Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB. 27 Keluarga Gudytha


__ADS_3

“Jadi anda adalah ibu yang mulia ratu sebelumnya?” Sahutku dengan terkejut.


“Iyaa, beliau adalah putri bungsuku.” Jawab nyonya Gudytha.


“Beliau pergi sekitar 10 tahun yang lalu. Beliau adalah gadis yang baik dan cantik. Ia membantu banyak orang di sekitarnya. Sikapnya yang ramah membuat banyak orang menyukainya. Suatu saat ia memimpin pertempuran dan memenangkannya, sehingga diundang ke istana untuk bertemu langsung dengan kaisar. Saat itulah momen dimana putriku bertemu dengan suaminya.” Sambung nyonya Gudytha dengan sedih.


“Kami tidak pernah menyangka bahwa melepasnya ke istana akan membuat kami kehilangannya untuk selamanya. Bagi kami, ia adalah permata yang sangat kami lindungi.” Jelas nona Gudytha padaku.


Seketika aku merasa bersalah telah membuat kedua orang dihadapanku merasa sedih. Sepertinya aku bertanya sesuatu di waktu yang salah. “Maaf karena membuat kalian sedih.” Ucapku merasa bersalah.


“Tidak apa nona, ini bukan salah anda.” Ucap nona Gudytha.


“Mendengar cerita anda yang telah menyebar di kekaisaran membuat saya teringat dengan putri bungsu saya. Bahkan ketika bertemu dengan anda secara langsung membuat saya merasa sedih. Seakan saya bertemu dengan putriku ketika kecil.” Sahut nyonya Gudytha dengan senyuman tulus.


Setelah beberapa saat menenangkan diri, akhirnya kami berjalan menuju taman belakang. Di taman tersebut terdapat sebuah meja bundar berwarna putih dengan berbagai kue di dalam. DI dekat meja terdapat beberapa pelayan yang siap melayani kami. Kami duduk, nyonya memerintahkan para pelayan untuk mengambil teh untuk kami.


Seorang pelayan datang dengan troli berisi berbagai macam teh. Harum teh tercium dari kejauhan, warna teh terlihat begitu cantik dan menawan.


“Daerah barat terkenal dengan berbagai macam teh yang berwarna-warni yang terbuat dari bunga dan berbagai daun.” Ucap nyonya Gudytha ketika seorang pelayan sedang menuangkan teh di cangkirnya.


“Iyaa, saya juga mendengar hal itu dari kakek.” Jawabku ketika melihat sebuah teh dengan warna ungu dan hijau.


Seorang pelayan lain meletakkan kue kering berbentuk berbagai jenis bunga. Kue kering itu berwarna warni dan terlihat begitu cantik. “Nona Lawrence cobalah ini, kau akan menyukainya.” Ucap nona Gudytha kepadaku.


Aku menatap kue kering itu, lalu mengambil 1 untukku. Ketika kue tersebut masuk kedalam masuk kedalam mulutku rasanya begitu renyah dan manis. Kupejamkan mataku untuk menikmati setiap komponen kue kering yang meleleh di mulutku.

__ADS_1


“Bagaimana? Nona menyukainya, kan?” Tanya nona Gudytha kembali.


Aku mengangguk dengan semangat, membuat nyonya dan nona Gudytha tersenyum senang dengan reaksiku. “Nona dahulu saya pernah bertemu dengan anda ketika anda berusia 1 tahun. Anda begitu Lemah dan pucat hingga membuat saya sedih melihat keadaan anda. Anda dilahirkan dalam keadaan prematur, anda terlahir dengan tubuh kecil dan lemah seakan orang lain akan mudah menyakiti anda. Saya dahulu khawatir bagaimana cara anda akan melindungi diri sendiri dengan tubuh yang lemah itu. Namun, diluar dugaan saya anda kini tumbuh menjadi gadis yang kuat dan cantik. Sekarang anda sudah semakin besar, saya tak menyangka bahwa gadis yang saya lihat kala itu akan menggemparkan kekaisaran ini dengan bakat yang ia miliki. Saya sangat bangga dengan anda.” Jelas nyonya Gudytha seraya menikmati teh yang terdapat di cangkirnya.


“Nona pernah melihat saya?” Tanyaku begitu terkejut.


