
Setelah seharian melakukan perjalanan, akhirnya sampai ke perbatasan daerah barat dengan tengah. Kini udara mulai terasa dingin, pemandangan di tepi jalan dipenuhi berbagai pohon yang dipenuhi bunga. Kakek memintaku untuk mengenakan mantel buluku. “Aurel segera kenakan mantelmu, udara disini mulai dingin.” Ucap kakek memberikan mantel bulu berwarna merah muda padaku.
Beberapa saat berlalu, kami telah memasuki jalanan yang berada di tengah daerah barat. “Berhenti.” Ucap kakek dari dalam kereta, yang membuat kereta seketika berhenti.
Kakek beranjak turun dan meninggalkan kereta, diikuti seorang pengawal dibelakangnya. Pengawal lainnya menutup kembali kereta, tanpa memberitahukan kemana kakek pergi. Aku berusaha mencari keberadaan kakek dari jendela. Namun, kakek tidak terlihat dimanapun. Kuputuskan untuk menunggu kakek hingga tak sengaja tertidur beberapa saat.
Beberapa saat berlalu hingga pintu kereta kuda terbuka kembali. Kakek kembali ke kereta dengan beberapa kotak berwarna putih di tangannya. “Aurel ini untukmu.” Ucap kakek menyerahkan kotak yang berada ditangannya.
Kubuka kotak itu, terdapat berbagai manisan manisan di dalamnya. Aku mengambil satu buah manisan dari salah satu kotak yang ada. Ketika kucoba, manisan itu seakan meleleh di dalam mulutku. Sensasi manis buah yang segar seperti menari-nari dalam mulutku. “Enak sekali…” Gumamku begitu senang.
Kakek tersenyum melihat ekspresiku ketika mencoba manisan itu. “Nanti ketika akan kembali ke daerah tengah, kita akan beli agar Aurel bisa menikmati di rumah.” Ucap kakek seraya mengusap kepalaku.
Kereta kembali berjalan, kami akan segera menuju ke kediaman Lawrence yang ada disini. Kata kakek sudah 2 tahun sejak kakek terakhir kali tinggal di sana, setelah itu kediaman itu hanya dirawat oleh para pelayan dan orang kepercayaan kakek.
Tak lama waktu berlalu, terlihat sebuah bangunan yang cukup besar berada tidak jauh dari kami. Bangunan berbentuk klasik modern dengan corak biru di beberapa bagian. Gerbang di depannya tidak kalah dengan kediaman keluarga Lawrence yang berada di daerah tengah.
“Aurel, kita akan segera sampai.” Ucpa kakek ketika kami sudah mendekati gerbang masuk.
Pintu gerbang terbuka, para pengawal yang berada digerbang memberi hormat ketika kereta kami melewati mereka. Kereta berhenti dan pintu kereta mulai terbuka. Kakek menggendongku turun dari kereta. Para pelayan sudah berdiri menyambut kedatangan kami. Para pelayan mulai menurunkan koper-koper dari kereta. Nampak Ishana juga mulai turun.
“Ishana…” Panggilku ketika melihat sosok Ishana turun dari kereta.
“Hai nona, bagaimana perasaan anda setelah sampai?” Tanya Ishana ketika bertemu denganmu.
__ADS_1
“Aurel sangat senang.” Ucapku bersemangat.
Kakek menurunkanku dari gendongannya. Kemudian Ishana menggandengku masuk menuju kamarku dengan arahan dari pelayan disana. Sepanjang perjalanan menuju kamar, pandanganku tertuju pada lukisan yang ada di sepanjang lorong kediaman itu.
“Nona ini adalah lukisan para kepala keluarga Lawrence dari generasi pertama hingga sekarang.” Ucap pelayan yang menemaniku dan Ishana.
“Ohh, begitu.” Balasku mengerti.
Kemudian kami melanjutkan kembali perjalanan hingga tiba di kamarku. Desain kamar yang ku tempati saat ini tidak kalah indah dengan kamarku yang ada di kediaman lawrence di daerah tengah, yang membedakan adalah pemandangan dari balkon kamar yang menghadap ke arah matahari terbenam.
“Wahh, sepertinya aku bisa melihat senja setiap hari.” Ucapku menatap balkon yang berada di hadapanku.
