir handal yang diucapkan kakek. Kini aku mulai penasaran seperti apa penampilan orang itu. Aku membayangkan bahwa ia adalah seorang pria berusia kurang lebih seperti kakek atau mungkin jauh lebih tua. Karena sepertinya orang tersebut cukup tua dan memiliki banyak sekali pengalaman, sehingga kakek begitu mempercayainya.
Beberapa saat menunggu akhirnya keluar seseorang dari dalam rumah itu. Ekspresi terkejut karena orang tersebut tak seperti yang kubayangkan. Dari dalam rumah itu keluar seorang wanita dengan rambut ikal terikat. Usianya sekitar 30an, dia sepertinya seusia ayahku. Wajahnya begitu cantik dan terkesan begitu ramah.
“Hai nona Lawrence, ada cantik sekali seperti apa yang kudengar.” Sapa wanita itu ketika melihatku yang masih berekspresi terkejut.
Wanita itu tertawa melihat ekspresiku, entah apa yang ada dipikirannya. Kakek yang berada di sampingku hanya bisa tersenyum melihatku.
“Nona ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu.
__ADS_1
“Tolong ukirkan merak di pedang cucuku.” Ucap kakek pada wanita itu yang dibalas dengan sebuah anggukkan.
“Tolong buatkan sebuah merak dibagian ini.” Jelasku seraya menunjuk posisi ukiran yang kuinginkan di pendang itu.
Wanita itu mengerti dan membawa masuk pedang milikku itu. Ketika ia masuk, aku menatap kakek bingung. Berharap kakek memberikan sebuah penjelasan. Kakek yang menangkap isyaratku itu, mulai menjelaskan padaku.
“Namanya Hailey, ia berusia 36. Terlahir dari keluarga dengan latar belakang ilmu bertarung, membuatnya tak asing dengan segala senjata.” Jelas kakek padaku.
“Ohh, wanita tadi adalah seorang nona bangsawan? Kenapa dia tinggal disini?” Tanyaku bingung.
“Ini adalah tempat kerja saya, ketika malam saya akan kembali ke kediaman keluarga saya.” Sahut wanita tadi yang mendengar perbincangan aku dan kakek.
“Maaf atas ketidaksopanan saya, seharusnya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Hailey Gudytha, saya adalah anak ke 3 keluarga Gudytha.” Sambung wanita itu.
“Ohhh, perkenalkan nama saya Aurel Lawrence.” Balasku dengan sopan.
“Keluarga Gudytha adalah bangsawan yang bertugas menjaga barat.” Jelas kakek padaku.
“Keluarga saya sudah mengabdi untuk daerah ini sejak awal pembagian wilayah. Apakah nona tahu keluarga kita sangat dekat?” Ujar wanita itu begitu ramah.
“Apakah benar kakek?” Tanyaku kepada kakek dengan penuh tanda tanya.
Aku cukup terkejut mendengar ucapan kakek. Di kehidupanku sebelumnya, ketika kematian kakek aku tidak pernah mendengar tentang kepala keluarga Gudytha. Di dalam buku yang aku baca dulu, dituliskan bahwa daerah barat mengalami penyerangan oleh musuh. Demi mempertahankan daerah barat ada bangsawan yang mengorbankan diri demi keselamatan banyak orang. Sosok yang dilukiskan adalah seorang pria dengan tubuh kekar, rambut merah menyala, dan pedang besar yang selalu ia bawa di punggungnya.
“Mungkin jika ayahku bertemu dengan nona, ia akan sangat senang.” Ucap wanita itu dengan senyum lepas yang begitu menawan.
“Kenapa?” Tanyaku bingung.
“Karena ayahku penasaran dengan nona keluarga Lawrence yang mampu menggemparkan kekaisaran.” Jawabnya dengan mata menatapku dalam.
.
.
.
Kini langit mulai gelap, kami sudah dalam perjalanan dekat dengan kediaman Lawrence. Setelah bertemu dengan nona keluarga Gudytha, aku mulai tertarik dengan daerah barat dan keluarganya. Aku kira setelah melewati kehidupanku sebelumnya, aku berpikir semuanya akan terasa sama. Ternyata masih banyak hal yang tidak aku ketahui bahkan lewatkan.
“Aurel ada apa? Apa yang kau pikirkan cucuku?” Tanya kakek karena melihatku melamun sepanjang perjalanan.
__ADS_1
“Tidak, Aurel hanya penasaran dengan keluarga Gudytha.” Sahutku dengan pandangan terus tertuju ke jendela.
“Dahulu kakek dan kepala keluarga Gudytha merupakan siswa dari akademi kekaisaran. Kami adalah teman seangkatan. Kepala keluarga Gudytha Saat itu mengambil kelas ilmu pedang, sedangkan kakek mengambil kelas aurora. Pertemuan pertama kali kami adalah ketika kompetisi tahunan akademi kekaisaran di final. Bagi kakek, ia adalah lawan yang seimbang untuk kakek. Kepribadiannya yang santai membuat pertarungan tersebut seperti latihan antar siswa.” Jelas kakek padaku.
“Ohh begitu…. kapan teakhir kali kakek bertemu?” Tanyaku kembali.
“Mungkin sekitar 1 tahun yang lalu, ketika pertemuan para bangsawan.” Ucap kakek padaku.
“Bagaimana kalau kita mengunjungi keluarga Gudytha? Kakek tentu ingin bertemu dengan sahabat kakek.” Ujarku bersemangat.
“Nanti kita akan bertemu dengan keluarga Gudytha. Bahkan Aurel akan terkejut lagi jika mengetahui sesuatu.” Ucap kakek menertawakanku.
.
.
.
“Pangeran semuanya sudah siap.” Ucap seorang pengawal yang masuk ke dalam ruanganku.
“Baik, saya akan turun. Kau boleh keluar.” Jawabku pada pengawal itu, lalu memintanya keluar.
Dari balik jendela, muncul pasukan bayanganku. “Apa ada informasi yang kau dapatkan?” Tanyaku kepada mereka.
“Nona Aurel sudah berangkat ke daerah barat dari kemarin dan beberapa saat yang lalu ia mengunjungi nona Gudytha.” Jawab salah seorang pasukan bayangan.
“Ohh Gudytha? Sepertinya dunia ini sangat baik dan berpihak padaku.” Sahutku dengan tawa kecil.
“Apa yang ia lakukan disana?” Tanyaku pada mereka.
“Nona Aurel ingin membuat sebuah ukiran di pedang miliknya.” Jawab salah seorang pasukan bayangan lainnya.
“Ohh begitu, apakah kepala keluarga Lawrence bersamanya ketika mengunjungi nona Gudytha? Atau dia pergi seorang diri?” Tanyaku kembali.
“Ia bersama dengan kepala keluarga Lawrence.” Jawab anggota pasukan bayangan tadi.
“Mungkin dia kesana karena saran dari kakeknya.” Ujarku mengerti.
“Kalian boleh pergi, terima kasih informasinya.” Sambungku meminta mereka pergi.
__ADS_1
Aku beranjak meninggalkan ruangan untuk pergi menuju daera barat. “Aurel aku akan segera menemuimu.” Gumamku dalam perjalanan.