"Iyaa, dulu kamu begitu kecil tak terasa sudah sebesar ini." Ucap nyonya Gudytha


“Iyaa, saya juga datang bersama suami saya untuk menghadiri upacara kepergian ibu nona.” Sambungnya.


“Apakah nona tahu? Ibu nona adalah wanita yang hebat. Meskipun ada beberapa orang yang tidak menyukainya karena latar belakang yang kurang jelas. Namun, ibu nona tetap berbuat baik pada semua orang. Karena itulah begitu banyak orang yang merasa kehilangan ibu nona.” Jelas nona Gudytha kepadaku.


"Saya juga mendengar kabar dari masyarakat luas seberapa hebat ibu nona. Kemampuan nona pasti berasal dari ibu dan ayah nona." Sambungnya kembali.


"Bahkan saya masih ingat bagaimana usaha ayah nona ketika berusaha mendekati ibu nona, itu benar-benar lucu." Ucap nona keluarga itu.


"Memang apa yang ayah lakukan?" Tanyaku penasaran.


"Ayahmu rela pergi ke daerah timur dan melakukan perjalanan sepanjang malam demi memberi hadiah bunga favorit ibumu di hari ulang tahunnya." Jawab nona Gudytha.


"Benarkah?" Ucapku terkejut.


"Iyaa, segalanya akan ayah nona lakukan demi ibu nona." Ucap nona Gudytha tertawa kecil mengingat peristiwa itu.


“Ketika ibu nona pergi, ayah nona terlihat begitu hancur. Bahkan saya tidak pernah melihat dirinya seterpuruk itu. Ayah nona seperti kehilangan mataharinya.” Ujar nyonya Gudytha mengingat kejadian kala itu.

__ADS_1


"Sejak saat itu keluarga Lawrence mulai tertutup. Kakek nona tidak ingin ayah nona merasa terusik sedikitpun." Jelas nona Gudytha agar aku mengerti.


Aku mendengarnya begitu sedih. Didalam diriku terdapat perasaan bersalah. Karena demi melahirkan aku, ibu harus kehilangan nyawanya. Karena kelahiranku juga, ayah harus kehilangan wanita yang paling ia cintai.


Nyonya dan nona Gudytha menatapku sedih, mereka tidak tega melihatku murung seperti itu. “Tetapi nona, melahirkan anda adalah hal yang paling membahagiakan untuk ibu anda.” Ujar nona Gudytha ketika melihatku termenung.


“Iyaa, itu benar. Ketika mengandung anda, ibu anda begitu bahagia dan menyayangi anda yang masih berada di perutnya. Ibu anda selalu berbuat baik dan membagikan barang yang membuat banyak orang juga mencintai anda. Ibu anda selalu terlihat bahagia ketika anda mulai menendang perutnya. Ibu anda berharap besar bahwa anda akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan kuat. Kini apa yang diucapkan ibu anda menjadi kenyataan. Dihadapanku berdiri seorang nona keluarga Lawrence yang memiliki bakat yang luar biasa.” Ujar nyonya Gudytha dengan bangga.


“Mungkin anda cocok menemani keponakanku.” Goda nona Gudytha dengan tawa bahagia.


“Pangeran pertama?” Tanyaku bingung.


“Iyaa, saya dengar anda mendapat surat dari kaisar, bukan?” Tanya nyonya Gudytha kembali.


“Iyaa, dari mana nyonya tahu?” Tanyaku penasaran.


“Saya meletakkan orang kepercayaan saya disekitar pangeran pertama dan yang mulia kaisar.” Jawab nyonya Gudytha padaku.


“Ohh begitu? Itu alasan anda tenang ketika pangeran berada di istana?” Tanyaku pada nyonya Gudytha.


“Tentu, saya tidak percaya dengan janji ratu yang sekarang bahwa ia akan merawat cucuku.” Jawab nyonya Gudytha dengan menghembuskan nafas berat.


Kini aku mulai mengerti dan mengenal keluarga Gudytha dengan cukup baik. Pantas kakek sangat bahagia bertemu dengan mereka. Mereka adalah bangsawan yang baik dan ramah pada semua orang.


Kami bersenda gurau bersama hingga muncul sosok yang tak asing bagiku. "Aurell.." Sapa sosok itu.

__ADS_1


__ADS_2