Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 6. Pangeran Pertama Diracuni?!?


__ADS_3

"Aurel ayo masuk." Ucap kakek mengandeng tanganku


Hari ini adalah perayaan musim panen kekaisaran. Perwakilan keluarga Lawrence yang akan menghadiri perayaan tersebut adalah kakek selaku kepala keluarga dan juga diriku yang diminta menemaninya.


Perayaan musim panen ada perayaan tahunan yang diadakan kekaisaran. Ayah selaku pemimpin pasukan elit kekaisaran datang sebagai perwakilan militer. Tidak hanya ayah, dalam perayaan ini aku juga melihat paman Eric. Paman datang karena undangan dari permaisuri. Sama dengan masa laluku, paman Eric adalah sekutu permaisuri. Sama halnya dengan putranya Patrick, yang merupakan sekutu pangeran kedua.


"Tuan Lawrence, bagaimana kabar anda? Lama tak jumpa." Ucap seorang bangsawan kepada kakek.


Dengan rambut hijau dan kedua mata berwarna kuning, hanya dalam sekali lihat aku bisa tahu bahwa dia adalah kepala keluarga Smith. Smith merupakan kerabat jauh Lawrence di daerah utara.


Daerah utara terkenal dengan wilayah penghasil bulu hewan terbaik. Wilayah tersebut merupakan kawasan daerah dingin, sehingga tidak heran mereka mampu menghasilkan bulu terbaik yang sangat terkenal di seluruh dunia.


"Ohh, Edward Smith. Kabarku baik bagaimana denganmu?" Tanya kakek kembali.


Edward Smith merupakan orang yang cukup terkenal di kekaisaran ini. Dia mampu menstabilkan daerah yang sebelumnya tidak mampu menghasilkan apapun dan tidak diharapkan banyak kekaisaran. Kini wilayah utara menyumbang 30% keuntungan kekaisaran. Di Masa depan daerah itu akan menghasil makanan yang sangat terkenal dengan bahan dasar buah dril, buah manis yang hanya tumbuh di daerah dingin.


"Hahaha, saya juga baik. Apakah gadis kecil ini merupakan cucu anda?" Ujar paman Edward dengan penasaran.


"Iya benar, Aurel ayo perkenalkan dirimu." sahut kakek memintaku memperkenalkan diri.


Dengan menggunakan etika bangsawan yang ku pelajaran di tahun-tahun akhir hidupku dan dari tuan Roland pada pertemuan kedua, kini aku sangat sempurna untuk disebut keturunan Lawrence.


"Perkenalkan nama saya Aurelia Lawrence, salam untuk tuan Edward Smith dari daerah utara." Ucapku memperkenalkan diri.


"Astaga berapa umurmu, etikamu begitu sempurna." Sahut tuan Edward terkagum.


"Terimakasih atas pujian anda tuan." Jawabku tersipu malu.


"Hahaha, dia adalah cucu kesayanganku yang jenius." Ujar kakek membanggakan diriku.


"Saya setuju tuan Lawrence, cucumu ini memiliki pengetahuan yang luas. Dia dapat mengenali saya yang berasal dari utara hanya dengan sekali pertemuan." Balas tuan Edward.

__ADS_1


"Apa yang kamu ketahui tentang daerah utara, Aurel?" Tanya tuan Edward penasaran.


"Daerah utara merupakan daerah dengan iklim dingin yang lebih panjang dari daerah manapun. Daerah tersebut selalu mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat di daerah tersebut. Tetapi daerah utara merupakan penghasil bulu binatang terbaik, dimana setiap musim dingin tiba akan ada ekspor besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan pakaian daerah-daerah lain." Jelasku pada kakek dan tuan Edward.


"Hahahaha, luar biasa. Aku menemukan kepribadian Lawrence dalam gadis ini." Balas tuan Edward sambil menepuk pundak kakek.


"Benar perkataanmu, aku akan memberikan kelas tambahan jika Aurel menginginkannya." Ucap kakek menggendongku dengan bangga.


Aku, kakek dan tuan Edward melakukan perbincangan yang cukup lama hingga acara perayaan dimulai. Perayaan dimulai dengan kedatangan kaisar dan keluarga kerajaan yang lain.


"Kaisar, permaisuri, pangeran pertama dan pangeran kedua akan memasuki ruangan. Seluruh hadirin harap memberikan hormat." Ucap pengawal diambang pintu masuk.


Kaisar memasuki ruangan terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan permaisuri. Setelahnya pangeran pertama dan kedua masuk bersama-sama. Para pangeran masuk bersama untuk menunjukkan bahwa kedudukan mereka setara, karena belum ada pemilihan untuk putra mahkota kekaisaran saat ini.


"Terimakasih atas kehadiran kalian, para hadirin dapat menikmati perayaan ini." Ucap kaisar sambil mengangkat segelas anggur, diikuti semua bangsawan di ruangan tersebut.