Ishana memeriksa setiap sudut kamar agar mempermudahnya ketika membantuku merapikan barang nanti. “Tempat penyimpanan disini cukup banyak, mungkin saya akan merapikan barang nona setelah ini.” Ujar Ishana dengan asik membuka lemari dan laci-laci yang ada disana.
“Ohh baik.” Balasku mengerti.
Setelah menjelaskan segala yang diperlukan, pelayan itu meninggalkan ruangan. Barang-barangku telah sampai di kamarku dengan bantuan para pelayan. Ishana mulai merapikan barang-barangku dan memintaku untuk berkeliling di sekitar kediaman ini supaya tidak bosan menunggunya.
Setelah berkeliling beberapa saat, akhirnya kuputuskan untuk bertemu kakek yang sedang bersantai di ruang baca.
“Kakek..” Sapaku ketika melihat kakek sedang duduk membaca sebuah buku.
“Ohh Aurel, ada apa cucuku?” Tanya kakek menatap kedatanganku.
__ADS_1
“Aurel bingung ingin melakukan apa. Kakek sedang apa?” Sahutku penasaran.
“Ohh kakek sedang membaca buku terkait politik kekaisaran.” Jelas kakek kepadaku.
“Sosial politik kekaisaran?” Tanyaku yang mulai tertarik dengan topik yang dijelaskan.
“Iyaa, di kekaisaran ini setiap generasi memiliki kondisi sosial politik masing-masing. Kondisi politik ini berdasarkan pada calon penerus tahta yang ada. Istilah sosial politik terdiri dari dua kata, yaitu sosiologi dan politik. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat, kelompok – kelompok sosial, dan tingkah laku individu baik individual maupun kolektif dalam konteks sosial. Politik adalah ilmu yang mempelajari kekuasaan sebagai konsep inti. Maka sosial politik adalah kondisi terkait dengan kekuasaan, pemerintahan, dan otoritas yang berkaitan erat dengan para bangsawan dan rakyat.” Jelas kakek padaku.
“Ohh begitu ya kakek?” Tanyaku mulai mengerti.
“Pada saat ini sosial politik di kekaisaran sedang terbagi tiga. Para bangsawan pengikut keluarga ratu akan mendukung pangeran kedua. Kubu lainnya mendukung pangeran pertama berdasarkan pengamatan mereka, dan kubu lainnya memilih netral. Keluarga Lawrence merupakan keluarga yang selalu menempatkan diri dalam posisi netral. Mungkin setelah ini keluarga Lawrence harus memilih salah satu pangeran.” Ucap kakek dengan menghembuskan nafas berat.
“Kenapa kakek?” Tanyaku bingung.
“Karena kaisar ingin mengangkat cucu kesayanganku untuk mendampingi salah satu pangeran.” Jawab kakek dengan nada berat dan menatapku sedih.
“Apakah itu aku, kakek?” Tanyaku dengan pandangan terus terarah ke kakek.
Kakek menatapku sendu, ia berpikir apakah ini waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya. Kakek hanya terdiam mendengar pertanyaanku tanpa menjawab dan menjelaskan apapun. Mungkin dalam hati kecilnya masih banyak sekali hal yang diperlukan untuk menyetujui usulan kaisar. Kakek tentu juga memikirkan perasaan ayah yang mungkin akan berat melepaskanku. Menjadi pendamping pangeran memiliki banyak sekali resiko. Sedikit saja kesalahan akan dapat berakibat fatal untuk aku dan pangeran yang akan aku dampingi.
Berdasarkan buku yang telah aku baca terkait sejarah anggota keluarga kaisar, sering kali kutemui kasus kematian dan pengasingan para ratu dan pendamping pangeran. Kakek dan ayah tentu mengkhawatirkan aku dan takut terjadi sesuatu yang buruk ketika aku masuk ke dalam lingkup keluarga kekaisaran. Aku percaya kakek dan ayah akan melakukan segala hal untuk melindungiku ketika aku benar-benar masuk kedalam istana. Mereka berdua tidak akan pernah melepaskanku begitu saja.
“Aurel, tenang dan percayalah kakek dan ayahmu akan melindungimu sampai kapanpun.” Ucap kakek dengan tersenyum tulus padaku.
__ADS_1
“Iyaa kakek. Aurel juga akan berusaha menjadi lebih kuat agar bisa melindungi diriku sendiri.” Jawabku meyakinkan kakek.