Segalanya berjalan baik-baik saja, yang membuatmu kebingungan. Sejauh yang aku lihat tidak ada sesuatu yang aneh disekitar pangeran pertama. Apakah terjadi perubahan pada peristiwa tersebut pada kehidupanku yang sekarang? Meskipun di masa lalu aku tidak pernah menghadiri perayaan ini dan hanya mendengar kejadian tersebut berdasarkan ucapan para pelayan di istana. Sejauh pengamatanku sekarang, tidak ada orang mencurigakan di sekitar pangeran pertama. Pangeran pertama hanya berbicara dengan para petinggi kerajaan. Namun peristiwa tersebut terjadi.


Brakk!!


Para pengawal segera mengangkat pangeran menuju kamar, diikuti para pelayan di belakangnya. Kaisar bergegas meminta pelayan untuk memanggil pendeta dari aula putih, berharap dapat menyelamatkan nyawa pangeran pertama dengan aurora cahaya yang mereka miliki.


Kakek membantu kaisar dalam menenangkan ruangan situasi saat itu. Ayah menugaskan para pasukan elit untuk mencari orang yang meracuni pangeran pertama.


Waktu berjalan beberapa saat, hingga kondisi sudah mulai kondusif. Hingga kakek memutuskan untuk menemui kaisar yang sedang menunggu pangeran pertama.


"Kakek, Aurel mau ikut." Ucapku sambil mengulurkan tangan berharap kakek menggendongku.


"Aurel mau ikut? Baik sini kakek gendong." Balas kakek sambil menggendongku.


Kami berjalan menuju kamar tempat pangeran pertama diobati oleh pendeta. Saat masuk ruangan terasa kepanikan yang dirasakan oleh kaisar, para pengawal, dan pendeta. Dalam ruangan sudah terdapat 3 pendeta terbaik aula putih yang berusaha mengeluarkan racun dalam tubuh pangeran pertama. Setelah berusaha sekian lama, tidak ada perubahan apapun.

__ADS_1


"Kakek Aurel ingin mencoba." Ucapku pada kakek yang didengar orang-orang dalam ruangan.


"Nona ini bukan waktunya bermain, kondisi pangeran sedang sangat kritis." Balas salah seorang pendeta.


"Aku mau mengobati pangeran kakek." Ujarku pada kakek yang membuatnya kebingungan.


"Apakah nona Lawrence mau mencobanya?" Tanya kaisar padaku.


"Iyaa mau." Jawabku sambil turun dari gendongan kakekku.


"Tapi kaisar, kondisi pang…" Ucap seorang pendeta tidak setuju.


"Tidak ada salahnya mencoba." Jawab kaisar atas ucapan pendeta tersebut.


Ku mulai menunjukkan aurora yang telah kubangunkan beberapa minggu sebelumnya. Di kehidupanku yang lalu, aku baru mengetahui auroraku setahun sebelum akan dieksekusi mati. Aurora cahaya yang begitu besar dan murni, sayang sekali aku tidak mengetahui sejak awal. Pada kehidupanku sekarang tak akan ku sia-sia kekuatan ini.


Wajah orang-orang di dalam ruangan begitu terkejut melihat gadis yang belum berusia 10 tahun ini, memiliki kekuatan yang begitu besar. Sekaligus wajah khawatir bila dengan kekuatan sebesar itu ternyata tetap tidak dapat membantu pangeran pertama.


Waktu berlalu begitu lama. Tak kunjung-kunjung ada perubahan pada pangeran pertama. Tubuhku yang lemah sudah hampir mencapai batas, entah racun seperti apa yang telah masuk dalam tubuh pangeran pertama. Tapi aku tidak boleh menyerah, pangeran pertama tolong bangunlah.


Semakin lama waktu berlalu, pandanganku mulai tidak jelas. Kepalaku begitu sakit dan tubuhku terasa tidak ada energi lagi. Aku telah mencapai batasku. Aku terjatuh lemah ke lantai, hal itu membuat kakek dan yang lain panik.


"Aurel apakah kau baik-baik saja? Ucap kakek khawatir.


"Cukup nona, kau telah mencapai batasmu." Ucap kaisar padaku.


"Nona akan berbahaya jika kau tetap memaksakan diri. Tubuhmu bisa hancur akibat ledakan aurora jika anda paksa terus." Ujar salah seorang pendeta.


Tapi bagaimana aku bisa menyerah? Aku perlu menyelamatkan pangeran pertama. Dengan tubuh yang begitu lemah, ku mulai kembali menyelamatkan pangeran pertama. Kekhawatiran yang sangat jelas terlihat dalam mata kakek. Tak begitu lama aku jatuh, kesadaranku perlahan menghilang. Apakah aku gagal kali ini?


"Aurel bangun nak." Teriak kakek yang masih terdengar olehku.

__ADS_1


Huk..Huk..Huk..


"Racun pangeran pertama berhasil keluar. Nona anda berhasil, tolong sadarlah nona. Nona, No.." Ucap pendeta sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang. Rasanya begitu lega aku berhasil melakukannya.


__ADS_2